
Mereka tampak bersyukur dengan hasil yang mereka dapatkan. Setelah merasa puas, mereka akhirnya pulang ke rumah masing-masing.
Hana dan Hasan merasa bingung karena kondisi jalanan dan sekolahan masih ramai. Mereka tidak dapat pulang berdua.
Hana akhirnya memilih untuk pulang bersama Mamahnya. Dan Hasan pulang sendiri ke rumahnya.
Hana masih tersenyum sambil mendekap raportnya. Mamahnya sesekali meliriknya sambil menyetir.
"Kamu seneng banget yah?" tanya Bu Darma ikut tersenyum.
"Iya, Mah! Aku gak nyangka aja ternyata, saingan berat aku ternyata Hasan!" jawab Hana terkekeh.
"Iya, kalian seimbang. Tapi kamu gak iri kan sama, Leo?"
"Nggak lah, Mah! Hana udah cukup menikmati hasilnya koq,"
"Iya lagian ngapain harus iri. Kalian berdua kan udah jadi suami istri, mau siapapun yang lebih pintar itu sama aja,"
Saat asyik mengobrol hape Bu Darma berdering.
"Tolong liatin siapa yang telepon, Cer!" tanya Bu Darma.
Hana mengambil hape Bu Darma dari dasbor dan melihatnya.
"Papah, Mah!"
"Angkat langsung dong!"
"Hallo ... Mamah ada, Alhamdulillah, Hana rangking dua, Pah ... Iya, makasih, Pah ... Ngomong-ngomong ada apa, Pah? Mamah lagi nyetir ini ... Oh, oh, iya, iya, oke, bye!"
Pak Darmawan mengakhiri teleponnya.
"Papah bilang apa, Cer?" tanya Bu Darma masih fokus ke jalan.
"Mamah, disuruh Papah, ke kantor sekarang. Katanya ada pertemuan penting sama klien baru. Dan klien Papah ini datang sama istrinya, jadi Mamah, harus stay di sana," tutur Hana menjelaskan kepada Bu Darma.
"Oh gitu. Tapi, ini masih jauh loh! Kamu gimana pulangnya?" tanya Bu Darma melirik Hana.
"Em, Hana bisa naik angkot atau taxi, Mah! Berhenti di depan aja deh. Di supermarket itu, Mah, Hana mau beli air minum sama cemilan,"
"Ya udah, Mamah berhenti di sana. Tapi, kamu nanti langsung pulang loh, jangan mampir kemana-mana dulu. Terus, nanti suruh Leo, buat jemput kamu, oke!"
"Iya, Mah!"
Bu Darma kemudian menepikan mobilnya di depan supermarket.
"Mah, raportnya Hana tinggal di sini aja yah!" ucap Hana sebelum turun dari mobil.
"Iya, kamu hati-hati yah,"
"Mamah juga yah,"
Hana turu dari dalam mobil dan melambaikan tangannya kepada Bu Darma, yang kini sudah berbalik menuju kantor.
Hana kemudian berjalan di halaman parkir supermarket tersebut. Suara deruman motor kemudian berhenti di depan Hana.
__ADS_1
Hana berhenti sebentar lalu melewati pengendara tersebut yang masih duduk di atas motor.
Baru saja berjalan satu langkah, tangan Hana diraih oleh pengendara motor tersebut. Hana akhirnya berhenti dan menengok ke arah di pengendara.
Pengendara motor tersebut membuka helmnya lalu tersenyum kepada Hana.
Hana membulatkan matanya melihat wajah sang pengendara. "Raja!"
"Hay, kaget ya?" tanya Raja sambil tersenyum.
"Ngapain kamu di sini?" Hana celingukan, yang diikuti oleh Raja.
"Eh, kamu ngikutin aku, ya?" tanya Hana lagi.
"Em, bisa dibilang begitu sih. Tapi ...."
"Rese emang yah kamu!" Hana memukul lengan Raja.
Untung saja, Bu Darma sudah berbelok sedari tadi. Jika tidak mungkin Hana akan kena semprot lagi.
"Aku pengin main ke rumah kamu. Tadinya pengin jemput kamu di sekolah, tapi aku lihat kamu masuk mobil sama mamah kamu, jadi aku urungkan deh," tutur Raja.
"Emangnya kamu mau ngapain di rumah aku?"
"Ih, koq nanyanya begitu sih. Ya main lah! Emang mau apa? Pertanyaan kamu aneh banget tau!" jawab Raja sambil melipat tangannya di dada.
Hana tak habis pikir dengan sikap Raja. Ia memutuskan untuk masuk ke dalam supermarket.
Raja mengikuti langkah Hana dari belakang.
"Han, gimana hasil ulangannya, kamu naik kelas kan?" tanya Raja dari belakang.
"Alhamdulillah. Kamu lulus gak?" tanya Hana sambil memilah Snack yang ia sukai.
"Alhamdulillah, lulus. Em, Hana, aku mau ngasih sesuatu buat kamu," ucap Raja dengan hati-hati.
Hana berhenti kemudian berbalik badan menatap Raja. "Mau ngasih apa? Hadiah kenaikan kelas?"
"Umm, yah sepertinya begitu. Tapi tunggu, kamu dapet peringkat berapa?"
"Emang penting?"
"Iya lah, buat tolak ukur hadiahnya,"
"Ah, gak usah ngasih aku apa-apa. Hadiahnya buat kamu aja," jawab Hana berbalik badan lagi dan melanjutkan membeli roti dan air mineral.
"Koq gitu sih! Aku beneran mau ngasih sesuatu sama kamu,"
"Ya udah kalo mau ngasih, ngasih aja. Jangan banyak pertimbangan," tutur Hana sambil membayar di kasir.
Raja menggaruk kepalanya. Hana selesai membayar dan keluar, lalu duduk di bangku yang sudah disediakan di teras supermarket.
Raja mengikutinya dari belakang, dan duduk di samping Hana. Hana membuka botol minumnya lalu meneguknya. Raja memperhatikannya dengan khidmat.
"Ternyata di lihat dari jarak yang dekat, kamu cantik dan manis banget ya, Han!" ucap Raja dalam hatinya.
__ADS_1
Raja mengambil hape dan memfoto Hana yang tengah meneguk air mineral tanpa sepengetahuan Hana.
Raja puas dengan hasil jepretannya kali ini. Ia kembali memasukan hapenya ke dalam saku jaketnya.
Hana membuka satu snacknya dan mulai mengambilnya satu per satu.
"Mau nggak, Ja?" tanya Hana menawari.
Hana meletakan snacknya di tengah-tengah.
Raja tersenyum lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah.
"Ini buat kamu!" ucap Raja sambil menyodorkan kotak di depan wajah Hana.
Hana yang sedang menguyah kemudian berhenti dan memandang Raja. Raja tersenyum dan melirik kotak tersebut sebagai isyarat agar Hana mengambilnya.
Hana kemudian mengambil kotak itu dari tangan Raja.
"Boleh aku buka sekarang?" tanya Hana.
Raja mengangguk masih dengan senyumannya.
Hana perlahan membukanya. Ada secarik kertas yang dilipat kecil. Hana melirik Raja dengan tatapan curiga. Raja masih berekspresi sama.
Hana mengambil kertas tersebut dan membukanya, "Hana, saat kamu baca tulisan ini, itu artinya kamu harus kasih nomor hape kamu, atau kamu jadi pacar aku!"
Hana membulatkan mata ketika membaca tulisan yang berada di kertas itu.
Sementara Raja tertawa.
"Apa-apaan ini, Ja! Gak lucu tau!"
"Hahahaha!" Raja terkekeh sendiri sambil memegangi perutnya.
"Apanya yang lucu, Ja? Nih aku balikin hadiahnya!" Hana melipat kertas itu kembali dan memasukannya ke dalam kotak lalu melemparnya kepada Raja.
"Gak papa, aku terima koq. Tapi, kamu kan udah baca tulisan ini. Artinya, kamu harus ngasih nomor hape kamu, atau kamu jadi pacar aku. Kamu tinggal pilih salah satunya,"
"Hadiah apaan kayak gitu. Aku gak bakal milih keduanya. Aku mau pulang! Jangan ikutin aku!" seru Hana sambil membereskan jajannya.
Hana beranjak dari tempat duduknya. Raja pun mengejarnya.
"Idih marah. Hana tunggu, kamu harus pilih salah satu. Kalo kamu gak ngasih nomor hape kamu ke aku sekarang, artinya kita udah jadian sekarang. Oke, sekarang aku anterin kamu pulang ya, Sayang!" ucap Raja sambil memegang lengan Hana.
Hana menepis tangan Raja dengan kasar. "Kamu ngaco! Sampai kapanpun kita gak bakal pernah pacaran. Dan aku juga gak akan ngasih nomor hape aku buat kamu,"
"Ya udah terserah kamu aja. Kamu boleh gak anggep aku. Tapi, aku nganggep kamu koq,"
"Apaan sih. Kamu itu ternyata orang yang sangat nyebelin ya, Ja!" ucap Hana marah.
"Yah, aku begini adanya. Mohon dimaafkan yah," ucap Raja sambil tersenyum.
"Kamu gila, aneh! Udah pergi sana. Jangan muncul lagi di depan aku!"
"Aku gak muncul lagi di depan kamu, tapi, aku mau muncul di depan Mamah kamu aja,"
__ADS_1
Hana bertambah kesal ketika Raja mengucapkan kalimat itu. Mamahnya bisa marah besar. Dan rahasianya bisa saja terbongkar. Hana menyesal, kenapa ia harus bertemu dengan Raja kalau hanya menambah masalah.