Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
Syarat Untuk Hana


__ADS_3

Hana dan Hasan merasa pegal-pegal di seluruh tubuhnya. Setelah membersihkan badan, mereka berencana untuk pergi ke rumah Damar sambil mencari makan malam.


"Han, udah siap belom? Kita mampir cari makan dulu loh, jangan lama-lama dandannya!" seru Hasan dari ruang tamu.


"Iya, bentar!" teriak Hana dari dalam kamarnya.


Hasan memilih duduk di meja dapur sambil menikmati cemilan. Ia membuka hapenya ketika satu pesan masuk.


"Leo, kita perlu ketemu. Kapan kamu ada waktu?"


Sebuah pesan dari Rido, menginginkan dirinya untuk bertemu segera. Hasan tak mau berlama-lama. Ia kemudian menelpon Rido.


"Hallo, Do! Ada apa? Kamu udah sembuh? Syukurlah ... Ada perlu apa?"


"Kita perlu bicara, ini soal ...."


"Miki!" jawab Hasan dengan cepat.


"Yah, sepertinya kamu sudah tau masalah yang sebenarnya. Kapan kamu ada waktu menemui ku," tanya Rido dari seberang sana.


"Em, nanti aku kabari lagi, Do! Aku ada urusan sebentar," ucap Hasan kemudian memutus teleponnya ketika melihat Hana keluar dari kamar.


Rido merasa keheranan di rumahnya.


Hasan beranjak dari tempat duduknya dan tersenyum memandang Hana yang terlihat ayu.


"Kamu udah siap? Ayo kita berangkat!" ajak Hasan.


Hana tersenyum memandang Hasan yang begitu manis. Mereka keluar pintu bersama-sama. Hasan membukakan pintu mobil untuk Hana.


Mereka kemudian pergi meninggalkan rumah, dan mencari makan malam terlebih dahulu.


"Kita makan di resto atau cafe?" tanya Hasan sambil melirik Hana.


"Di pinggir jalan aja gimana?"


"Aduh, masa udah keren begini makan di pinggir jalan sih," ucap Hasan.


"Memangnya kenapa? Dari dulu juga suka makan di pinggir jalan,"


"Tapi aku kangen makanan cafe. Di luar negeri, hampir tiap hari aku makan ...."

__ADS_1


"Iya baiklah, kita ke cafe 99 aja. Di sana makanannya lumayan enak. Kamu suka kopi kan? Kopinya juga enak," tutur Hana.


"Beneran? Kalo gak enak, kamu bayar aku loh,"


"Iya tenang aja, lagian duitku kan kamu yang kasih. Gak rugi ini," jawab Hana sambil tersenyum.


"Aku gak minta dibayar pake uang. Aku mau yang lain," tutur Hasan.


Hana menatap Hasan curiga.


"Maksud yang lain itu apa? Kamu jangan aneh-aneh yah," jawab Hana memicingkan mata.


"Kamu kan istriku, sekalipun aku minta yang aneh, kamu harus tetep nurut,"


"Biarpun aku istri kamu, bukan berarti kamu bisa jadiin status aku buat dijadiin senjata kamu dong!"


"Senjata? Yang benar saja! Aku kan cuman ngingetin kamu aja. Kalo istri kan emang harus nurut sama suami. Kecuali kalo kamu nakal,"


"Nakal gimana maksud kamu? Aku selalu nurut, masih saja salah," jawab Hana cemberut.


Hasan tersenyum memandang Hana yang terlihat imut ketika cemberut.


Hasan menghela nafasnya dalam-dalam dia menyiapkan mentalnya untuk mengajukan syarat kepada Hana. Sebenarnya, syaratnya ini hanya nafsu syahwatnya saja yang terus berkeliaran di dalam pikirannya.


"Aku selalu nurutin kata kamu koq," ucap Hana dengan kesal.


"Oke, mulai sekarang, kalo kamu ketahuan pergi sama orang lain, tanpa ijin aku. Atau kamu gak nurut, kamu pergi diam-diam, sebagai gantinya, kamu cium aku!"


"Apaaaaaa!"


Hana membulatkan matanya, ia benar-benar kaget sampai-sampai bola matanya mau lepas dari tempatnya.


Hasan melirik Hana sekilas. Ia bersikap tenang dan mencoba untuk biasa saja meskipun sebenarnya dia gugup mengatakan hal itu.


"Kamu gila ya! Kalo ngomong disaring dulu. Jangan asal kasih syarat. Syarat apaan tuh. Menjijikan!" ucap Hana kesal dan juga sedikit grogi.


"Itu kan hal yang wajar. Kita suami istri, boleh saja kan berciuman. Aku sengaja bilang gitu kan biar kamu nurut juga. Biar kamu gak macem-macem di belakang aku,"


"Aku gak bisa!"


"Kalo kamu gak bisa, ya udah nurut aja! Dengerin perintah aku. Pokoknya kalo ketahuan, kamu harus nyium aku titik,"

__ADS_1


"Koq maksa sih! Gak ada permintaan lain yang lebih ekstrim apa? Selain berciuman!"


"Ada, kita bisa melakukan malam pertama, setiap kali kamu nglanggar!" jawab Hasan dengan berani memancing emosi Hana.


Hana reflek memukul lengan Hasan dengan kuat sehingga Hasan memekik kesakitan dan membanting setir ke kanan.


Bug


"Awww!"


Ciiiittt!


Hasan mengerem mobilnya kuat. Ia menatap Hana, yang kini tengah melihatnya dengan garang.


"Kamu apa-apaan sih, kita bisa celaka tau gak!" seru Hasan.


"Biarin celaka! Kamu jangan aneh-aneh deh kalo minta. Kamu lupa apa, kita ini masih sekolah. Dan satu hal lagi, kita gak mungkin nglakuin hal itu. Gak ada cinta diantara kita," jawab Hana marah.


Hasan merasa sesak ketika Hana menyebut tak ada cinta. Kenyataannya, Hasan sudah merasakan benih-benih cinta tumbuh untuk Hana di hatinya.


Hasan mencoba untuk tersenyum meskipun terpaksa.


"Kan kamu sendiri yang minta, kamu bilang minta hal yang lebih ekstrim daripada ciuman. Jadi, letak salah aku dimana?" tanya Hasan.


Hana terdiam sejenak. Hasan kemudian mengemudikan mobilnya kembali.


Hasan mengusap-usap lengannya sendiri yang merah akibat pukulan Hana.


Hana meliriknya sekilas.


"Pasti sakit tuh tangannya, lagian salah sendiri. Ngomong koq aneh-aneh!" batin Hana dalam hatinya.


"Kamu gak mau nglakuin itu apa karena kamu mencintai laki-laki lain, Han?" tanya Hasan tiba-tiba.


"Hah! Udah deh, San, gak usah nglantur kemana-mana. Kita lagi bahas apa tadi? Jangan sangkut pautkan masalah ini dengan laki-laki lain yang tidak tahu-menahu masalah hubungan kita yang rumit ini. Pokoknya, aku gak bakal mau nglakuin perintah kamu itu,"


"Kenapa? Kalo kamu gak mau, biar aku saja. Aku akan nyium kamu, setiap kamu nakal," jawab Hasan.


Hana menghela nafas, "kamu jujur sama aku, kamu suka sama aku kan?"


"Emangnya kenapa? Suka ataupun tidak, kamu tetap istriku," jawab Hasan sambil tersenyum.

__ADS_1


Hana mendengus kesal. Ia selalu mendapatkan jawaban yang sama ketika bertanya soal perasaan Hasan.


__ADS_2