Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
Lebih Suka Dikekang


__ADS_3

Hasan berdecak, ia menghela nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. "Melupakan cinta pertama kita emang sulit. Apalagi kalo cinta kita dulu begitu berkesan. Pasti bayang-bayang bahagia akan selalu muncul dalam pikiran kita," ucap Hasan tanpa memandang Hana.


Hana seketika menengok ke arah Hasan yang ia sadari tengah menyindir dirinya.


"Maksud aku nglarang kamu untuk dekat dengan Abang, karena aku belum siap jika harus kehilangan kamu, Han!" sambung Hasan kembali.


Hana membulatkan matanya dan menarik wajah Hasan agar mau menatapnya. "Hey, kamu ngomong apa sih? Aku udah gak ada rasa sama Kak Miki. Aku gak akan ninggalin kamu. Dan kamu, jangan pernah ninggalin aku, San!" ujar Hana yang merasa takut dengan kalimat Hasan.


Hasan kembali fokus ke jalan. Pandangannya jauh menerawang. "Semakin kamu dekat dengan Abang, kenangan-kenangan kalian dulu akan muncul. Dan itu tak menampik akan hadirnya cinta lama bersemi kembali,"


"Iya, tapi aku sama sekali udah gak ada perasaan sama Kak Miki, San. Aku cuman cinta sama kamu aja," jawab Hana lantang.


"Entahlah, Han. Aku tidak yakin dengan perasaan kamu!" jawab Hasan dengan lesu.


"Hey, hey, kamu harus percaya sama aku dong, San! Aku gak seperti yang kamu pikirkan saat ini. Oh iya, aku akan lepas kalung ini. Tadi aku cuman gak mau buat Kak Miki kecewa aja. Nanti tolong kamu lepasin yah," ujar Hana sambil mengelus lengan Hasan sembari tersenyum.


"Kenapa harus dilepas? Bukanya kamu suka? Itu kan kenang-kenangan dari Abang!" seru Hasan tanpa menoleh ke arah Hana.


Kalimat Hasan terdengar tidak enak dan menekan. Hana menghela nafas berat mendengar penuturan Hasan yang terasa sakit baginya. "San, maafin aku. Aku gak ada maksud buat kamu sakit hati. Maafin aku yah," Hana mengusap lengan Hasan dengan lembut. Setelah itu, Hana mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Ada air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Entah kenapa saat Hasan bicara kalimat tersebut, hatinya begitu teriris. Seperti, Hasan ingin melepasnya dan membiarkan ia bersikap semaunya sendiri tanpa ia kekang. Hana sadar, Hasan tengah kecewa padanya. Hana seringkali membuat Hasan marah. Namun, dengan cepat juga Hasan memaafkan dirinya.


Hana lebih suka dimarahi dan diatur oleh Hasan ketimbang Hasan membebaskannya. Perasaan takut dan sedih akan kehilangan Hasan bergelayut dalam benak Hana. Tanpa terasa bulir-bulir air mata Hana turun membasahi pipinya yang mulus.


Hasan hanya melirik Hana dengan sesekali membuang nafas kasar. Matanya lalu memilih fokus ke arah jalanan. Hasan teringat jika mereka belum makan. Apalagi ini sudah lewat jam makan malam. Hasan melihat tempat angkringan yang masih buka di pinggir jalan. Karena sudah merasa lapar, Hasan kemudian menepikan mobilnya. Hana yang mengetahui mobilnya berhenti, ia segera mengusap air matanya dan berbalik melihat Hasan.

__ADS_1


"Kenapa berhenti, San?" tanya Hana dengan lembut.


"Aku laper, mau makan di warung angkringan itu. Kamu mau ikut gak?" tanya Hasan sambil menunjuk warung angkringan yang ada di depan.


"Nasi kucing? Tapi nanti gak kenyang, San! Cari tempat lain aja gimana?" ucap Hana memberi usul.


"Kalo gak kenyang nambah lah. Lagian ini udah malem. Gak tau masih pada bukak apa ngga warung-warung atau ...."


"Banyak kok, San. Ayo kita cari pecel ayam aja. Atau nggak kita makan di cafe,"


"Gimana kalo udah pada tutup. Udah turun aja kalo kamu mau. Aku udah keburu laper," Hasan mencopot sabuk pengaman dan keluar dari mobil.


Hana tidak selera untuk makan nasi kucing. Ditambah lagi perasaannya yang tengah kacau memikirkan hubungannya dengan Hasan. Hana merasa tidak pantas untuk Hasan. Tapi, ia sendiri tidak ingin kehilangan Hasan.


Hasan menanti kedatangan Hana. Namun, Hana tak kunjung keluar juga dari dalam mobil. Ia kemudian memutuskan untuk membeli wedang jahe di bungkus. "Makasih mang, ini uangnya. Kembaliannya ambil aja, mang!" ujar Hasan seraya tersenyum lalu berlalu.


"Makasih, Mas!" ujar si penjual.


Hasan kembali ke dalam mobil. Ia memperhatikan Hana dengan matanya yang sedikit berair. "Kenapa kamu gak ikut turun? Kamu emangnya gak laper?" tanya Hasan meneliti wajah Hana.


"Aku gak laper," jawab Hana singkat.


Hasan menghela nafas lagi. Kemudian ia membuka wedang jahe dan memberikannya kepada Hana. "Ini minum, buat ngangetin tubuh kamu," ujar Hasan sambil menyerahkan wedang jahe dalam plastik disertai sedotan.

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Hana.


"Itu wedang susu jahe,"


"Aku gak suka wedang jahe. Aromanya terlalu menyengat," ucap Hana sambil menutup hidung.


"Enak tau. Cobain dulu deh," ujar Hasan terus menyodorkan minuman tersebut. Namun, Hana menolaknya. "Enggak ah, kamu aja yang minum," balas Hana.


"Cobain dulu. Enak," ujar Hasan lagi.


"Gak mau, San! Aku maunya wedang jeruk aja," jawab Hana.


"Iya, tapi kamu tetap gak mau nyobain biarpun sedikit aja?" tanya Hasan memastikan.


"Nggak,"


"Nanti kalo abis jangan nangis loh ya,"


"Ya nggak lah. Justru aku seneng kalo minuman itu kamu abisin," jawab Hana serius.


"Ya udah kalo gitu. Aku abisin sekarang,"


Slurppp slurrrrppp, sluurrpp.

__ADS_1


Terdengar Hasan tengah menyedot sebuah minuman dari bungkus plastik hingga tandas. Hana hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat Hasan yang menghabiskan minuman yang tidak ia sukai itu.


__ADS_2