Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
72. Pura-Pura


__ADS_3

Cantika melongo dengan matanya yang membulat.


"Kamu serius, San?"


Hasan tersenyum dan memainkan alisnya.


"Ya ampun, kalo emang bener, aku sih percaya bakalan susah dapetin kamu. Dan sekarang aku tebak ... Kamu, sebenarnya suka sama Hana, kan? Kamu gak mau kalo Miki, kembali lagi sama Hana?" ujar Cantika menebak.


"Ah, kamu gak perlu tau tentang itu. Aku cuman kasian sama kamu. Aku pengin kamu bahagia sama Miki. Kamu mau gak aku bantuin?"


Cantika tersenyum senang. Ia masih merasa tidak percaya. Untuk pertama kalinya, ada orang yang peduli dengan perasaannya.


"Kamu serius mau bantuin aku?" tanya Cantika meyakinkan.


"Serius dong! Mulai sekarang kita berteman. Kalo ada apa-apa, kamu jangan sungkan buat minta tolong sama aku, gimana?"


Mendapat tawaran menggiurkan, Cantika dengan cepat mengangguk. Bahkan ia tak segan memeluk Hasan saking bahagianya.


"Makasih banget ya, San! Aku bener-bener gak nyangka, kamu peduli sama aku, makasih yah!"


"Iya, sama-sama," ucap Hasan sambil mengelus punggung Cantika.


Meskipun risih, tapi Hasan membiarkan Cantika memeluknya karena ia sekarang memutuskan untuk berteman dengan Cantika. Cantika hanya perlu dukungan dan perhatian.


"Udah udah, sekarang, mana hape kamu! Aku tulis nomor aku. Kalo ada apa-apa, kamu segera hubungin aku yah," ucap Hasan.


Dengan cepat, Cantika mengambil hapenya dari dalam tas dan memberikannya kepada Hasan. Hatinya benar-benar bahagia. Cantika tidak menyangka kalo Hasan adiknya Miki. Dan Hasan, mau membantunya untuk mendapatkan hati Miki.


"Nih, kamu save nomor aku," ucap Hasan sambil menyerahkan hape Cantika kembali.


"Makasih ya, San! Aku seneng banget," jawab Cantika sambil menerima hapenya, dan langsung menyimpan nomor Hasan.


"Iya sama-sama. Ya udah, aku mau ambil motor dulu. Motorku bannya bocor," ucap Hasan beranjak dari tempat duduknya.


"Lah, rumah kamu memangnya di sekitar sini juga?"


"Ah, anu aku di sini lagi main di rumah sodara, kebetulan ban motorku bocor. Ya udah aku duluan yah, barangkali motorku sudah jadi," ucap Hasan seraya berdiri dan tersenyum kepada Cantika.


"Kapan-kapan main ke rumahku, San! Rumahku ada di Green Flowers, nomor 10," terang Cantika.


"Owh, oke! Aku duluan yah, bye!"


Hasan kemudian berlalu pergi, ia menuju bengkel dimana motornya sedang diperbaiki.


Cantika merasa puas dengan pertemuannya bersama Hasan siang ini.


Setelah Hasan mendapatkan motornya, ia segera kembali ke rumah. Hasan bolak balik menghela nafas panjang untuk mengatur dirinya agar tidak gugup saat menemui Hana dan Miki. Hasan akan berpura-pura tidak melihat dengan kejadian tadi.

__ADS_1


Sementara Hana di rumah, ia baru saja selesai membersihkan buah dan minuman yang berceceran dan juga aneka camilan.


"Aku yakin, Hasan pasti lihat kita berdua, Kak! Belanjaannya diletakan begitu aja di depan pintu. Dia pasti pergi. Aku harus cari dia. Kita harus jelasin kejadian tadi," ucap Hana kepada Miki dengan perasaan khawatir.


Dengan perasaan yang masih sakit, Miki mencoba untuk menenangkan hati Hana.


"Aku akan bantu cari, dan menjelaskan semuanya. Kamu di rumah aja yah," ucap Miki sambil memegang tangan Hana yang ingin melangkah keluar.


Pada saat bersamaan, Hasan datang dengan sepeda motornya. Hasan memancarkan senyuman di wajahnya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Miki kemudian segera melepaskan genggaman tanganya di lengan Hana. Hasan melihatnya sekilas namun, ia mengabaikan hal itu.


Hasan memarkirkan sepeda motornya dan turun.


"Wihhh, udah nyampe, Bang? Udah ketemu istriku?" tanya Hasan kemudian memeluk Miki sambil menepuk punggungnya.


Miki dan Hana saling berpandangan heran. Mereka mencoba tersenyum seperti biasa.


"I-iya, kamu darimana?" tanya Miki, seraya melepaskan pelukan Hasan.


"Iya San, kamu darimana? Kamu yang meletakan belanjaan di depan pintu? Barangnya berceceran semua loh, San!" ucap Hana.


Hasan memandang Hana da kemudian merangkulnya dengan mesra.


"Iya sayang," jawab Hasan sambil tersenyum.


Mendengar jawaban Hasan, jantung Hana langsung berdebar kencang, itu artinya, Hasan melihat dirinya saat sedang di peluk oleh Miki.


"Aku tadi buru-buru naruh belanjaan, soalnya ambil motor di depan, tadi ada orang yang mau nyopet aku, nih liatin, tangan aku mpe lecet dan berdarah buat ngabisin tuh copet!" ucap Hasan sambil menunjukan tangannya yang terluka akibat memukul badan pohon beringin dengan beringasnya.


Hana menghela nafas lega, dan seketika panik lagi saat mengetahui luka di telapak luar tangan Hasan.


"Ya ampun, koq dua-duanya begini semua. Sebentar aku ambilin obat dulu," ujar Hana sambil mencari kotak P3K.


Miki hanya bisa memandangi kedua adiknya dengan tatapan iri.


"Eh, ayo duduk dulu, Bang!" ucap Hasan kemudian berjalan menuju ruang tamu yang bersebelahan dengan ruang keluarga.


Miki mengekor di belakang Hasan.


"Kamu belum dibuatin minum ya sama, Hana! Ya ampun, gak perhatian banget sih tuh anak. Hanaaa, tolong buatin minum buat Abang," teriak Hasan.


"Gak perlu repot-repot, San! Aku kayaknya mau pulang sekarang," ucap Miki menolak.


"Loh, kan baru datang. Kita belum kangen-kangenan loh," ucap Hasan sambil tersenyum.


"Em, aku, aku mau jalan-jalan sebentar keliling, kan udah lama gak balik. Jadi, pengin muter-muter,"

__ADS_1


"Muter-muternya nanti aja, aku temenin,"


"Gak usah, kamu kan lagi sakit. Aku cabut sekarang aja yah," ucap Miki sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Tunggu lah, Bang! Koq gak betah banget di sini, udah dibuatin minum tuh sama, Hana," ucap Hasan.


Hana kemudian datang sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh, dan kotak P3K. Hana melirik Miki sekilas, kemudian meletakkan nampanya di atas meja.


"Di minum dulu tehnya, Kak!" ucap Hana kepada Miki.


"Iya, terimakasih, Han!" jawab Miki kemudian duduk kembali.


Hana kemudian duduk di samping Hasan dan mulai mengobati tangannya.


Hasan masih tetap tersenyum ia berusaha senormal mungkin meskipun hatinya sangat panas.


"Kalian tadi udah kenalan?" tanya Hasan sambil memandang Miki dan Hana bergantian.


Hana dan Miki kembali berpandangan lalu menunduk kembali.


"Oh, udah koq tadi," jawab Miki.


"Gimana Abangku, Han? Ganteng gak? Masih gantengan mana sama aku?" tanya Hasan.


Hana menyunggingkan senyum, "kalian sama-sama lelaki, pasti tampan. Kalo cewek, pasti aku bilang cantik,"


"Itu pasti. Tapi, pasti ada perbedaan diantara kita berdua. Masa kamu gak bisa bedain!" ucap Hasan.


"Iya aku tau, kalian pasti berbeda. Udah selesai. Copetnya berhasil kamu tangkep?" tanya Hana.


"Udah masuk penjara kali sekarang," jawab Hasan sambil mengangkat tangannya melihat hasil perban yang dikerjakan Hana.


"Syukurlah, lain kali kamu harus hati-hati," ucap Hana sambil membereskan obatnya.


"Aku udah hati-hati, emang lagi apes aja!"


Miki merasa kesal karena dirinya seperti tidak dianggap. Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya.


"Aku pulang sekarang yah, kapan-kapan, aku main lagi," ucapnya sambil tersenyum.


"Buru-buru banget sih. Oh, aku tau, kamu mau nyari cewek yang kamu bilang di telelpon itu kan? Namanya siapa sih? Biar aku bantu nyari!" ujar Hasan memancing.


Mendadak jantung Miki berdebar kencang saat Hasan, menanyakan hal itu. "Aku udah ketemu sama dia. Yang sekarang udah jadi milik kamu, oon!" ucap Miki dalam hatinya.


"Ciri-cirinya kayaknya aku kenal deh, Bang!" ucap Hasan.


Hana penasaran dengan obrolan mereka berdua. Hana memilih menyimak.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Miki.


"Dia kayak temen sekelas aku, namanya ... Cantika! Iya, ciri-cirinya kayak Cantika. Dia kan cantik, baik, pinter, pokoknya persis apa yang kamu bilang deh," jawab Hasan sambil tersenyum.


__ADS_2