
Hana dengan penuh percaya diri berjalan menghampiri Hasan yang menepuk sebuah bangku kosong di sebelahnya. Biarpun sudah larut, akan tetapi masih banyak orang yang mencari kuliner malam.
Hasan tersenyum melihat aura Hana yang terus memancarkan kesejukan bagi dirinya.
"Minumnya udah aku pesanin. Wedang jeruk, kan?" tanya Hasan sambil memperhatikan Hana yang duduk di sampingnya.
"Iya. Makasih ya!" jawab Hana seraya tersenyum.
"Kamu senyum-senyum mulu, kenapa?" tanya Hasan sambil terus menatap Hana dengan penuh kasih sayang.
"Aku kan memang murah senyum," jawab Hana malu-malu.
"Murah senyum apa, suka cemberut kok!" ujar Hasan sambil mencubit hidung Hana.
Pecel ayam pesanan Hasan sudah siap untuk disajikan. Pemiliknya kemudian memanggil anak laki-laki yang tengah sibuk mencuci piring.
"Dimas, tolong anterin ke meja belakang. Nomor tiga. Tuh, orang cakep yang lagi pacaran," tutur si penjual.
Orang yang disebut dengan Dimas tersebut kemudian berdiri dan mengelap tangannya dengan serbet. Begitu melihat orang yang ditunjuk oleh si penjual, Dimas membulatkan mata. Lalu kembali berjongkok.
"Loh! Kamu kenapa? Malah jongkok lagi. Kamu gak mau?" tanya si penjual.
"Sebentar Om. Aku mau cuci tangan lagi. Soalnya tanganku belum bersih," ucap Dimas berbohong.
Dimas mencari alasan, lalu ia merogoh saku celananya. Ada masker kain berwarna hitam di sana. Dimas segera memakai masker tersebut lalu membawa pesanan Hasan.
"Dia kan Hana. Semoga saja dia gak mengenali aku," tutur Dimas dalam hati dengan perasaan gugup.
Dimas kemudian meletakkan pesanan Hasan di atas meja. Dimas memperhatikan Hasan dan Hana. Namun, tidak berani menatap lama-lama.
"Terimakasih, Mas!" ujar Hana sembari tersenyum.
"Iya, Mbak! Saya pamit dulu. Silahkan dinikmati," ujar Dimas kemudian berlalu dengan langkah cepat.
__ADS_1
Hana memperhatikan Dimas sesaat sebelum berbalik pergi meninggalkan mejanya.
"Kayak pernah lihat. Tapi dimana ya?" gumam Hana dalam hatinya.
Dimas menghela nafas panjang ketika Hana tidak mengenalinya. Dimas mengelus dada sambil terus mengucap syukur. "Alhamdulillah banget, Hana gak mengenali aku ... Jadi, dia pacarnya? Samuel sudah tahu hal ini belum ya?"
Dimas berkata dalam hatinya sambil mencuri-curi pandang ke arah meja Hasan dan Hana.
Dimas tampak memperhatikan Hana dan Hasan sambil berpura-pura mengelap gelas. "Hana memang cantik. Pantas saja semua cowok pengin deketin dia. Perasaan bersalahku terus bergelayut sejak kejadian itu. Apalagi saat Raja tahu dan marah. Saya tidak akan lagi menyakiti dia. Tapi, karena dia juga, beasiswaku dicabut. Sekarang saya tidak bisa kuliah," Dimas bergumam dalam hatinya sambil terus melihat ke arah Hana. Karena tidak hati-hati, gelas yang dipengangnya terjatuh mengagetkan pemilik warung dan beberapa pembeli yang tengah makan. Salah satunya Hana dan Hasan yang dengan spontan langsung menatap Dimas.
Dimas seketika langsung menunduk dan memunguti pecahan belingnya.
"Aduh, kamu sudah merusak gelas yang ke berapa kali ini! Dari pertama kerja sampai sekarang tidak pernah beres kerjaanmu. Selalu ada masalah. Buruan beresin! Takut ke injek orang," ucap si pemilik warung dengan nada setengah kesal.
"Iya, Pak! Maaf ya. Saya tidak sengaja!" tutur Dimas.
Dimas memasukkan pecahan beling ke dalam kantong plastik lalu mengambil sapu dan pengki untuk membuang serpihan beling kecil yang berserakan. "Sial! Karena Hana lagi, saya dapat masalah," lagi-lagi, Dimas bergumam dalam hatinya. Seolah-olah semua masalahnya berakar dari Hana. Padahal, sesungguhnya Hana tidak tahu menahu permasalahan yang Dimas hadapi.
Bagaskara memerintahkan seseorang untuk mencari tahu siapa Hasan. Dia sepertinya bermaksud ingin menyingkirkan Hasan agar Samuel bisa dekat dengan Hana.
Tok-tok-tok!
Suara ketukan pintu membuyarkan perhatian Bagaskara. Dia merapihkan jasnya dan berpura-pura mengecek sebuah dokumen.
"Masuk!" seru Bagaskara.
Begitu pintu dibuka, Bagaskara melihat senyuman dari seorang wanita yang tak lain adalah istrinya sendiri. Wanita itu tersenyum sambil meneteng rantang bekal makan.
"Waktunya makan siang, Pa!" ujar istrinya.
"Iya, kamu harusnya tidak perlu repot-repot membawa aku makan siang segala," kata Bagaskara sambil merapihkan dokumennya. Ia berjalan ke arah meja yang berada di depan meja kerjanya.
Istrinya sudah membuka bekal makan siang untuknya. Berbagai makanan tersaji di atas meja persegi panjang tersebut.
__ADS_1
"Kamu ke sini sama siapa, Ma?"
"Bawa mobil sendiri, Pa. Silahkan dimakan dulu," ucap Ratna sambil menyerahkan rantang berisi nasi dan lauk.
"Makasih, Ma."
Ratna tersenyum dan mengangguk.
"Kamu tidak ikut makan?" tanya Bagaskara.
"Mamah sudah makan di rumah tadi, sama Samuel. "
"Samuel di rumah? Katanya dia mau kejar paket?"
"Katanya tidak jadi hari ini. Jadinya besok."
"Lah terus tadi pagi dia keluar ke mana?"
"Ya mungkin mengecek jadwal kejar paket itu, Pa!" jawab Ratna.
"Papah mau, kamu mengawasi Sam 24 jam. Kamu tidak perlu membantu Papah di kantor lagi. Fokus saja sama Samuel," ujar Bagaskara sambil mengunyah makanan.
"Kenapa harus diawasi lagi sih, Pa! Dia kan sudah besar. Dia juga sudah berubah."
"Papah tidak mau kecolongan lagi. Papah curiga sama dia. Jangan-jangan dia itu tidak amnesia. Gelagatnya kadang aneh."
"Aneh gimana sih, Pa? Biasa saja menurut Mamah. Justru dia jadi anak yang baik sekarang. Mamah suka dengan perubahan positifnya."
"Iya, Papah juga suka dengan sikapnya yang sekarang. Akan tetapi, Papah pernah melihat dia bicara sendiri sambil tertawa ...."
Pada suatu Minggu sore, Bagaskara baru saja pulang dari kantor karena suatu hal. Ia bergegas menuju kamar Samuel dengan harapan dapat menyampaikan niatnya untuk segera bekerja di kantor dan memperkenalkan Hana kepadanya. Namun, ketika Bagaskara membuka pintu, terlihat olehnya bahwa Samuel sedang berbicara di telepon. Setelah panggilannya berakhir, Samuel terus berbicara sendiri sambil memandangi layar handphone-nya.
"Bagus! Aku suka cara kamu bekerja, hahaha," ucap Samuel tanpa sadar.
__ADS_1
"Sayangnya, kamu pikir aku akan membiarkanmu bekerja dengan mudah setelah apa yang menimpa diriku, hahahaha!"
Setelah itu, Bagaskara membatalkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar Samuel. Sebelum Samuel menyadari kehadirannya di ambang pintu, Bagaskara pergi dari sana dan menutup pintu kamar Samuel dengan hati-hati.