
Samuel merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah ia selesai merampungkan soal kejar paket yang sedang ia ikuti. Sebuah pesan masuk dan ia segera membukanya.
Samuel mengernyitkan kening, lalu melihat layar hapenya dengan penuh kejelian. "Dia pacarnya Hana? Wajahnya, sepertinya aku kenal dengan wajah ini. Jika nomor itu benar nomor pacar Hana, berarti ...."
Samuel kemudian menelpon Dimas. Orang yang baru saja mengirimnya sebuah foto.
"Hallo ... Darimana kamu dapat poto ini?"
"Waktu mereka makan pecel ayam di warung, tempat dimana aku bekerja. Mereka sangat mesra. Kamu kenal dengan pacarnya?" tanya Dimas dari telepon.
"Aku gak yakin. Coba kamu tanyakan ini kepada Bayu. Bayu yang pernah mengirim poto Raja dan Hana ke nomor yang ia sebut sebagai kekasih Hana. Bayu sudah cukup banyak informasi, akan tetapi, ia tidak mau membocorkannya kepadaku. Bayu banyak berubah sekarang, semenjak kejadian itu. Bayu sendiri juga tau siapa dalang pemukulan di basecamp. Tapi, dia juga tidak mau memberitahuku," ucap Samuel geram.
Dimas terdiam sejenak. Ia sendiri sudah tau, salah satu dalang pemukulan di basecamp malam itu. Tapi, ia juga menutupinya dari Samuel. Dimas bekerja untuk Samuel dan juga untuk Raja. Setiap informasi yang ia berikan kepada Samuel, tak lupa ia memberitahu Raja juga. Dengan syarat, Raja akan terus melindungi dirinya jika Samuel bertindak di luar batas.
"Baiklah, aku akan mencoba tanyakan kepada dirinya. Ngomong-ngomong soal Raja, apa kamu masih bertemu dengannya?"
"Hem, kita bertemu hanya kebetulan saja. Itu pun saat bersama Hana. Terlalu sulit untuk membuat ia percaya kepadaku lagi. Saat bertemu denganku, dia selalu ingin memukul. Meskipun aku sudah bilang jika aku amnesia."
"Oh begitu. Sam, aku perlu uang. Ayahku tiba-tiba saja kecelakaan. Dia di rawat di rumah sakit."
"Jadi kamu mengirim foto itu karena butuh uang. Baiklah, berapa yang kamu butuhkan? Aku akan segera mentransfer ke rekeningmu," ucap Samuel menyunggingkan senyum.
"Sepuluh juta. Ayahku sudah menginap tiga hari. Kami tidak punya kartu jamkesmas. Jadi ...."
"Iya aku tau. Aku akan kirim sekarang juga,"
"Terimakasih, Sam." ucap Dimas seraya tersenyum dari seberang sana.
Percakapan mereka terputus. Samuel dengan segera mengirimkan uang dengan nominal yang diminta oleh Dimas.
"Sudah aku kirim. Di rawat di rumah sakit mana? Aku akan datang menjenguk. Kalo ada kekurangan, segera kabari aku." Samuel mengirim pesan untuk Dimas.
***
Panas di tubuh Hana sudah turun setelah ia meminum obat dari dokter. Hana tidur kembali setelah minum obat di siang hari tadi. Hasan teringat jika dia harus menemui Raja. Dengan kondisi Hana seperti sekarang, Hasan tidak mungkin menemui Raja di alun-alun. Jaraknya terlalu jauh dengan rumahnya.
Hasan kemudian pergi keluar rumah dan menelpon Raja. Rupa-rupanya, Raja sudah sampai di alun-alun dan tengah menunggu kehadirannya.
__ADS_1
"Bedebah! Jauh-jauh aku datang kesini untuk menemui mu, tapi kamu malah tidak jadi datang. Lain kali, aku tidak akan pernah menuruti kemauanmu," ucap Raja emosi.
"Aku minta maaf, tiba-tiba saja istriku ... Eh maksud ku, Ibuku ... Dia sakit. Jadi, aku harus menjaganya," ucap Hasan sedikit gugup karena tiba-tiba saja dia keceplosan.
Raja mengernyitkan kening ketika mendengar Hasan menyebut kata istriku.
"Semoga, Raja tidak menaruh curiga kepadaku," batin Hasan.
"Apa tidak ada orang yang menjaga ibumu? Bukankah ada pembantu, atau ...."
"Tidak ada. Mungkin lain kali kita bisa membuat janji lagi. Aku ingin membahas masalah Samuel kepadamu," ucap Hasan.
"Samuel? Ada apa dengannya? Apa dia buat ulah lagi?"
"Apa kamu percaya kalo dia amnesia?" tanya Hasan.
Raja menghela nafas mendengar pertanyaan Hasan. "Apa kamu tau itu dari, Hana?"
"Iya."
"Dasar. Apa setiap hal yang dia lakukan harus memberitahumu? Aku tidak yakin jika dia amnesia. Apa kamu mencurigai sesuatu darinya? Apakah kamu sudah bertemu kembali dengannya, setelah kejadian itu?" tanya Raja tanpa jeda.
"Hasan ... Kamu dimana?" suara Hana terdengar dari dalam.
"Hana, apa dia sudah bangun?" gumam Hasan. "Ja, nanti aku kabari lagi," Hasan memutus telponnya.
"Hey tunggu du ... lu ...." Raja memandang layar hapenya yang sudah kembali ke menu utama.
"Tunggu dulu, kenapa tadi aku mendengar dia menyebut nama Hana. Dan suara yang memanggil Hasan, seperti suara ... Hana!"
Raja terdiam sesaat. Tiba-tiba, ia membulatkan matanya. "Aku harus selidiki mereka juga," gumam Raja dengan penuh tekad.
Hasan masuk ke dalam dapur, ternyata, Hana sudah duduk di kursi sembari minum segelas air putih.
"Kenapa kamu di sini? Istirahat di kamar saja. Kalo butuh apa-apa panggil aku," tutur Hasan berjongkok di depan Hana dan memegang tangan Hana.
"Aku haus. Di kamar, air minumnya sudah habis. Aku panggil kamu, tapi kamu gak datang. Jadi, aku pergi ambil sendiri saja," terang Hana.
__ADS_1
"Maafin aku yah. Aku akan terus ada di samping kamu," ucap Hasan seraya mengusap pipi Hana dengan lembut.
"Kamu habis darimana? Kamu menelpon siapa?" tanya Hana menyelidik.
"Oh, tadi klien Papah. Desain rumahnya minta sedikit di ubah karena ternyata lahan yang di ukur tidak sesuai," jawab Hasan sambil tersenyum.
"Benarkah? Kenapa harus di luar rumah kalo hanya membicarakan masalah pekerjaan," Hana tidak percaya dengan penjelasan Hasan.
Hasan tersenyum lalu mengacak rambut Hana. "Karena aku takut, kamu terganggu dengan suaraku. Mari, aku antar ke kamar lagi." Hasan mengulurkan tangan. Hana pun hanya bisa menurut. Alasan yang diberikan Hasan masuk akal. Ia pun tidak akan banyak bertanya lagi.
"Huft, untung Hana percaya." Batin Hasan. Hana bersandar di kamarnya. Hasan lalu mengupaskan buah dan menyuapi Hana dengan telaten.
"Kamu harus makan banyak, empat sehat lima sempurna. Dan juga, gak boleh setres, jangan sering main hape, jangan kebanyakan nunduk. Harus cukup istirahat, dan jangan lupa minum vitamin. Kalo sewaktu-waktu kamu vertigo lagi, kamu gak boleh tiduran. Tapi, harus segera bangkit dan jalan. Paham!" ucap Hasan.
"Iya paham. San, aku mau kasih tau kamu sesuatu saat aku di rumah Samuel,"
"Kita bicarakan itu nanti saja. Tunggu kamu sehat,"
"Aku sudah jauh lebih baik. Aku perlu ngasih tau kamu sebab, aku gak mau kamu salah paham sama aku lagi. Sebelum kamu marah, aku mau jujur aja sama kamu."
"Kalo aku marah, bagaimana menghukum kamu dalam kondisi seperti ini!" ucap Hasan menyunggingkan senyum.
"Jangan marah lagi. Apapun yang aku lakukan, orang yang aku cintai cuma kamu. Jadi, jangan cemburu ya,"
"Memangnya pernah aku cemburu?"
"Hampir setiap hari jika aku dekat dengan laki-laki lain. Masih tidak mau ngaku?"
"Hehehe. Aku tidak pernah merasakan hal itu,"
"Dasar pembohong. Baiklah, terserah kamu saja. Aku cuman mau jujur kalo aku, aku menerima tawaran orang tua Samuel, untuk membantu Samuel menemukan ingatannya yang dulu. Hanya ingatan yang baik-baik saja, meskipun aku tidak cukup yakin dengan hal itu. Dan juga ...."
"Artinya, kamu setiap hari akan berkunjung ke rumah Samuel? Dan terus menghabiskan waktu bersama ...."
"Iya seperti itu gambarannya. Aku juga mau bilang kalo Samuel, ingin aku berada di sisinya. Mengubah dirinya menjadi lebih baik lagi. Dia ingin aku menjadi kekasihnya, tapi ...."
"Dan kamu juga terima tawaran itu?" tanya Hasan dengan ekspresi wajah singanya.
__ADS_1
Hana menelan ludah melihat wajah Hasan yang tiba-tiba marah dengan sorot matanya yang tajam.