
Hana merasa tidak enak dan takut. Ia tak berani menatap mata Hasan lagi. Hana memilih memandang ke arah pintu. Hasan memperhatikan wajah Hana yang hanya terlihat dari samping.
Hasan tersenyum melihat wajah Hana yang ternyata lebih cantik jika dilihat dari samping. Hidungnya yang kecil dan mancung, membuat Hasan ingin mencubitnya.
Hasan kemudian memutar tubuh Hana agar menghadap kepadanya. Hana kaget dengan perilaku Hasan yang tiba-tiba.
"Ada apa, San?" tanya Hana dengan wajah takutnya.
Hasan menahan senyum sambil menatap wajah istrinya dalam-dalam.
"Kamu takut sama aku ya?" tanya Hasan tersenyum kecil.
Hana tidak menjawab pertanyaan Hasan, ia ingin menjawab iya tapi mulutnya terkunci sebab menahan airmata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
Ia benar-benar takut mendengar peringatan dari Hasan tadi.
"Aku becanda tadi, maaf yah!" Hasan mengelus pipi Hana yang mulus itu.
Hana tidak bereaksi, ia masih memandangi wajah Hasan yang kini sudah tersenyum seperti biasa.
Hana mengedipkan matanya berkali-kali agar air matanya tidak langsung turun.
"Kamu kenapa?" tanya Hasan kemudian memeluk Hana dan mengelus punggungnya.
Kesempatan itu dilakukan Hana untuk mengusap air matanya yang kini turun. Bagaimanapun juga, hatinya itu rapuh.
"Kamu koq malah diem, kenapa? Maaf yah, udah bikin kamu takut," ucap Hasan kembali sambil melepaskan pelukannya.
"Nggak papa koq. Kita bahas yang lain saja. Badan kamu masih panas, San! Aku kompres lagi yah!" ucap Hana hendak berdiri, tapi Hasan mencegahnya.
"Gak usah, ntar juga turun koq, kamu temenin aku di sini aja,"
Hana tersenyum. Hatinya sekarang sudah lega karena Hasan tidak marah lagi padanya.
"San, emang kamu kalo abis berkelahi dan terluka selalu panas?" tanya Hana penasaran dengan penuturan Bu Praja tadi pagi.
"Emm, yah begitulah!"
"Emang kamu dulu sering berantem, San?"
"Pengin tau aja kamu!"
"Aku nanya aja, kalo kamu gak mau jawab ya udah gak papa!"
__ADS_1
"Cie ngambek!" ledek Hasan sambil menowel dagu Hana.
"Nggak koq,"
"Oh iya, tadi pagi kamu berangkatnya naik apa? Angkot dari sini warnanya kuning tua, Han. Itu aja cuman nyampe di lampu merah kedua,"
"Oh gitu yah! Aku gak nemu angkot, San! Aku pikir warna angkotnya sama kayak jurusannya ke rumah Yusi. Ternyata beda yah!"
"Kalo angkot Yusi, datangnya dari arah kanan perempatan lampu merah kedua. Kamu bisa naik angkot itu kalo udah naik dari sini. Terus, kamu naik apa tadi pagi?"
"Karena gak nemu angkot, akhirnya aku mutusin buat jalan ...."
"Hah! Serius kamu jalan kaki? Sampe sekolah!" seru Hasan dengan semangat.
"Ih, dengerin dulu dong, aku kan belum kelar ngomong,"
"Maaf, aku kaget waktu kamu bilang jalan kaki,"
"Iya, aku tuh gak nemu taxi, sama angkot. Tukang ojek juga gak ada. Ternyata, perumahan ini masih termasuk sepi ya, San!"
"Iya iyalah, kan gak sembarangan orang masuk ke sini, Han!"
"Hehehe, iya yah, aku lupa,"
"Aku, aku ketemu Raja. Terus aku nebeng sama dia," jawab Hana sambil tersenyum berharap Hasan tidak marah kepadanya.
Hasan terdiam sejenak ia kembali membuat wajahnya. Ada rasa yang ia sendiri tidak paham. Tapi, rasa itu terasa sakit dan menggumpal di dalam hatinya.
"Aku terpaksa, San! Soalnya kan udah siang, kalo gak nebeng Raja, aku pasti telat, San!" ucap Hana lagi.
"Semoga, Hasan gak marah lagi," gumam Hana dalam hatinya.
"Iya gak papa, Han! Salah sendiri kenapa aku sakit," jawab Hasan menahan emosinya.
"Kamu gak marah kan?"
"Kenapa mesti marah. Kamu boleh koq pergi sama siapa aja! Udah deh aku mau istirahat ngantuk,"
Hasan menurunkan tubuhnya dan membelakangi Hana. Hasan menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya hingga tidak terlihat sama sekali. Ia merasa cemburu, tapi ia tak menyadari hal itu.
Tubuhnya semakin panas, hatinya berapi-api, rasanya ia tak terima jika melihat Hana berboncengan atau pergi berdua dengan Raja. Apalagi Hasan tau, bahwa Raja berteman dengan Samuel.
Hana merasa tidak enak melihat sikap Hasan yang tiba-tiba berubah lagi.
__ADS_1
"San, ntar kamu kepanasan, gak bisa nafas kalo ditutup semua," ucap Hana sambil menarik selimut.
Hasan memegang erat selimutnya. Hana berusaha untuk menariknya kembali, tapi Hasan mempertahankannya.
"Kamu gak bener-bener mau tidur kan? Kamu sebenernya marah lagi kan sama aku? Ayo buka selimutnya, San!" Hana bersikekeuh menarik selimut.
"Buka, San! Kenceng banget kamu megangnya. Fix, kamu marah sama aku," ucap Hana sambil terus menarik selimut.
Hasan yang merasa kesal akhirnya membuka selimut yang tengah ditarik oleh Hana itu.
Hana tersentak kaget karena kekuatan menariknya tiba-tiba dengan gampang terbawa oleh selimut yang dibuka oleh Hasan.
Hana terjatuh di atas tubuh Hasan yang terasa panas itu. Wajahnya kini hanya berjarak satu jengkal tangan dengan wajah Hasan. Hidung mancung mereka berdua saling bersentuhan.
Mereka saling menatap dalam waktu yang lumayan lama. Alunan lagu romantis terdengar begitu saja menambah suasana lebih intim. Hasan dan Hana menelan ludah masing-masing.
Setelah beberapa menit, mereka tersadar kembali. Hana segera bangun dan duduk di tepi ranjang Hasan. Sementara Hasan masih sama diposisi tidurnya. Mereka berdua sama-sama merasa gugup dengan apa yang baru saja terjadi.
"Ya udah deh kalo mau istirahat. Aku mau ke kamar, mau belajar. Cepet sembuh ya, San!" ucap Hana kemudian berlari membuka pintu dan menutupnya kembali.
Hasan belum berkutik, ia masih terbayang wajah Hana yang begitu dekat jaraknya. Hidung Hana masih dapat ia rasakan. Kalo saja hidung mereka tidak mancung, mungkin mereka sudah lolos berciuman.
Hasan dikagetkan oleh suara deringan hapenya. Ia kemudian perlahan bangkit dan menyandarkan tubuhnya di papan tempat tidur. Dengan susah payah, ia meraih ponsel yang tergelatak di atas meja samping.
"Hallo!" jawab Hasan.
"Hay!" jawab telepon dari seberang sana.
"Tumben banget kamu nelpon! Ada apa? Chat aja gak pernah. Ini telepon, cih!" ucap Hasan sambil menyunggingkan senyum.
"Hahaha! Aku dengar dari Mamah, katanya kamu sakit. Masa belum ada setahun udah punya musuh aja sih, mau jadi jagoan lagi kayak di sini?"
"Apaan sih! Gimana kabarmu, Bang? Sukses buat karya-karya nya yah!" ucap Hasan sambil tersenyum.
"Makasih ... Kabar aku baik koq. Oh iya, gimana sama istrimu? Dia lebih cantik dari Madona?" tanya Kakak Hasan sambil tersenyum.
Hasan hanya tersenyum, lalu Kakaknya kembali berkata.
"Sorry yah aku gak bisa turut jadi saksi di acara pernikahanmu,"
"Kamu emang bukan Abangku. Ngapain mesti datang! ... Bang! Kenapa kamu gak mau ikut tradisi ini?"
"Hem, itu hal konyol menurut aku, Le! Menikah itu hanya satu kali. Menikah harus di dasari perasan saling cinta, bukan karena dipaksa. Tradisi ini sungguh aneh bagiku, Le!"
__ADS_1