Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
Sketsa Wajah Hana


__ADS_3

Hasan dan Hana sama-sama terdiam. Mereka menelan salivanya masing-masing. Setelah melakukan hal itu, ada rasa canggung diantara keduanya. Mereka saling melirik, lalu menunduk lagi.


"Ya ampun, kenapa jantungku mendadak berdebar seperti ini," batin Hana.


Hasan mengatur nafasnya agar tidak gugup. "Aku melakukannya karena kamu bersalah. Seperti yang sudah aku katakan kemaren. Kamu paham kan?" ucap Hasan memandang Hana.


Hana hanya mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya. Hasan kemudian merangkul pundak Hana sembari berbisik. "Aku akan terus melakukannya kalo kamu dekat sama cowok lain,"


Hana menatap Hasan dengan matanya yang membulat. Ia memicingkan matanya dan berkata, "kamu melakukan ini karena ingin, bukan karena aku salah kan? Jujur saja kalo kamu sudah jatuh cinta denganku,"


Hasan tersenyum lalu mengecup kening Hana. "Sepertinya itu membantu jawabanku. Mari, kita belanja sekarang," Hasan berdiri dan mengulurkan tangan kepada Hana. Hana yang masih tidak mengerti dengan sikap Hasan, hanya bisa menerima uluran tangannya dengan perasaan yang entah tidak bisa dia ungkapkan. Hasan menggandeng tangan Hana menuju pusat perbelanjaan di mall tersebut. Senyuman terus terpancar di bibirnya yang kecil. Sesekali, Hana mencuri pandang ke arah Hasan. Diam-diam dia juga tersenyum dan ikut merasa senang melihat ekspresi Hasan yang begitu bahagia.


***


Raja sudah sampai di rumah, kebetulan Cantika berada di sana dan membantu mengobatinya. "Ayo bilang sama aku, kamu berantem sama siapa?" Cantika terus mendesak Raja untuk berkata jujur padanya.


"Aku heran, sebenarnya apa sih hubungan Hasan dengan Hana? Kalo mereka bukan pacar, kenapa Hasan bisa semarah itu sama aku," tutur Raja yang tak sengaja ia ucapkan.

__ADS_1


Cantika menghela nafas mendengar pengakuan dari Raja. "Ya jelaslah dia marah sama kamu, Hasan itu suka sama Hana," jawab Cantika yang pada akhirnya membuatnya kaget.


"Kamu kenal sama Hasan juga?" tanya Raja menatap Cantika dengan tajam.


"Ya kenal lah, aku, Hana, sama Hasan, kami itu satu kelas. Aku tau sikap Hasan di sekolah itu gimana, jadi aku bisa nyimpulin hal ini," tutur Cantika sambil memandangi kukunya yang mulai panjang.


"Gimana emangnya? Mereka beneran pacaran?" tanya Raja penasaran.


"Nggak tau sih pacaran apa nggak, tapi Hasan itu perhatian banget sama Hana. Mereka juga dekat. Kadang kayak pacar, kadang kayak orang lain. Tapi aku jamin, kalo Hasan itu suka sama Hana,"


"Tapi Hana bilang, Hasan itu orang kepercayaan orang tuanya untuk menjaganya. Macam bodyguardnya kali. Kemana-mana harus bareng sama Hasan," ungkap Raja dengan sangat kesal.


"Iya, Hana boleh pergi kalo sama Hasan,"


Cantika tersenyum melihat ekspresi Raja yang cemberut dengan kedua tangannya yang dilipat di depan dadanya. "Masa sih, Hasan orang kepercayaan orang tua Hana? Apa jangan-jangan mereka sebenarnya pacaran? Tapi kenapa tidak mengaku saja kalo pacaran," batin Cantika penasaran.


***

__ADS_1


"Jadi, kamu mau meneruskan kuliah dimana? Kalo kamu mau, kamu bisa membantu papah di kantor," ucap Pak Praja kepada Miki sambil menikmati teh hangat buatan istrinya. Mereka berdua duduk di samping kolam renang sambil menikmati udara sore hari.


"Miki belum tau, Pah! Mungkin, Miki akan kembali ke luar negeri," jawab Miki sambil menerawang jauh ke langit.


"Bagaimana dengan pekerjaan kamu sekarang? Apa kamu cukup mendapatkan uang dari hasil kerjamu?" Tanya Praja sambil memperhatikan raut wajah Miki yang kini tersenyum mendengar kalimatnya.


"Tentu saja. Selain aku hobi. Hobiku juga mendatangkan cuan yang besar, tidak kalah dengan penghasilan Leo. Bahkan, aku sudah terikat kontrak dengan perusahaan luar negeri dan juga beberapa lembaga keamanan di sana. Mereka selalu membutuhkan illustrator handal seperti diriku," jawab Miki sambil menatap Praja dengan sengit.


"Baguslah, papah senang mendengarnya. Oh iya, bagaimana pendapatmu mengenai istri Leo! Kamu sudah bertemu mereka?"


Miki menunduk dan menghela nafas panjang lalu merebahkan tubuhnya di kursi santai yang ia duduki. Praja tersenyum dan berkata, "apa kamu menyesal setelah melihatnya? Mereka terlihat bahagia benar? Sayang kamu telah menolaknya dulu," ujar Praja menyesap tehnya kembali.


Miki hanya menyunggingkan senyum mendengar penuturan papahnya yang terkesan mengejek.


"Papah harap, kamu jangan mengusik rumah tangga mereka. Dan segeralah cari pendamping agar kamu tidak iri dengan adikmu," Pak Praja berdiri dari tempatnya lalu menepuk bahu Miki, sebelum ia masuk ke dalam rumah untuk mencari istrinya.


Miki mendengus kesal mendengar kalimat Pak Praja. Ia memukul kursi yang ia duduki dengan keras. "Aargghh! Kenapa kisah cintaku begitu pahit. Apa aku harus merebut Hana dari tangan adikku sendiri?" ujar Miki merasa frustasi. Ia mengacak rambutnya dengan kasar. Tubuhnya tiba-tiba merasa panas, ia kemudian membuka baju dan segera menceburkan dirinya ke dalam kolam renang.

__ADS_1


Praja melihat pemandangan tersebut dari gazebo lantai dua. Dia tersenyum sambil memegang sebuah kertas yang terpampang dengan jelas sketsa wajah Hana. "Kalo kamu pulang hanya untuk ini, papah gak akan maafin kamu, Miki! Salahmu sendiri kenapa dulu tidak mau dijodohkan,"


Praja terus menatap sketsa wajah Hana yang tidak sengaja ia temukan diantara kertas-kertas tumpukan di kamar Miki. Praja terlihat shock saat pertama kali mendapatinya. Namun, Praja memilih untuk pura-pura tidak tau.


__ADS_2