
Hana menjadi khawatir, ia takut Hasan kenapa-napa. Hana memutuskan untuk mengetuk kamar Hasan kembali.
Tok tok tok!
"San, Hasan! Kamu sudah bangun belum? Hari ini kita ulangan loh, belajar pagi-pagi bagus juga loh, San!" seru Hana dari balik pintu.
Tak ada jawaban dari Hasan. Hana kemudian memberanikan diri untuk memegang gagang pintu kamar Hasan.
"San, aku masuk yah," ucap Hana minta ijin.
Ceklek!
"Syukurlah, pintunya tidak di kunci!" ucap Hana dalam hatinya.
Perlahan, Hana membuka pintunya. Ia terkejut ketika melihat Hasan yang tengah meringkuk kedinginan tanpa kaos.
Hana dengan cepat berlari ke arah Hasan.
Hasan menggigil.
"Hasan! Ya ampun,"
Hana kembali panik, sebelum ia mengambil baju untuk Hasan, ia keluar untuk mengambil P3K. Hana mengobati luka-luka Hasan terlebih dahulu. Setelah itu, ia mengambil baju untuk Hasan, dan memakaikannya langsung dengan hati-hati.
"Maaf ya, San!" ucap Hana sambil memakaikan kaos.
Hana mencari kaos kaki di lemari Hasan, dan segera memakaikannya di kaki Hasan yang dingin. Sebelumnya, ia menggosok minyak telon di telapak kaki Hasan.
Hana menyelimuti Hasan dengan selimut tebal. Pagi ini, ia benar-benar khawatir dengan dua keadaan. Pertama, hari ini adalah ulangan semester kenaikan kelas, yang kedua, Hasan sakit. Ia benar-benar bingung.
"San, kamu makan dulu yah,"
Hasan menggelengkan kepala dengan matanya yang terpejam. Hana kemudian menyentuh dahi Hasan.
"San! Badan kamu panas banget!" seru Hana.
Hana kemudian mengambil air dan segera mengompres dahi Hasan dengan telaten sambil terus melirik jam di pergelangan tangannya yang terus berputar.
Di satu sisi, ia tak tega jika harus meninggalkan Hasan di rumah sendirian, di satu sisi, dia harus ulangan. Meskipun tak dapat ulangan sekarang, ia harus mencari alasan apa untuk meminta ijin? Apakah. Sakit juga seperti Hasan?
Hasan masih mengigil. Hana kemudian berinisiatif untuk menelpon mama mertuanya.
__ADS_1
"Aku telepon Mamah Praja aja deh, semoga beliau gak sibuk," ucap Hana dalam hatinya.
Hana mengambil hape dari saku bajunya dan mulai mencari kontak Mama Praja. Begitu ketemu, ia langsung menelponnya, dan berharap Mama Praja ada waktu untuk menunggu Hasan.
"Hallo mah ... Iya, Ceri Alhamdulillah baik ... Iya mah, em, ini, Ceri mau minta tolong sama Mama ... Hasan tiba-tiba sakit, Mah ... Demam, Mah ... Mama bisa kesini gak? Nemenin Hasan? Hari ini, Ceri ada ulangan semester, Mah, jam setengah delapan masuknya ... Iya, oke ... Makasih, Mah! Ceri tunggu ... Wa'alaikumsalam," Hana kemudian mengakhiri panggilannya.
"Alhamdulillah, mamah bisa kesini," gumam Hana bersyukur.
Hana memandangi wajah Hasan, ia kemudian mengganti kompresnya lagi.
"Hasan, aku ambilin sarapan, kamu makan dulu yah," ucap Hana.
"Ng-ng-nggak u-sah, ka-kamu be-berangkat se-sekolah a-aja, nanti te-telat!" ucap Hasan dengan mata yang masih terpejam.
"Iya, nanti aku nungguin Mamah Praja kesini dulu, aku gak tega ninggalin kamu sendirian,"
Hana meremas tangan Hana dari balik selimut.
"Maafin aku ya, San! Kamu sakit gara-gara aku ya?" tanya Hana.
Hana beberapa kali menengok jam tangannya, sudah menunjukan waktu 6.15 WIB. Setengah jam kemudian, hapenya berdering. Ia kemudian mengangkatnya.
"Mama sudah sampai di depan gerbang nih, tolong bukain dong, Cer! Maaf yah, suara Mama gak di masukin sama Leo, soalnya," ucap Mama Praja.
"Iya, Mah! Ceri segera keluar!"
Hana segera berlari ke luar. "Buka gerbang!"
Gerbang kemudian terbuka, mobil mamah Praja masuk ke halaman, gerbang tertutup kembali secara otomatis.Mamah Praja turun dari dalam mobilnya. Ia membawa tas kecil yang berisi obat-obatan.
"Makasih ya, Mah udah repot-repot datang kesini," ucap Hana sambil menyalami tangan mertuanya itu.
"Sama-sama. Ayo!" jawab Mama Praja.
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam. Mamah Praja kaget saat melihat sarapan Hana yang masih utuh.
"Loh, sarapan kamu sama Leo, koq masih utuh!"
"Iya Mah, tadinya aku nungguin Hasan buat sarapan. Gak taunya Hasan malah demam, Mah!"
"Oh begitu, ya sudah langsung ke kamar Hasan aja. Dan kamu segera pergi ke sekolah buat ulangan. Takutnya telat loh," ucap Mamah Praja.
__ADS_1
"Iya, Mah! Masih ada waktu sedikit koq, ayo, Hana anterin ke kamar Hasan," ucap Hana.
Mereka berdua kemudian segera menemui Hasan di kamarnya.
Mama Praja duduk di tepi kamar Hasan dan segera memeriksa suhu tubuh Hasan.
"Badan nya panas, Ceri!" ucap Mama Praja.
"Iya mah, tadi baru aku kompres jadi panasnya belum turun. Mama hubungin dokter atau ...."
"Gak usah, mama udah bawa obat dadi rumah. Ya ampun, kenapa nih muka sama tangan nya, koq ... Hemmmm ... Dia abis berantem sama siapa, Cer?" tanya Mama Praja yang telah membuka selimut dan melihat lengan Hasan yang tergores.
"Koq Mama tau kalo Hasan ...."
"Tau dong, Hasan, atau Leo ini. Dulu waktu SD sama SMP, Leo kalau habis berantem terus ada luka di tubuhnya, pasti langsung demam, Cer! Dia itu seperti singa kalo lagi berantem. Meskipun nama depannya Hasan, dia tetep dipanggil Leo karena nama itu identik dengan dirinya,"
"Oh gitu ya Mah! Mah, ada luka gores juga di perut Hasan. Semalem, mau Hana obatin, tapi Hasan gak mau. Mama tolong obatin dia yah," ucap Hana dengan khawatir.
"Iya, kamu tenang aja, nanti Mama obatin koq, kamu gak usah panik gitu," ucap Mama Praja tersenyum sambil mengelus tangan Hana.
"Ya udah deh, Mah. Hana pergi ke sekolah dulu yah! Udah telat nih!" ucap Hana dengan gugup.
"Eh, kamu berangkatnya naik apa dong?"
"Hana naik angkot, Mah! Di depan banyak koq," ujar Hana asal.
"Hah! Angkot? Serius kamu? Kenapa gak naik taxi aja? Atau mama anterin?" tawar Mama Praja.
"Ah gak usah, Mah! Mama pokoknya jagain Hasan yah, Hana berangkat dulu, assalamu'alaikum," Hana meraih tangan Mama Praja dan menciumnya kemudian berlari.
"Iya, wa'alaikumsalam," jawab Mama Praja dengan ekspresi heran.
Hana berlari secepat mungkin mencapai depan gang perumahannya. Udara pagi masih sangat segar, tetesan embun masih terdengar di tanaman-tanaman tetangga yang tak mempunyai pagar rumah.
Hana memegangi perutnya yang mulai terasa sakit karena berlari. Nafasnya tersengal, bahkan dahinya sudah mengeluarkan keringat.
"Ternyata, jarak dari rumah sampai depan lumayan jauh juga," keluh Hana sambil melirik jam tangannya.
"Fix, aku bakalan telat nih, lari ke depan aja delapan menit, gila! aku terlalu lelet apa emang jaraknya yang emang jauh? Mana angkotnya, koq gak ada yang lewat sih! oh iya, angkot yang aku naikin kan bukan lagi warna pink. Warna apa yah? Kuning atau apa? Terus ngetime nya dimana?" Hana mengacak rambutnya karena bingung.
"Aduhh, mendingan aku lari aja deh, lumayan sambil nunggu angkot atau taxi lewat, bisa mengurangi waktu," ucap Hana kemudian berlari kembali.
__ADS_1