
Saat istirahat tiba, Hasan sengaja mengajak Damar untuk mengobrol di taman atas.
"Jadi, apa sebenarnya hubungan kalian berdua?" tanya Damar sedikit gusar.
"Hubungan kami, seperti yang kamu lihat. Apa kamu mendengar semua pembicaraan kami?" tanya Hasan melirik Damar.
"Iya, aku mendengar semuanya. Sebaiknya kamu tidak sembunyikan hal apapun padaku, San. Aku sekarang sahabatmu juga."
"Apa kamu bisa menyimpan rahasia?"
"Apa kamu meragukanku?"
Hasan tersenyum dan merangkul Damar. "Baiklah. Aku harap kamu bisa terima kenyataan bahwa kamu tidak akan punya kesempatan lagi untuk mencuri Hana dariku."
"Maksudmu? Aku sudah tidak ada perasaan terhadapnya."
"Benarkah? Aku tidak cukup yakin."
"Cepat katakan saja apa rahasia kalian berdua," Damar mulai bosan dengan Hasan yang bertele-tele.
Hasan menghela nafas panjang. "Apa kamu pernah mendengar sebuah keluarga yang menganut tradisi perjodohan dini?"
Damar mengernyitkan kening dan menggelengkan kepala.
"Setelah aku menceritakan semuanya kepadamu, kamu tidak ada hak membocorkannya kepada siapapun. Termasuk, Yusi."
Hasan melihat Damar dengan tatapan memperingatkan. Damar hanya mengangguk tanpa berkomentar. Ia sengaja menunggu kelanjutan cerita dari Hasan.
"Keluargaku dan keluarga Hana, menganut tradisi itu secara turun temurun. Intinya, aku dan Hana sudah menikah. Resmi menjadi suami istri, dan tinggal satu rumah," ucap Hasan.
__ADS_1
Seperti disambar petir di siang bolong. Damar begitu kaget hingga ia mendapat panic attack kembali. Hasan merasa kesal dan menepuk pundak Damar dengan sekuat tenaga.
Damar terbatuk-batuk. Tenggorokannya terasa kering. Ia masih tak percaya jika kalimat yang Hasan ucapkan benar.
"Lain kali kamu harus menyiapkan diri lebih baik. Reaksimu begitu berlebihan," gumam Hasan kesal.
"Ini rahasia yang sangat besar. Aku tidak jantungan saja itu sudah untung. Sejak kapan kalian menikah?" tanya Damar penuh penantian.
"Sejak aku masuk ke sekolah ini," jawab Hasan seraya tersenyum.
"Apaaaa! Sudah selama itu kalian berhubungan?" tanya Damar dengan eskpresi kagetnya.
Hasan mengangguk sambil menggoyangkan kaki yang ia tumpu.
"La-la-lalu, sudah sampai tahap mana kalian menjadi pasangan? Maksudku apa kalian su-sudah ...."
Hasan menyeringai kemudian berbisik di telinga Damar, "sudah tahap dimana kami tidur bersama,"
"Memangnya apa yang kamu pikirkan. Aku pernah tidur bersama dengannya. Hanya tidur, tidak lebih." Hasan memberi penjelasan kembali.
"Apa maksudmu sebenarnya?" Damar menengok ke arah Hasan.
"Kamu tidak tau maksud dari tradisi ini, jadi jangan berasumsi sendiri. Aku tidak pernah melakukan hal yang kamu pikirkan itu dengan Hana. Kami tau, kami masih sekolah. Mana mungkin bisa bertindak bodoh seperti itu. Kapan-kapan aku akan mengundangmu ke rumah." Hasan merangkul pundak Damar sembari tersenyum.
Damar mengangguk dan tersenyum juga. Hatinya masih cukup syok mendengar penjelasan dari Hasan. Tapi, setidaknya ia tahu jika hubungan mereka masih wajar. Bagaimanapun juga, Damar belum bisa melupakan Hana sepenuhnya. Cinta pertama memang sulit untuk dibuang begitu saja bukan?
~~
Damar tidak menunjukan sikap ceria belakangan ini. Mungkin kenyataan bahwa Hasan dan Hana, yang sudah menikah. Membuat ia begitu merasa kehilangan untuk selamanya. Bahkan, Yusi tak mampu menghiburnya.
__ADS_1
"Aku jadi bingung sama kamu, Dam. Kalo emang aku gak ada salah sama kamu, kenapa sekarang kamu dingin banget sama aku. Apa karena kamu udah bosen sama aku? Kamu udah gak sayang lagi sama aku?" ucap Yusi penuh penekanan.
"Jangan ngomong gitu lagi, Yus. Ini gak ada sangkut pautnya sama kamu. Maaf jika aku berubah. Tapi, perubahanku ini gak ada hubungannya dengan kamu."
"Kalo gak ada hubungannya dengan aku, gak mungkin kamu kayak gini,"
"Akhir-akhir ini aku hanya kurang enak badan. Dan aku sendiri gak bilang sama siapapun. Selama ini aku menahan rasa sakit ini sendiri. Jadi, maaf yah," Damar mengelus puncak kepala Yusi dengan lembut seraya tersenyum.
"Kamu sakit apa? Kenapa baru bilang sama aku. Apanya yang sakit?" tanya Yusi dengan panik.
"Bukan yang serius kok. Aku bisa menanganinya sendiri," jawab Damar.
"Kamu gak butuh aku buat bantu kamu?" tanya Yusi kesal.
"Bukan seperti itu maksudku. Tapi memang gak serius kok. Sekarang sudah sembuh," jawab Damar.
"Bagaimana kamu gak tau, Yus. Aku menahan rasa sakit karena Hana benar-benar sudah menjadi milik orang lain. Maaf karena aku masih mengkhianati perasaan kamu," batin Damar merasa bersalah.
"Beneran udah sembuh? Emangnya sakit apa?" tanya Yusi penuh perhatian.
Damar menghela nafas lalu menjelaskan. "Jadi, panic attack itu kadang menyerang aku tiba-tiba. Dan efeknya bisa nyampe ber hari-hari. Jadi, aku gak boleh banyak pikiran. Pikiranku harus benar-benar rileks," ucap Damar sedikit berbohong.
"Apa yang membuatmu terkena serangan itu? Apa kamu telah mendengar hal yang begitu mengejutkan?" tanya Yusi.
Mendengar pertanyaan Yusi, Damar sedikit bingung harus menjelaskannya. Ia tersenyum kemudian memeluk Yusi dengan mesra.
"Bintang di langit jumlahnya banyak banget ya, pantesan dingin banget malem ini," ujar Damar mengeratkan pelukannya.
"Hish, lepaskan tanganmu, kamu memelukku begitu kuat. Aku tidak nyaman." Yusi mencoba merenggangkan tangan Damar. Akan tetapi, Damar semakin menariknya dengan lebih kuat.
__ADS_1
"Maaf karena aku belum sepenuhnya mencintai kamu, Yus." Batin Damar penuh kegalauan.