Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
47. Panik


__ADS_3

"Waw, waw, waw! Lumayan juga ambisimu!" ucap Hasan sambil tersenyum menyeringai.


"Kenapa gak terus lari aja!" kata Raja sambil membuka helm.


Hasan kaget, rupanya orang yang mengejarnya itu adalah Raja.


"Kenapa kamu ngikutin aku!" ucap Hasan dengan raut serius.


"Kenapa kamu berada di basecamp Samuel! Dan kenapa, kamu mukulin mereka!" tanya Raja sambil melipat tangan di dadanya.


Hasan dan Raja sama-sama berdiri di samping sepeda motor mereka masing-masing. Mereka berdua saling pandang dengan sengit.


"Bukan urusan kamu! Kamu sendiri kenapa ada di basecamp dan ikut mukul Samuel? Pukulan kamu mungkin bisa bikin, Samuel mati!" ucap Hasan mengingatkan Raja.


"Hasan, aku tau, kamu yang udah mukulin Samuel waktu itu. Dan aku juga tau, kamu yang udah bikin Samuel di keluarin dari sekolah!" ucap Raja berasumsi sendiri dengan senyuman menyeringai.


Hasan sedikit kaget dengan penuturan Raja yang memang benar. Hasan bingung, darimana Raja bisa tau hal itu.


"Oh, berarti kamu antek-anteknya Samuel! Berarti kamu sama brengseknya dengan mereka. Sini kamu maju lawan aku," tantang Hasan mulai maju dua langkah.


"Aku mungkin pernah temenan sama mereka. Tapi aku gak sama kayak mereka ... Tapi boleh juga kalo kamu mau adu tinju sama aku. Aku ladenin!" ucap Raja sambil memasang kuda-kuda.


Raja menerima tantangan Hasan untuk berkelahi, meskipun Raja tau, Hasan sudah terluka di lengan dan juga perutnya. Raja ingin mengetes Hasan yang katanya jago beladiri itu.


Mereka berdua terlibat dalam sebuah perkelahian sengit. Malam yang sunyi, dengan jalan yang cukup lengang tanpa ada kendaraan yang berlalu lalang, memperlancar aksi mereka untuk berkelahi.


Angin sepoi-sepoi tak mampu mendinginkan hawa panas dalam diri mereka masing-masing. Mereka terus berkelahi dengan imbang karena sama-sama jago beladiri. Karena tidak ada yang kalah dan menang, akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti berkelahi. Terlebih lagi, luka Hasan di perut dan lengannya yang tambah perih dan nyeri membuatnya kehabisan tenaga.


Hasan dan Raja sama-sama tergolek lemas di jalan aspal. Mereka tak peduli jika nanti ada kendaraan lain yang lewat jalan tersebut.

__ADS_1


"Dari perkelahian ini, aku jadi tau. Orang yang harusnya dipukul Samuel malam itu adalah kamu, bukan cowok itu," ucap Raja dengan nafas tersengal.


Raja terbaring di samping tubuh Hasan. Mereka sama-sama ngos-ngosan.


"Cowok yang kamu maksud adalah Damar, temen aku! dan aku juga sadar, lima orang yang nyerang Damar malam itu, salah satu diantaranya adalah kamu!" ucap Hasan sambil memandang langit dan menahan haus di tenggorokan.


"Iya emang bener, ada aku di sana. Tapi aku cuman ngliatin aja, gak ikut nyerang temen kamu," balas Raja sambil melirik Hasan yang meringis kesakitan.


"Berarti urusan kita belom selesai sampe di sini," ucap Hasan sambil beranjak dari rebahannya.


Raja ikut berdiri melihat Hasan yang sudah beranjak terlebih dahulu.


"Kita boleh adu kekuatan lagi kapan-kapan.


Tapi aku di sini cuman mau ngasih tau kamu bahwa aku bukan antek Samuel. Dan aku bukan dipihaknya. Aku selalu bela yang bener asal kamu tau, San! Aku nglakuin itu semua karena aku gak tau kejadian yang sebenernya. Jadi, aku minta sama kamu, San ... Jangan salah paham sama aku! Dan aku mau minta tolong sama kamu, tolong jangan ...."


"Aku gak mau denger penjelasan kamu, yang jelas, kamu udah bikin Damar terkapar di rumah sakit. Urusan kita belum selesai, Ja!" ucap Hasan kemudian mengenakan helmnya kembali dan menaiki sepeda motornya.


"Oh iya! Aku kasih tau kamu satu hal lagi, Ja! Jangan coba-coba buat deketin Hana! Jangan ganggu dia! Kalo gak, kamu bakal berurusan sama aku. Inget itu!" Hasan mengancam Raja.


Raja tersenyum sinis mendengar ancaman Hasan. Hasan kemudian berlalu dari pandangan Raja.


"Kita liat aja nanti, San! Siapa yang akhirnya bakalan bisa dapetin Hana! Meskipun kamu orang kepercayaan orangtua Hana, tapi belum tentu, Hana suka sama kamu!" Raja berkata sambil berkacak pinggang, kemudian ia segera menaiki sepeda motornya dan berlalu pergi dari sana.


Di rumah, Hana terlihat sangat mencemaskan Hasan karena tak kunjung pulang, padahal sudah hampir jam dua belas malam.


Hana mondar mandir di depan pintu dapur. Biasanya, Hasan akan selalu datang dari arah pintu tersebut.


Bunyi detak jam dinding terdengar jelas di telinga Hana. Hana bingung, apakah ia harus menghubungi orangtuanya atau diam menunggu Hasan sendirian.

__ADS_1


"San, kamu kemana sih! Kenapa pergi gak bilang-bilang! Mana besok ulangan lagi. Aku pikir dia lagi serius belajar di kamar, gak taunya, malah pergi. Mana udah jam dua belas lewat," Hana berkata dalam hatinya.


Ia benar-benar gelisah menunggu Hasan di rumah sendirian. Tiba-tiba, ia mendengar suara motor Hasan, yang mulai masuk halaman dan berhenti.


"Itu pasti dia, awas aja, San! Aku bakal interogasi kamu! Enak aja udah bikin aku khawatir, dan konsen belajar aku ke ganggu gara-gara kamu!" ucap Hana dengan geram.


Hana sengaja tetap duduk di kursi meja makan dengan melipat tangan di depan dadanya. Wajahnya sudah ia pasang segarang mungkin supaya Hasan takut padanya.


Hasan membuka pintu dengan perlahan dan menutupnya kembali lalu menguncinya. Begitu berbalik, ia kaget mendapati Hana yang belum tidur.


"Astaghfirulloh! Hana! Koq kamu belum tidur sih!" ucap Hasan sedikit terjingkat ke belakang melihat Hana yang duduk dengan wajah beranga.


Hasan mengusap dadanya turun naik.


"Darimana aja kamu!" tanya Hana kemudian berdiri dan mulai berjalan ke arah Hasan.


Hasan berdiri tegap, dan mencoba membuang wajah, agar Hana tak melihat luka di wajahnya, namun, hal itu sia-sia.


"Hasan! Wajah kamu kenapa?" tanya Hana sambil menyentuh wajah Hasan yang sudah lebam.


Hana memperhatikan tubuh Hasan dari ujung kaki hingga kepala. Ia membukam mulutnya sendiri karena kaget melihat jaket Hasan yang sudah koyak, dengan darah yang mulai mengering di sana.


"Apa yang terjadi sama kamu, San! Sini, sini!" Hana menuntun Hasan untuk duduk di kursi.


Hana terlihat sangat panik. Ia kemudian melepas paksa jaket yang dikenakan oleh Hasan. Hana lebih kaget lagi saat melihat ada tiga goresan di lengan kirinya, dan satu goresan di lengan kanannya.


"Aw, sakit Han! Pelan-pelan bukanya dong, jangan asal tarik gitu!" ucap Hasan yang tidak digubris oleh Hana.


"San, kamu habis berantem ya? Sama siapa?" tanya Hana sambil melihat lengan Hasan yang terluka.

__ADS_1


Hana berjongkok di depan Hasan. Ia kaget kembali saat melihat kaos oblong Hasan yang ternyata koyak juga. Saat di lihat, ternyata perut Hasan tergores juga. Goresan itu cukup panjang.


Hasan tidak bisa berkata apa-apa saat Hana memeriksa tubuhnya. Ia hanya bisa diam dan memperhatikan raut wajah Hana yang sangat khawatir kepadanya. Ada rasa bersalah dalam hatinya karena sudah membuat Hana bingung dan cemas.


__ADS_2