
Hasan terus berjalan hingga sampai depan jalan raya. Ia menyebarang tanpa melihat kanan dan kiri, hingga hampir saja tertabrak. Namun, dengan acuhnya ia berjalan kembali.
Hasan menuju lapangan umum yang disertai taman di depan kompleksnya itu.
Hasan memilih tempat duduk di bawah pohon beringin. Dengan semangat, Hasan menonjok badan tubuh pohon. Tanganya yang lecet dan berdarah tidak ia pedulikan.
Ia bersimpuh di tanah yang sudah bercor semen. Hasan berteriak sekuatnya, hatinya begitu sakit menyaksikan pemandangan tadi.
"Aaarggghhhh!" teriak Hasan.
Semua orang yang tengah berada di lapangan, dan pedagang yang berjualan di situ memandang ke arah Hasan yang tampak seperti orang gila. Tak banyak dari mereka yang menggunjing.
Lapangan umum ini banyak didatangi warga dari segala komplek, untuk sekedar membeli jajanan, atau untuk bersenang-senang. Karena lapangan ini biasa dijadikan pasar malam.
Cantika yang kebetulan sedang membeli jajan melihat Hasan. Buru-buru, Cantika berlari menghampiri Hasan. Cantika berjongkok di depan Hasan.
"Hasan! Kamu kenapa? Ya ampun, tangan kamu berdarah," ucap Cantika sambil memegang tangan Hasan.
Hasan tidak menjawab pertanyaan Cantika. Hatinya benar-benar sedang tidak baik. Ditambah lagi dengan kehadiran Cantika, orang yang suka memfitnah, Hana.
Hasan menepis tangan Cantika dengan kasar.
"Ngapain kamu di sini? Pergi sana! Jangan ganggu aku," ucap Hasan dengan tajam.
Cantika merasa takut dengan tatapan Hasan yang seperti singa itu. Tapi, ia tak mau pergi dari sana. Ini kesempatan baginya untuk cari perhatian kepada Hasan.
"Kamu sakit, San? Apa ada masalah? Cerita aja sama aku. Siapa tau aku bisa bantu masalah kamu," ucap Cantika dengan raut wajah khawatir.
Hasan terdiam sejenak. Kebetulan ada Cantika, ia bisa mengorek informasi lagi darinya.
"Ayo, San, duduk dulu," Cantika membantu Hasan untuk duduk kembali di bangku.
Cantika memberikan air mineral kepada Hasan. Ia juga menyiramkan air tersebut ke luka-luka Hasan. Hasan hanya diam sambil memperhatikan Cantika.
"Kamu itu sebenarnya cantik dan baik, tapi kenapa kamu jahat sama, Hana, Cantika?" pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Hasan.
__ADS_1
Cantika reflek mendongak ke wajah Hasan. Hatinya senang karena mendapat pujian, tapi ia juga kesal sebab Hasan, menyebut nama Hana.
"Apa aku terkesan jahat sekali sama, Hana? Yah, itu karena, apa yang aku inginkan selalu jadi miliknya. Makanya aku gak suka sama dia,"
"Sejak kapan kamu gak suka sama dia?" tanya Hasan dengan wajah serius.
Cantika memandang Hasan sambil tersenyum. Ia tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Aku beliin hansaplas dulu yah, buat nutup luka kamu," ujar Cantika.
"Gak perlu, biarin aja kayak gini. Aku pengin denger jawaban kamu,"
"Oh ya udah deh," jawab Cantika dengan senang hati.
"Aku mohon, kamu kasih informasi aku yang jujur, jangan ada kebohongan, Cantika,"
"San, aku tuh selalu jujur. Kenapa kamu bilang begitu. Jadi, kamu mau dengar soal, Hana? Tapi, aku tanya dulu, kamu seperti ini gara-gara, Hana?"
"Gak penting. Aku dan Hana tidak ada hubungan apa-apa,"
"Iya, itu karena aku selalu satu grup dengannya. Aku aslinya emang cuek. Jadi kalo aku cuek sama kamu, itu wajar aja. Maaf yah," jawab Hasan diiringi senyuman, namun matanya masih tajam.
"Ya ampun, Hasan minta maaf sama aku? Gak nyangka sih ini," batin Cantika.
"Jadi, gimana? Kenapa kamu bisa marah sama Hana sampai sekarang!" tanya Hasan lagi.
"Itu karena setiap cowok yang aku suka, selalu deketin dia. Selalu dia yang dapetin. Aku kesel sama dia bukan karena itu aja. Tapi, Hana itu selalu unggul dariku," jawab Cantika jujur.
"Sejak kapan? SMP? Ada cowok yang kalian rebutin?" tanya Hasan.
"Iya, dia Miki. Aku lebih dulu suka sama dia. Tapi, Hana diam-diam malah pacaran sama Miki. Aku kesel banget. Semenjak itu aku langsung benci sama Hana. Miki itu cowok pertama yang aku suka. Aku juga dekat sama dia. Dia baik sama aku. Tapi, kebaikannya cuman jadi harapan palsu buat aku. Dia lebih memilih Hana ketimbang aku," ucap Cantika dengan geram mengingat masa lalu.
Hasan menelan ludahnya kembali. Ia tak menyangka jika kenyataan ini benar. Tapi, bukankah, Hana belum pernah pacaran?
"Tapi yang aku denger dari Hana, dia sama sekali belum pacaran. Mana mungkin dia pacaran sama, Miki!" ucap Hasan pura-pura.
__ADS_1
"Mereka itu sebenarnya saling suka, San! Tapi Hana emang gak mau mengikat rasa sukanya dalam satu hubungan, karena dia takut sama orang tuanya. Orang tuanya tidak pernah mengijinkan ia untuk pacaran. Makanya, mereka pacaran dalam diam,"
"Koq kamu bisa tau hal itu,"
"Tau lah, aku pernah curi diary miliknya. Dan aku baca semua isinya, bahkan aku tau sketsa wajah Miki di sana," ucap Cantika kesal.
Hasan mengehela nafas panjang mendengar penuturan Cantika. Hasan yakin kali ini, Cantika tidak berbohong. Dia benar-benar jujur.
Hasan merasa bersalah karena ia merasa telah merebut Hana dari abangnya sendiri.
"Lalu, dimana Miki berada, Cantika?"
"Waktu itu, aku mengejarnya hingga ke bandara, aku mengungkapkan perasaanku lagi. Aku berharap banget, dia mau terima aku. Tapi, dia sama sekali gak naksir sama aku. Memalukan! Miki melanjutkan sekolahnya di luar negeri, sebab ia ingin melupakan Hana. Tapi, gak tau deh. Dia bisa nglupain Hana atau nggak," jawab Cantika menyunggingkan senyum.
"Terus, perasaan kamu sekarang gimana sama, Miki?"
"Hem, aku gak tau. Kalo dia kembali dan bertemu denganku lagi, mungkin aku akan menyatakan perasaanku lagi. Gak mudah nglupain orang yang pertama kali cintai begitu aja, San!" ujar Cantika dengan tatapan jauh ke depan.
Hasan mengerti sekarang. Cantika bisa saja berubah, kalo saja ia bisa mendapatkan hati Miki. Hasan mencoba untuk mengatur nafasnya agar lebih tenang. Dia akan menganggap semua hal yang di lihatnya tadi, tidak pernah terjadi. Dia akan pura-pura tidak tau apa-apa.
Hasan punya cara tersendiri untuk mendekatkan Cantika dengan Miki. Tentu saja, karena Hasan tidak rela jika Hana harus kembali dengan Miki. Sebab, Hana kini sudah menjadi istrinya. Hasan akan bersandiwara untuk hal ini.
"Cantika, aku yakin, kamu bisa dapetin hati Miki, asal kamu jangan pernah menyerah. Teruslah berjuang untuk dia," ujar Hasan sambil menepuk pundak Cantika.
Cantika melirik tangan Hasan yang kini berada di pundaknya. Cantika tidak menyangka, kalo Hasan peduli padanya.
"Tapi aku sekarang suka sama kamu, San!" jawab Cantika.
"Aku bukan orang yang mudah jatuh cinta, Can! Kamu akan lebih sulit buat dapetin aku. Lebih baik, kita temenan aja. Aku akan bantuin kamu buat deketin Miki," jawab Hasan diiringi senyuman.
Cantika mengernyitkan kening tanda tak mengerti.
"Emangnya kamu kenal sama dia?" tanya Cantika menyelidik.
"Yah, karena orang yang kamu ceritakan itu ... Kakakku sendiri," ucap Hasan sambil melipat tangan di dadanya.
__ADS_1