
Damar menebak ada sesuatu antara Hasan dan Hana. Damar lalu keluar untuk menghampiri Hana yang tengah melihat lantai satu dari pagar depan kelasnya.
"Yusi koq tumben belom dateng ya, padahal bentar lagi bel masuk," terang Damar menjajari Hana.
"Coba kamu wa aja," jawab Hana sambil melihat ke bawah melihat anak-anak yang lain berlalu lalang.
"Kamu kenapa sih, Han! Kayaknya kesel banget liat Hasan sama Cantika," tanya Damar penasaran.
"Apaan sih kamu, Dam! Aku biasa aj koq, oh iya, dari kemaren kayaknya, aku gak liat Samuel deh. Hari ini juga. Kamu liat dia gak, Dam?" tanya Hana yang memang dari kemarin tidak melihat Samuel.
"Kenapa kamu mikirin dia, bukanya kamu seneng kalo gak ada dia, Han! Kamu gak perlu takut lagi buat keluar dan jajan ke kantin, atau kemana pun lah," terang Damar.
"Iya aku seneng, Dam. Tapi aneh aja sejak kejadian itu, dia emang gak kelihatan sama sekali, Dam. Apa terjadi sesuatu sama dia!" terang Hana.
"Kamu khawatir, Han?" selidik Damar.
"Aku cuman pengin tau aja koq, Dam! Gak ada maksud lain,"
"Sama aja kamu khawatir," ucap Damar sedikit kesal.
"Iya beda dong! Pengin tau aja, sama khawatir," tutur Hana tak mau kalah.
"Sama lah, pengin tau itu kan bisa menjawab rasa khawatir," ucap Damar tak mau kalah juga.
"Apaan sih kamu! Maksud aku kan gak begitu, aku ...."
"Woy! A-a-ada a-da apa nih ribut-ribut!" seru Yusi, yang datang dengan ngos-ngosan dari arah tangga selatan.
"Eh, Yusi! Baru aja kita omongin! Iya gak, Dam!" kata Hana sambil tersenyum ke arah Damar yang masih kesal.
"Iya, koq kamu tumben berangakat siang!" tanya Damar.
"Iya aku telat bangun," jawab Yusi sambil mengatur nafasnya.
"Terus, kamu lari apa gimana ke sininya? koq ngos-ngosan gitu!" tanya Damar.
"Aku ngos-ngosan emang karena lari, tapi bukan karena takut telat, aku, a-aku ada ... Eh, bagi minum dulu apa, haus nih," ucap Yusi sambil mengelus tenggorokannya.
Hana mengehela nafas, kemudian masuk ke dalam untuk mengambil air mineral yang ia bawa dari rumah. Kebetulan hari ini, ada pelajaran olahraga di jam ketiga.
"Nih minum! Jangan diabisin yah," ujar Hana menyodorkan botol kepada Yusi.
__ADS_1
Dengan cepat, Yusi mengambil botol tersebut, dan meminumnya beberapa teguk. Setelah merasa lega, Yusi kemudian mulai bercerita.
"Jadi tadi, pas aku baru nyampe sekolah. Aku denger, Bu Eni ngomong, katanya masalah Samuel diluar sudah bocor. Bu Eni tampak bingung tadi," tutur Yusi dengan wajah serius.
"Masalah apa, Yus?" tanya Damar.
"Aku gak tau," jawab Yusi.
"Apa jangan-jangan, tentang masalah aku waktu itu ya?" Hana bertanya dalam hatinya.
Hana tampak khawatir mendengar berita ini. Ia takut jika rumor tentang dirinya menyebar, dan akan banyak orang yang tidak suka dengannya, akan membubuhi dengan kalimat yang tidak sedap.
Damar tau, Hana pasti memikirkan kejadian itu, Damar lalu meremas tangan Hana dan menggeleng pelan, melihat ekspresi Hana yang gundah. Hana memandang Damar sekilas dengan raut wajah takut.
"Tapi aku denger dari anak-anak di bawah tadi, katanya, Samuel udah dikeluarin dari sekolah, Han," ucap Yusi kembali.
"Apaa! Samuel dikeluarin!" seru Hana dengan mata membulat, lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Damar sama kagetnya dengan Hana. Mereka berpandangan. Sementara Hasan dan Cantika mendengarkan dari dalam.
"Tuhkan, aku bilang juga apa, San! berita ini pasti cepet nyebar, biarpun di tutup-tutupin," kata Cantika dengan percaya diri.
Hasan masih memperhatikan percakapan Hana cs dari dalam melalui jendela yang transparan.
Pikiran Hana mendadak tidak tenang. Ia masih menduga-duga, apakah Samuel dikeluarkan gara-gara masalah itu? Ataukah ada masalah lain? Jika memang menyangkut masalah dirinya, kira-kira siapa yang melapor!
Hana memandang Damar, dan bertanya "kamu, Dam yang ...."
"Bukan aku, serius!" ucap Damar sambil mengangkat telapak tangan kanannya.
"Kalian ngomong apa sih koq gak nyambung?" tanya Yusi sambil menggaruk dahinya.
"Gak papa, Yus, ayo kita masuk," jawab Hana diiringi senyuman kemudian menggandeng lengan Yusi.
Mereka bertiga lalu masuk ke dalam dan duduk di bangkunya masing-masing. Hana masih kepikiran dengan Samuel. Hasan tampak memperhatikan Hana yang memang sedang galau.
"Kalo emang, Sam dikeluarin gara-gara aku, harusnya, aku kan dipanggil. Tapi, aku masih aman-aman aja. Masalah apa ya kira-kira?" ucap Hana dalam hatinya.
Hana tidak sengaja menengok ke arah Hasan. Mata mereka bertemu, Hana kaget, lalu membuang pandangan dan fokus kembali ke pemikirannya.
Cantika merasa panas ketika melihat Hasan yang terus memandang ke arah Hana. Seberapapun usahanya untuk mendekati, Hasan, Hasan tetap saja lebih tertarik dengan Hana, ketimbang dirinya.
__ADS_1
"Aku gak akan biarin orang yang aku suka selalu jadi milik kamu, Han!" ujar Cantika geram, dalam hatinya.
Jam olahraga pun mulai, semua anak bergegas ke toilet untuk mengganti pakaian-nya. Saat di ruang ganti cewek, Cantika dengan sengaja menginjak seragam osis Hana yang kebetulan jatuh. Bahkan saat mau diambil oleh Hana, Cantika masih mondar mandir berjalan di atas baju osis Hana, sehingga membuat Hana sedikit geram.
"Cantika! Mau kamu apa sih! Suka banget cari masalah sama aku!" tutur Hana dengan nada tinggi.
"Ops! Sory cewek murahan, aku gak liat baju kamu jatoh! Kirain tadi tuh kesed, makanya aku injek-injek," ucap Cantika tanpa merasa bersalah.
"Kamu tuh bego apa buta! Nyampe gak bisa bedain mana kesed mana seragam!" celetuk Yusi dari belakang membela Hana dengan keras.
"Sory ya, aku gak ada urusan sama kamu, bye!" ucap Cantika dengan santai-nya pergi berlenggang.
Hana hanya bisa menghela nafas dan mengelus dadanya, melihat tingkah Cantika. Yusi ingin mengejar Cantika, tapi ditahan oleh Hana.
"Ngeselin banget tuh anak! Kurangajar!" ucap Yusi berang sambil berjalan.
"Udah Yus, jangan kamu kejar. Dia emang begitu dari dulu," tutur Hana sambil mencegah Yusi.
"Kamu itu kenapa sih, Han, gak mau bales perlakuan kasar Cantika! dia itu udah keterlaluan banget sama kamu! Tapi kamu masih diem aja, dan santai!" ucap Yusi dengan kesal.
"Iya terus aku harus gimana? Masa iya mau bales kaya gitu juga," jawab Hana enteng.
"Iya iya lah, Han! Kalo kamu gak mau bales, iya udah biar aku aja," ucap Yusi menepis tangan Hana yang sedari tadi memegangnya.
"Aku bukanya gak mau bales, Yus! aku males aja, kalo aku bales Cantika dengan hal yang sama, aku yakin, hal ini akan terus berlanjut. Dan itu artinya, aku juga sama kayak dia, gak ada bedanya aku sama dia," jawab Hana dengan nada halus bermaksud memberi pengertian kepada Yusi.
"Tau ah, Han! Kesel juga aku sama kamu. Aku duluan deh. Oh iya, ntar aku beli-in baju osis di koperasi," ucap Yusi dengan ketus.
"Makasih ya, Yus. Kamu jangan marah, ntar cantiknya ilang!" ucap Hana diiringi senyuman.
"Gak usah muji, aku lagi gak mood!" jawab Yusi dengan cemberut kemudian berlalu meninggalkan Hana sendirian di ruang ganti.
Hana tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu.
Ia kemudian mengambil baju osisnya yang sudah kotor dan basah.
"Ya ampun, pasti Cantika tadi sepatunya basah deh, Ampe ngecap di baju OSIS aku ... Kejadian ini, ngingetin aku dulu waktu SMP. Cantika melakukan hal yang sama. Tapi untungnya waktu itu, guru BK liat pas keluar toilet, jadi, dia kena poin. Nah kalo sekarang, Yusi yang liat, dan aku hanya bisa menahan emosinya," Hana tersenyum sambil memasukan bajunya ke dalam kantong plastik, lalu keluar dan menuju kelas untuk menaruh baju osisnya.
"Hana buruaan! Udah ditungguin pak guru, tinggal kamu doang yang belom kumpul!" Yusi berteriak dari bawah.
Hana yang mendengar suara Yusi, langsung bergegas turun ke bawah untuk bergabung dengan yang lain.
__ADS_1