
"Jadi dong. Tapi ntar aku nunggu di luar aja yah! Oh iya, kira-kira, belanjaanya banyak gak? Kalo banyak, aku mau pinjem mobilnya si Wawan," kata Hasan.
"Gak tau juga. Coba aku cek kulkas dulu yah, kalo sayuran-nya udah pada abis dan bumbu dapur juga abis, berati kita belanja banyak," jawab Hana sambil berlalu ke dapur mengecek isi kulkasnya.
"Oke," jawab Hasan.
Setelah di cek, ternyata seluruh stok menipis. Bahkan waktu ngecek ke tempat loundry, sabun dan pelembut untuk menyuci sudah habis semua.
Hana kembali kepada Hasan yang menunggunya di kursi meja makan.
"Udah abis semua, San. Hari ini kita borong-borong," ucap Hana mantap.
"Em, kalo gitu, aku pinjem mobil dulu siapa tau ada," ucap Hasan kemudian mengambil hapenya dan menelpon Wawan.
"Hallo, Wan! Ya, hehe ... Rencananya mau minjem mobil kamu ... Oh, Oh ... Iya, iya, Oke ... ntar kabarin aku ya, Oke, makasih, Wan!" Hasan memutus sambungan teleponnya.
"Gimana? Mobilnya ada?" tanya Hana.
"Orangnya lagi pergi, kita harus nungguin. Tapi daripada kita buang-buang waktu, lebih baik aku anterin kamu pake motor dulu. Setelah itu, aku pulang buat ambil mobil nya Wawan kalo dia udah balik, gimana?" usul Hasan.
"Oke gak papa. Tapi, San! Aku pulangnya naik taxi aja, kamu gak usah jemput. Biar gak bolak balik," kata Hana merasa tidak enak.
"Gak! Pokoknya aku jemput ntar. Ayo berangkat sekarang aja," ucap Hasan sambil berjalan keluar.
Hana memasang wajah manyun dan mengekor di belakang Hasan.
Mereka berdua kemudian menuju Mall besar yang berada di tengah-tengah kota.
Setengah jam kemudian, mereka sampai di depan Mall tersebut.
"Kamu hati-hati yah, kalo ada apa-apa langsung telpon aku!" ucap Hasan.
"Iya, kamu juga hati-hati! Jangan ngebut!"
Hasan tersenyum mendengar perintah Hana. "Kalo aku belum nyampe sini, kamu jangan pergi dulu. Pokoknya harus tungguin aku. Jangan mau kalo ada orang yang tiba-tiba pengin nganterin kamu pulang, sebelum aku dateng,"
"Iya, iyaaa! Pasti aku tungguin koq. Palingan ntar juga kamu udah nyampe sini, aku masih belanja di dalem," jawab Hana sambil tersenyum.
"Percaya kalo itu. Udah masuk sana, aku mau cabut nih,"
"Iya udah cabut aja dulu," kata Hana.
"Kamu masuk duluan, biar aku gak khawati," ucap Hasan.
Mendengar kalimat terakhir Hasan, Hana merasa senang. Ia tersenyum kepada Hasan, kemudian melambaikan tangan dan berbalik berjalan masuk ke dalam Mall. Ada rasa bahagia tersendiri di hati Hana, saat Hasan peduli terhadapnya.
__ADS_1
Hasan mengembangkan senyumnya ketika istrinya begitu patuh dengan perintahnya.
"Istri yang baik, cantik pula," gumam Hasan sambil tersenyum.
Hasan kemudian meninggalkan Mall, untuk mengambil mobil Wawan. Siapa tau, Wawan sudah berada di rumah.
Hana langsung menuju Hypermart untuk membeli segala kebutuhan dirinya maupun untuk rumahnya.
Hana mengambil kereta dorong, menyusuri setiap rak-rak produk yang ia butuhkan.
"Em, Hasan aku beli-in sabun nya sekalian gak yah? Ehh, tapi gak usah deh, biar dia beli sendiri aja. Aku beli kebutuhan buat aku aja," tutur Hana ketika sampai di tempat sabun.
Hana terus melanjut berbelanja lagi, segala bumbu dapur, makakan pokok, dan segala kebutuhanya sudah ia beli semua. Hana melanjutkan langkahnya untuk mencari bahan untuk isi kulkas. Dengan sedikit kepayahan, Hana mendorong keranjang belanjaan-nya menuju sayur mayur dan daging.
"Duh berat banget nih," keluh Hana sedikit mengeluarkan otot di lengannya.
Keranjangnya sudah penuh, dia bahkan susah untuk melihat jalan yang berada di depannya. Padahal sayur, telur, dan daging, belum ia beli.
"Ternyata repot juga yah, belanja bulanan sendirian," keluh Hana lagi.
Tiba-tiba saja, keranjang dorong Hana menabrak seseorang yang tidak ia ketahui. Seorang pria yang tengah berjongkok memilah telur, tubuhnya sedikit bergeser akibat ditabrak dengan keranjang Hana.
"Aw!" pekik Pria tersebut.
"Astagfirulloh! Maaf, maaf, aku gak sengaja, aku gak liat kalo ada orang! Maaf yah," ucap Hana sambil menggosok kedua tangannya di depan wajahnya, ia merasa tidak enak.
Pria tersebut kaget memandang Hana. Ia kemudian berdiri, Hana pun mengikutinya.
"Loh, dia ini, ce-wek yang aku bogem pake bola. Dia, dia Ha-na?" kata Raja dalam hatinya.
Ternyata cowok yang ditabrak Hana adalah Raja, teman Samuel yang sekolah di BK 1.
"Kamu gak papa kan? Gak ada yang luka kan?" tanya Hana sambil mendekat kepada Raja, mengamati apakah ada luka di tubuhnya yang tertutup dengan jaket itu.
"Oh, gak papa koq! Punggung aku tadi yang kena, lumayan sakit sih," ucap Raja sambil mengelus punggung bagian bawah.
"Duh, maaf banget yah," ucap Hana sambil mengelus punggung Raja sebentar.
"I-i-iya, gak papa koq," ucap Raja sedikit terbata begitu Hana mengelus punggungnya sebentar.
"Aku jadi gak enak deh sama kamu," ucap Hana dengan raut wajahnya yang merasa bersalah.
"Udah biasa aja, aku maklumin koq. Belanjaan kamu kan banyak, pasti tadi gak liat ada aku yang lagi jongkok di bawah," tutur Raja diiringi senyuman.
Melihat raut wajah Hana, ia sendiri merasa tidak enak. Raja menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Iya, aku tadi emang gak liat. Sekali lagi minta maaf yah,"
"Iya, udah aku maaf-in koq. Kamu gak usah merasa bersalah gitu," ucap Raja.
"Makasih yah udah mau maafin aku. Kalo gitu aku duluan ya," ucap Hana kemudian kembali ke keranjangnya dan mulai mendorong lagi dengan susah payah.
"O- oke!" jawab Raja.
Hana melewati Raja. Raja memperhatikan Hana yang terlihat sangat kesusahan mendorong keranjangnya. Raja kemudian mengejar Hana niat untuk menolong dan sekalian mengorek informasi tentang masalah Samuel.
"Ehh tunggu!" seru Raja diringi lari kecil.
Hana berhenti dan menengok ke belakang. Raja kemudian menjajari Hana dan tersenyum.
"Ada apa lagi, Kak? Maaf aku panggilan Kakak yah!" ucap Hana.
Raja kemudian tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Kenalan dulu deh biar enak. Namaku Raja! Kamu siapa?"
Dengan ragu, Hana menjabat tangan Raja. "Aku, Ha-na,"
"Salam kenal ya, Hana! Ngomong-ngomong, kamu koq belanja sendirian,"
"Iya nih!"
"Aku bantuin dorong yah, kayaknya kamu keberatan gitu," ucap Raja menawarkan diri sambil tersenyum.
Hana memperhatikan Raja dari ujung kaki hingga kepala. Tiba-tiba ia tersadar akan suatu barang, saat melihat tangan kanan Raja membawa satu kantong telur.
"Ya ampun! Hampir lupa!" seru Hana sambil menepuk jidatnya.
"Kenapa, Han?" tanya Raja mengernyitkan alis.
"Itu, aku mau beli telur. Untung kamu bawa telur, jadi inget akunya," ucap Hana sambil menunjuk telur yang di tenteng Raja.
"Oh, iya udah biar aku ambilin aja ya? Mau berapa kilo?" tanya Raja.
"Duh jadi ngrepotin deh,"
"Enggak koq, justru aku seneng bisa bantuin kamu. Apalagi liat belanjaan kamu yang penuh begitu," ucap Raja sambil tersenyum.
"Hehehe! Iya udah deh. Dua kilo aja telurnya. Makasih ya, em ... Siapa nama kamu tadi,"
"Raja nama aku. Masa baru kenalan udah lupa sih!"
"Hehe, maaf, mikirin belanjaan soalnya," jawab Hana sambil tertawa.
__ADS_1