Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
Apa Karena Aku Memarahimu?


__ADS_3

Hasan keluar dari dalam kamar dengan kaos oblong dan celana panjang.


"Hana ... Dia tidur. Apakah aku terlalu lama berada di dalam kamar? Baiklah, aku akan ambilkan bantal dan selimut untukmu," gumam Hasan sembari mengusap pipi Hana dengan lembut.


Hasan kembali dengan membawa bantal dan selimut. Ia merebahkan tubuh Hana di sofa yang empuk dengan posisi terlentang. Kemudian, ia menyelimutinya. Hasan menghela nafas dalam-dalam sambil memandangi wajah istrinya yang terlihat semakin pucat.


"Cepat sembuh, Hana ... Sembari menunggu ia terbangun, aku akan memasak dan membersihkan rumah. Setelah itu, aku akan segera membawanya ke rumah sakit," tutur Hasan, lalu berjalan menuju dapur. Ia memakai celemek dan mulai memasak sup. Sebelumnya, ia sudah memasak beras di magicom.


Sambil menunggu sup matang, Hasan menggoreng telur dan juga tempe. Seperti sudah terbiasa di dapur, tanganya begitu lihai mengolah semua makanan dan menggunakan segala peralatannya.


Setelah selesai memasak, Hasan melanjutkan membersihkan rumah dari mengelap semua barang, membersihkan kaca, mencuci piring, menyapu, dan terakhir mengepel. Semuanya ia lakukan sendiri tanpa ada yang membantu.


Hasan menuangkan air minum ke dalam gelas dan segera menghabiskannya. Ia menyeka keringat dengan tisu. Perutnya sudah keroncongan. Jam menunjukan setengah tujuh pagi. "Hana masih tidur, dan aku sudah sangat lapar. Apa aku bangunkan dia saja untuk sarapan bersama." Gumam Hasan sambil menatap Hana dari kursi meja makan.


Sambil menahan rasa laparnya, Hasan melepas celemek lalu menghampiri Hana. Hasan mengecek suhu tubuh Hana, "loh kok tiba-tiba dia panas sih, tadi kan belum ... Hana, Hana, bangun, Han," Hasan mengucap usap pipi Hana dengan lembut.


Dengan mata yang masih terpejam, Hana menjawab kata-kata Hasan. "Dingin, San. Ntar aja ya aku bangunnya," gumam Hana.

__ADS_1


Hasan bertambah panik melihat keadaan Hana. Ia kemudian memeriksa seluruh tubuh Hana. Semuanya panas kecuali telapak kakinya yang begitu dingin. Hasan lalu menggendong Hana ke kamar agar dia lebih nyaman untuk beristirahat. Tak lupa, Hasan mencari kaos kaki dan memakaikannya sekalian.


"Keadaan kamu yang seperti ini, sebaiknya aku telpon dokter aja. Kita gak usah ke rumah sakit. Sabar ya, Han." Hasan menekan nomor dokter yang sudah ia kenal untuk datang ke rumahnya.


Hasan begitu khawatir melihat kondisi Hana yang bertambah pucat dan badannya panas.


Hasan bahkan lupa jika dirinya belum sarapan. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan Hana.


"Tadi malam kamu masih baik-baik aja. Kenapa sekarang sakit. Apa karena aku udah marahin kamu?" ucap Hasan sambil memijat kaki Hana dengan lembut.


"Aku khawatir sama kamu, mana bisa makan. Kalo pun bisa, rasanya akan berbeda. Maaf yah, karena aku sudah sering memarahi mu. Pasti gara-gara aku juga, kamu jadi pusing," Hasan merasa bersalah.


"Aku yang salah. Kamu berhak marahin aku. Sudah, makan dulu aja. Setelah ini, aku mau ngasih tau kamu sesuatu. Menyangkut masalah Samuel," tutur Hana.


Hasan menghela nafas, tak menyangka jika posisi sakit pun, Hana masih memikirkan Samuel.


"Ya udah kalo gitu. Aku sarapan dulu," Hasan keluar dari kamar Hana. Dengan langkah malas, ia berjalan ke dapur dan mulai makan sendiri. Baru satu sendok tapi nafsu makannya sudah hilang begitu saja.

__ADS_1


Hasan mengambil baskom kecil dan memberinya air hangat. Tak lupa, handuk kecil ia bawa untuk alat mengompres Hana.


***


"Semalam, Hasan minta nomor Raja. Dan hari ini, Hasan sama Hana tiba-tiba gak berangkat sekolah dengan alasan yang sama. Ada apa sebenarnya sama mereka? Apa mereka bertengkar gara-gara masalah nomor Raja. Ya ampun, jika ini benar, berarti akulah penyebab mereka gak masuk hari ini," Cantika berkata dalam hatinya. Ia kemudian berinisiatif menghubungi nomor Hasan. Namun, beberapa kali ia menelpon, Hasan tidak menjawabnya.


"Huft, benar-benar ada masalah dengan dia," gumam Cantika. "Tapi, bagus lah kalau mereka bertengkar. Aku ingin sekali melihat Hana merasa terpuruk. Meskipun itu tidak akan pernah terjadi," ucap Cantika menyunggingkan senyum. Ia berbalik badan dan cukup terkejut ketika Damar, ternyata sudah berdiri di belakangnya.


"Haaa, ya ampun! Ngagetin aku aja," ucap Cantika seraya mengusap dadanya.


Damar melipat tangan di depan dada. "Apa kamu bisa jelaskan maksud dari perkataanmu tadi?" tanya Damar.


"Cih, untuk apa aku menjelaskannya kepadamu. Siapa kau!" ucap Cantika dengan wajah juteknya.


"Jadi begitu, tidak mau memberitahu? Ya sudah, aku akan tanyakan sendiri ke orangnya. Lagi pula, percuma juga bicara denganmu. Selain tidak mendapat jawaban, bicara denganmu hanya membuang waktu," ucap Damar lalu berjalan meninggalkan Cantika.


"Cih, dasar kacungnya Hana. Entah masalah apa yang menimpa Hana, orang ini selalu saja ikut campur. Padahal sudah tau jika perasaannya tidak terbalas. Masih cukup peduli rupanya." Cantika berkata dengan nada kesal lalu masuk ke dalam kelas.

__ADS_1


__ADS_2