
"Ya ampun, San! Kamu itu abis ngapain sih! Kenapa banyak luka di tubuh kamu?" Hana bertanya sambil berjalan kesana kemari mencari kotak P3K.
Setelah ketemu, Hana meletakannya di atas meja. Ia kembali berjalan mengambil segelas air putih untuk Hasan.
"Nih minum dulu!" ucap Hana dengan raut kecemasannya.
"Makasih, Han!" kata Hasan sambil menerima air tersebut.
Tanpa basa basi, Hasan segera menghabiskannya. Tenggorokannya memang sangat kering. Ada rencana saat pulang berkelahi, ia akan menghabiskan satu galon air dalam rumahnya. Namun, niat itu sirna ketika mendapati Hana yang ternyata belum tidur.
Kini, ia harus menjawab semua pertanyaan yang akan Hana lontarkan pada dirinya.
"Ayo, buka baju kamu, aku akan bantu obatin!" ucap Hana dengan membawa baskom yang berisi air bersih dan juga handuk kecil.
"Aku gak papa koq, Han! Biar aku obatin sendiri aja!" ucap Hasan sambil tersenyum mencoba baik-baik saja.
Hana tampak kesal melihat ekspresi Hasan yang terkesan biasa dan jawabannya yang seolah-olah mengacuhkan dirinya.
"Gak papa gimana? Luka kamu dimana-mana, kamu pasti habis berantem kan? Sama siapa, San? Jawab aku!" tanya Hana kemudian menarik kaos Hasan dengan paksa.
"Aw, sakit Han! Kasar banget sih kamu! Gak bisa pelan dikit apa?" ucap Hasan menahan perih, nyeri, dan pegal disekujur tubuhnya yang terluka.
"Kalo kamu masih bisa ngrasa sakit, ngapain kamu mesti berantem segala? Kamu bukan orang yang kebal akan senjata, San! Ditinju aja kamu terluka, bisa ngeluarin darah, apalagi dengan benda tajam!" seru Hana sambil mengangkat lengan Hasan berniat menunjukan luka goresan yang diakibatkan oleh benda tajam.
Hasan kemudian membuang wajahnya tak berani menatap mata istrinya lagi.
Hana merasa sedih melihat Hasan yang pulang dengan kondisi terluka. Ia kemudian mencelupkan handuk ke dalam air bersih ban hangat, lalu memerasnya dan mengelapkan ke seluruh bekas luka Hasan.
Meskipun perih, Hasan berusaha menahannya agar tidak mengaduh. Apalagi saat dibagian perut dan lengannya, Hana seperti sengaja menenakn luka itu dengan keras, hingga Hasan meringis menahan sakit.
Hana tau, kalo Hasan merasakan sakit, tapi ia tak peduli. Hana bahkan mulai menitikan air mata. Namun, dengan segera, Hana mengusapnya.
__ADS_1
"Kamu habis berantem sama siapa, San? Samuel? Iya?" tanya Hana lagi sambil menahan tangis.
Hasan mendengar nada bicara Hana bergetar, ia tahu bahwa Hana kini menangis. Meskipun di tahan, tapi Hasan dapat melihat air itu meluncur dari mata Hana.
"Aku tau kamu jago berkelahi, San! Tapi aku gak suka kalo beladiri kamu, kamu gunain buat hal yang gak penting, dan buat gaya-gayaan aja, San! Apalagi buat nantangin orang! Aku gak suka, aku gak mau ...."
Mendengar kalimat yang diucapkan Hana, Hasan berdiri, ia terlihat marah. Hana kaget dan ikut berdiri.
"Gaya-gayaan gimana maksud kamu, Han! Aku begini karena aku belain Damar, dan juga kamu!" ucap Hasan dengan sedikit kesal karena malah disalahkan.
"Maksud kamu? Kamu tau siapa orang yang sudah nyelakain, Damar? Siapa, San?"
"Dia Samuel, Han!"
"Apa! Samuel lagi?"
"Samuel pikir, orang yang udah nyerang dia waktu di kebun jati itu adalah Damar, Han! Dan dia juga mikir kalo, Damar yang udah ngeluarin dia, padahal, semua itu gak bener! Makanya dari itu, aku belain kalian berdua! Aku bales perbuatan Samuel demi kalian!" ucap Hasan dengan nada tinggi.
"Terus dengan cara apa? Diam! Seperti kamu yang terus ditindas, Cantika! Sorry, aku bukan tipe seperti itu, Han!" jawab Hasan sambil mengangkat kedua tangannya.
Dengan kesal, Hasan pergi ke dalam kamar dengan mengenakan celana saja.
Hana kemudian berusaha mengejar Hasan.
"San, maksud aku gak gitu juga. Kamu mau kemana? Luka kamu belum selesai aku bersihin, belum aku obatin juga, San!"
BRAK!
Hasan menutup pintunya dengan keras, membuat Hana kaget. Hana merasa bersalah sekarang, karena kalimat yang ia ucapkan, ternyata membuat Hasan terluka.
"San! Kamu marah? Aku gak bermaksud menyinggung perasaan kamu koq, aku minta maaf, San!"
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
Hana terus mengetuk pintu kamar Hasan, ia menangis sambil terus menggedor pintu kamar Hasan.
"San, buka pintunya, luka kamu harus diobatin, San! Buka pintunya ... Oke, aku salah! Maafin aku, San! Aku gak bermaksud bikin kamu marah. Aku cuman gak mau kamu kenapa-napa, San! Aku khawatir sama kamu, itu aja! ... San, tolong buka pintunya, luka kamu harus diobatin," Hana berteriak dari luar.
Hasan duduk dibalik pintu. Ia merasakan perih di hatinya. Rasa perih luka goresnya tak sebanding dengan perih di hatinya. Kalimat Hana benar-benar membuatnya merasa tak dihargai.
"San, buka pintunya, aku minta maaf, San! Hasan! Buka pintunya," ucap Hana dengan nada lemas.
Sudah lama ia berdiri di depan pintu kamar Hasan, bahkan sekarang ia terduduk di lantai, Hasan tak kunjung membukakan pintu untuknya. Hana benar-benar merasa bersalah.
"San, kamu bener-bener marah sama aku? Kamu gak mau bukain pintu buat aku? San! Jangan marah sama aku, aku minta maaf. Luka kamu harus segera diobati, San! Besok kita ulangan loh ... Hasan ...."
Tak ada jawaban dari dalam kamar Hasan. Hana merasa putus asa. Ia kemudian beranjak dari lantai.
"Ya udah, aku balik ke kamar yah. Kalo kamu gak mau aku obatin, kamu obatin sendiri lukanya, San! Kotak P3K nya udah aku bawa di depan pintu kamu. Sekali lagi, aku minta maaf ya, San, udah bikin kamu marah. Aku cuman khawatir sama kamu. Aku, aku gak mau kamu kenapa-napa, San! Aku gak mau kamu punya musuh, aku gak mau jika suatu saat banyak orang nyariin kamu buat ngehajar kamu. Hanya itu yang aku takutkan, San! Good night, San!"
Hana kemudian pergi dari depan kamar Hasan. Dengan langkah yang sesekali berhenti dan kembali menengok ke arah kamar Hasan. Berharap Hasan membuka pintu dan mengambil kotak P3K tersebut. Namun hasilnya nihil. Hana kemudian menutup pintu kamarnya sendiri. Ia berjalan lemah, bukan untuk tidur di kasurnya, melainkan merebahkan tubuhnya di sofa yang berada di depan akuarium.
Hana melihat ikan-ikan hias di sana yang masih asyik berkejar-kejaran hingga tak terasa ia terlelap.
Hasan masih terjaga. Ia kemudian berpindah ke atas ranjang. Dengan dada telanjang, ia merebahkan tubuhnya di kasur. Dia memandang hape dan membuka gallery.
Dilihatnya foto dirinya dan Hana pada saat malam tunangan. Mama Darma mengirimnya banyak foto. Foto dirinya dengan Hana yang terlihat sangat manis dan serasi.
"Semua yang aku lakuin itu demi kamu, Han! Bukan untuk siapa-siapa! Aku peduli sama kamu, aku ... A-ku ...."
Hasan tidak melanjutkan kalimatnya lagi, ia kemudian mendekap hapenya dan kemudian terlelap dengan luka yang ia biarkan terbuka.
Keesokan harinya, Hana bangun waktu subuh, ia mengambil kotak P3K yang ternyata masih diam di tempat tak di sentuh sedikitpun. Hana bergegas membersihkan badan dan menunaikan kewajibannya. Setelah selesai, ia menyiapkan sarapan. Dia menunggu Hasan di meja makan, namun tak kunjung datang.
__ADS_1