Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
43. Hasan bertemu Raja


__ADS_3

"Hehehe, iya kah? Maaf deh, soalnya aku kan kenal Samuel, biarpun itu dulu. Kita kan pernah jadi teman dekat juga. Jadi gak ada salahnya kalo aku nanya-nanya sama kamu,"


"Udah jangan sebut nama dia dulu. Aku masih trauma sama dia. Aku gak nyangka kalo dia seburuk itu. Ngomong-ngomong aku makasih banget loh karena kamu udah mau nolongin aku dorong keranjang belanjaan aku. Udah ditemenin juga nyampe sini,"


Belanjaan Hana sudah rapih di kemas oleh kasir.


"Oke Han, aku gak bahas Samuel lagi. Aku nanti bawain nyampe depan yah," kata Raja sambil meletakkan tangannya di atas kantong belanjaan Hana.


"Gak usah biar aku bawa pake kereta dorong aja ... Totalnya berapa, Mba?" tanya Hana kepada petugas kasir.


"Dua juta delapan ratus, Mbak!" jawab mbak kasir.


Hana menyerahkan kartu ATM yang baru saja diberikan oleh Hasan di rumah tadi kepada sang kasir. Setelah digesek, mbak kasir menanyakan pin ATM Hana. Hana mendadak kebingungan.


"Aduh bego! Kenapa aku gak nanya pin-nya tadi! Dan Hasan, juga sama begonya kaya aku gak ngasih tau pin-nya. Kalo dikira kartu curian gimana?" Hana berkata dalam hatinya, ia menutupi kegugupannya dengan terus tersenyum.


"Sebentar ya mbak, saya inget-inget dulu. Lupa soalnya," ucap Hana sambil menggaruk dahi.


"Koq bisa lupa Han, biasanya kamu belanja pake kartu itu kan?"


"Aduh aku baru pertama kali belanja dan ini, ini ATM nyokap aku, Ja. Nyokap lupa gak ngasih tau pin-nya juga," jawab Hana sedikit panik.


"Bentar ya Mbak," ucap Hana lagi kepada mbak kasir.


Hana mengeluarkan hapenya dan mulai menghubungi Hasan. Raja dan mbak kasir terus memperhatikan Hana yang terlihat gugup.


Begitu telepon tersambung, Hana langsung menanyakan pin.


"Hall-o ...."


"Mamah, pin ATM nya berapa? Hana udah selesai belanja nih. Mau bayar tapi gak tau pin-nya!" ucap Hana dengan geregetan.


Hasan mengernyitkan alis begitu mendengar penuturan dari Hana. "Mama? Kamu sama siapa di situ?"


"Udah Mah, buruan kasih tau nomor pin-nya, langsung chat Hana, yah," Hana dengan kesal memutus telepon nya.


Hasan kemudian segera mengirim nomor pin. Hana segera memencet pin-pin tersebut di kasir. Kini, ia sukses membayar tapi, rasa malunya masih melekat di dadanya.


"Maaf ya mbak, udah nunggu lama," ucap Hana dengan wajah malu.


"Iya gak papa, Kakak!" jawab sang kasir.


Raja kemudian membawakan belanjaan Hana yang berjumlah tiga bungkus dengan kantong besar-besar. Hana diperintah Raja untuk membawa telor saja. Mereka berjalan ke depan.


Hana memperhatikan Raja yang terlihat kerepotan. Ia merasa tidak enak. Tapi itu juga bukan kemauannya sendiri, melainkan keinginan Raja.


"Ja, udah sini aku aja yang bawa," ucap Hana.

__ADS_1


"Gak usah, kamu bawa telornya aja biar gak pecah. Eh, ngomong-ngomong, telur aku, kamu juga yang bayarin dong?" tanya Raja.


"Iya, struknya jadi satu," jawab Hana.


"Nanti aku ganti yah, berapa?" tanya Raja lagi.


"Gak usah, cuman 22 ribu aja koq,"


"22 ribu kan tetep hutang juga, Han! Pokoknya aku ganti deh,"


"Gak usah, kamu kan udah nolongin aku, Ja!"


"Aku nolongin kamu itu ikhlas, gak minta bayaran,"


"Tapi aku juga ikhlas Ja, bayarin kamu,"


"Tapi kan duit yang buat bayar bukan duit kamu, udah pokoknya aku ganti. 22 ribu kan?"


"Iya udah deh, terserah kamu aja," jawab Hana yang sudah tak mau berdebat lagi.


Mereka terdiam sejenak.


"Ja, nyampe sini aja. Biar aku yang bawa keluar," ucap Hana berhenti di depan pintu Mall.


"Aku bawain sampe mobil kamu, sekalian pengin kenalan sama cowok yang dipercaya sama orangtua kamu," kata Raja mantap.


"Dih, itu anak ngotot banget sih," gimana Hana kemudian mengejar Raja keluar sambil menenteng telur.


"Ja, Raja! Tunggu!" seru Hana dari belakang.


"Hana!" teriak Hasan yang berdiri di depan mobil sambil melambaikan tangan ke arah Hana.


Hasan kemudian berlari ke arah Hana. Raja menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.


"Oh, jadi cowok itu yang dipercaya orangtua Hana!" kata Raja dalam hatinya.


Hana tersenyum kecut kepada Hasan, yang sekarang sudah berdiri di depannya dan juga Raja.


Hasan memandangi Raja dari atas hingga bawah. Demikian juga yang dilakukan oleh Raja kepada Hasan.


"Han, siapa cowok ini! Dia gangguin kamu di dalem?" tanya Hasan menatap sinis Raja.


"Eh, nggak koq San, justru dia nolongin aku tadi. Kenalin, namanya Raja ... Raja, dia Hasan ...."


"Orang kepercayaan orangtua kamu?" tanya Raja melirik Hana sambil tersenyum.


"Hehehe, iya Ja," jawab Hana sambil memandang Hasan dan Raja bergantian.

__ADS_1


"Kenapa dia gak ikut nemenin kamu belanja! Yakin nih kalo dia cowok yang bertanggung jawab?" ucap Raja tanpa lepas memandang Hasan.


"Eh maksud kamu apa ngomong kayak gitu!" Hasan maju satu langkah ke arah Raja.


Tatapan mata Hasan begitu sengit. Hana kemudian menengahi mereka berdua sebelum terjadi kesalahpahaman.


"Tenang, tenang. Kalian berdua jangan ribut oke. Hasan kamu bawa nih belanjaannya," ucap Hana sambil mengerlingkan mata kanannya.


Hasan beralih melihat Hana dengan kesal, kemudian menarik paksa kresek dari tangan Raja.


"Ja, makasih yah udah dibantuin bawa sampe sini," ucap Hana.


Hasan dan Raja masih saling menatap dengan sinis. Hana kemudian mendorong Hasan dengan lengannya agar berjalan ke arah mobil.


"Udah buruan jalan," kata Hana.


Mereka berdua sudah dekat dengan mobil, sedangkan Raja masih berdiri mematung di tempatnya sambil memandang Hana dan Hasan dari belakang.


"Hana tunggu!" seru Raja dari tempat.


Mendengar seruan Raja, Hana dan Hasan berhenti dan berbalik melihat Raja yang kini berlari ke arah mereka berdua.


"Ada apa kamu manggil Hana! Kamu kalo ada urusan sama dia, berati berurusan sama aku juga," ucap Hasan.


"Santai aja kali, aku cuman mau ngambil telor aku koq," jawab Raja tersenyum sinis.


"Ya ampun, aku lupa! Maaf ya Ja ... Nih telor kamu," Hana menyerahkan satu kantong telor kepada Raja.


Raja kemudian menerimanya. Ia tak lupa mengeluarkan uang 22 ribu yang kebetulan pas.


"Gak papa. Nih uangnya," ucap Raja.


Hana dengan sedikit enggan menerima uang tersebut.


"Makasih yah, buat pertemuan hari ini. Semoga kita bisa ketemu lagi, aku duluan ya, bye!" Raja tersenyum melambaikan tangan dengan berjalan mundur.


Hana membalas senyuman Raja. Raja kemudian berbalik berjalan maju meninggalkan Hasan dan Hana.


Hasan tampak memperhatikan Hana dengan tatapan tajam. Hana kaget saat melirik ke arah Hasan yang tengah menatap wajahnya.


"Ayo jalan lagi, San!" ucap Hana kemudian mendahului langkah Hasan.


Hasan mengekor di belakang Hana dengan perasaan kesal.


"Kamu suka pada pandangan pertama sama tuh anak!" ucap Hasan tiba-tiba.


"Iiih, apaan sih kamu, koq tiba-tiba ngomong begitu. Ya nggak lah, nagco!" jawab Hana ketus.

__ADS_1


__ADS_2