
"Cantika bakal berubah, gak akan jahatin aku lagi, San! Aku percaya hal itu," jawab Hana diiringi senyuman.
"Terus, selama tiga tahun lalu, hingga sekarang, empat tahun! Apa dia udah berubah, Han? Apa dia udah baik sama kamu?" tanya Hasan dengan geram, dan hanya di balas dengan gelengan kepala oleh Hana.
"Itu karena kamu diem aja, Hana!" seru Hasan geregetan.
Belum sempat menjawab, Hana telah dipanggil lebih dulu oleh Pak Guru.
"Hana! Giliran kamu!" teriak Pak Guru dari kejauhan.
Hana memandang Hasan sebelum menghampiri Pak Guru. Ada raut kecewa di wajah Hasan.
Hana sudah memposisikan dirinya untuk berlari. Dia mengambil ancang-ancang.
"Mulai!" teriak Pak Guru menggunakan toa.
Hanapun berlari sampai batas finish, dan pada saat hendak kembali mencapai batas start, tiba-tiba ada bola terbang yang langsung mengenai kepala Hana dengan keras.
Hana seketika merasa pusing dan pingsan di tempat. Hidungnya mengeluarkan darah segar.
Semua murid berlari ke arah Hana. Terlebih Hasan, Yusi, dan Damar. Mereka berteriak memanggil nama Hana berbarengan.
"Haannaaaaaaa!"
Dari kejauhan terlihat tiga anak muda yang memakai seragam kuning tersenyum senang melihat Hana terkapar. Cantika pun tersenyum sumringah.
"Hana, bangun, Han!" ucap Hasan merasa khawatir.
"Langsung bawa ke UKS sekolah, ayo!" teriak Pak Guru.
Dengan perasaan panik, Hasan menggendong Hana dengan langkah sedikit berlari diikuti oleh semua murid kecuali Damar dan Pak Guru.
"Hana, bangun, Han!" ucap Hasan dalam hatinya.
Sementara Damar dan Pak Guru masih dilapangan untuk berdiskusi dengan sekolah BK 1, untuk masalah Hana, karena kebetulan yang menendang bola adalah siswa BK 1.
"Maaf, Pak tapi saya gak sengaja! Tadi kebetulan mau nendang ke gawang tapi malah meleset. Ini benar-benar gak disengaja, Pak," tutur siswa yang menendang.
Damar dan Pak Guru mendengarkan penuturan siswa tersebut. Dan guru dari sekolah BK 1 juga sudah menjelaskan bahwa ini sebuah kecelakaan yang tidak disengaja. Jadi tidak perlu dibesarkan. Pak Guru dan Damar lalu pergi meninggalkan alun-alun menuju sekolah kembali.
"Han, bangun dong," Yusi mengelus tangan Hana dengan lembut.
Yusi merasa bersalah karena sudah marah sebelum insiden tersebut. Ada air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Sementara Hasan tidak bisa berkata apa-apa selain memandangi Hana yang masih pingsan di brankar UKS.
__ADS_1
Dokter yang dihubungi pihak sekolah kemudian datang dan segera memeriksa keadaan Hana.
"Gimana, Dok! Apa terjadi sesuatu dengan Hana?" tanya Hasan khawatir.
"Tadi ada darah juga yang keluar dari hidung, Dok," sambung Yusi.
"Insya Alloh gak papa, itu cuman mimisan aja koq. Tapi nanti kalo sudah sadar, mau di bawa ke rumah sakit juga gak papa. Saya saranin rongsen," ucap Bu Dokter dengan tenang.
"Di rongsen? Emangnya parah, Dok, sampe di rongsen segala," tanya Yusi risau.
"Oh, nggak sih. Sejauh ini, teman kalian masih baik-baik aja, tapi dilihat dari bekas tendangan bolanya, kayaknya cukup keras ya tadi! soalnya sampe mimisan juga. Maka dari itu, Saya saranin buat rongsen," ucap Bu Dokter menjelaskan, sebelumnya, dokter sudah diberitahu perihal kecelakaan Hana.
"Kalian jangan terlalu khawatir, gak ada yang parah koq sama temen kalian. Dia hanya pingsan aja, pusing banget pasti kepalanya. Saya nyaranin buat rongsen karena takut terjadi sesuatu dengan kepalanya. Tapi kalo nanti teman kalian sudah sadar dan tidak menunjukan hal yang aneh, kalian tidak usah khawatir, artinya, teman kalian baik-baik saja. Saya permisi dulu yah," ucap Bu Dokter diiringi senyuman, kemudian pergi meninggalkan ruang UKS bersama wali murid Hana.
"Iya terimakasih, Dokter," jawab Yusi.
"Hana, kamu bikin aku khawatir aja. Bangun, Han!" Hasan berkata dalam hatinya.
Damar dan Guru Olahraga kemudian masuk untuk mengetahui kondisi Hana.
"Gimana keadaan Hana, San, Yus?" tanya Damar.
"Alhamdulillah, kata dokter gak papa, cuman pingsan aja," jawab Yusi.
"Em, sudah, Pak!" jawab Hasan berbohong.
"Kalo gitu, yang tunggu di sini cukup satu orang saja yah, nanti saya izinkan ke guru berikutnya. Yang lain ikut pelajaran seperti biasa," terang Guru Olahraga.
"Baik, Pak!" jawab Hasan.
"Yang jagain Hana, nanti tolong konfirmasi ke saya yah," ucap Pak Guru lagi.
"Iya pak," jawab Yusi.
Pak Guru lalu pergi meninggalkan UKS.
"Biar aku aja yang jagain, Hana," kata Hasan.
"Aku aja," sambung Damar.
"Biar aku aja, kan sama-sama cewek," kata Yusi.
Mereka bertiga lalu saling berpandangan. Mereka sama-sama ingin menemani Hana hingga sadar.
__ADS_1
"Aku mohon sama kalian, izinin aku buat ngejagain, Hana, di sini yah, please! Aku tau kalian juga khawatir, tapi aku mohon sama kalian, untuk kali ini, biar aku yang nemenin Hana," Hasan tampak memohon kepada Damar dan Yusi.
Hasan tampak memohon kepada Damar dan Yusi. Yusi dan Damar saling berpandangan. Damar kini lebih yakin lagi jika Hasan dan Hana mungkin menyembunyikan sesuatu.
"Oke deh kalo gitu, kamu jagain Hana. Kalo ada apa-apa kamu kabarin kita ya, San!" ucap Damar sambil menepuk bahu Hasan.
"Tapi, Dam! Kan aku juga ...." kalimat Yusi terpotong.
"Sudah gak papa," ucap Damar.
"Makasih ya, Dam, Yus," ucap Hasan diiringi senyuman.
"Ini minuman buat kamu," Damar menyerahkan air mineral kepada Hasan.
"Makasih, Dam," jawab Hasan sambil menerimanya.
"Aku sama Yusi, pergi dulu," ucap Damar.
Damar dan Yusi lalu pergi meninggalkan UKS. Damar semakin yakin bahwa Hasan suka sama Hana. Kalo memang itu benar, artinya, Damar harus siap untuk kehilangan kesempatan mendapatkan hati Hana.
Hasan mengelus pipi Hana dengan lembut. Ia merasa bersalah karena baru saja memarahi Hana. Dan kini, gadis yang sudah menjadi istrinya itu tengah berbaring di brankar UKS. Hasan merasakan sakit yang lebih mendalam melihat Hana tak sadarkan diri.
Ia harusnya melindungi istrinya, tapi, ia malah kecolongan.
"Ada apa sama kamu, Han? Kenapa banyak orang yang gak suka sama kamu, apa karna kamu baik? Karna kamu cantik? Aku janji bakalan nglindungin kamu. Tapi hari ini, aku gagal, maafin aku ya, Han!" Hasan mengeluh dalam hatinya.
Hasan merasa gagal karena tidak dapat melindungi anak orang yang sudah dititipkan kepadanya. Orangtua Hana sudah percaya dengan dirinya. Hasan akan lebih merasa bersalah lagi jika sampai kedua orangtua Hana tau akan hal ini.
"Hana, please bangun, aku bingung kalo liat kamu begini. Gimana nanti kalo Mama sama Papa kamu nanyain," ucap Hasan gundah.
Setelah setengah jam berlalu, Hana lalu tersadar.
"Hana!" ucap Hasan merasa senang.
"Aduh, pusing banget nih, San, kepalaku," keluh Hana sambil memegangi kepalanya.
"Jangan bangun dulu, Han. Minum tehnya dulu, mumpung masih anget," ucap Hasan menyodorkan teh tersebut kepala Hana.
Hasan mengambil sedotan yang sudah disediakan. Lalu membantu Hana untuk minum teh tersebut.
"Syukurlah, kamu udah sadar, Han. Aku panik banget tau gak sih! Bukan cuma aku aja, Damar, Yusi, dan semua orang ikutan panik sama kamu ... Sekarang apa yang kamu rasakan?" tanya Hasan penuh perhatian.
Hana merasa senang mendapat perhatian dari Hasan.
__ADS_1