Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
75. Puisi Dari Hati Pilu


__ADS_3

Waktu itu, Rido meledek jika, bagaimana kalo istri Leo, adalah wanita yang disukai oleh Miki? Rido tidak tau menahu jika pertanyaan konyolnya menjadi kenyataan.


"Kamu yang sabar, Mik! Jujur, aku juga bingung harus berbuat apa selain mensupport kamu. Kamu dan Leo, sama-sama sahabat aku," ucap Rido sambil mengusap pundak Miki.


"Makasih, Do! Leo malah salah paham denganku, dia mengira kalo wanita yang aku cintai adalah, Cantika!" tutur Miki kembali.


"Koq bisa!"


"Iya, dia bilang begitu!" jawab Miki kemudian merebahkan tubuhnya di kasur.


"Gak mungkin! Leo pasti sudah mengetahui hal ini sebelumnya. Leo gak jujur sama, Miki. Aku harus ketemu dia kapan-kapan," ujar Rido dalam hatinya.


Rido kemudian ikut merebahkan diri disebelah Miki. Miki masih asyik memandangi langit-langit kamar Rido, yang bercat putih.


Matanya menerawang jauh di sana.


"Jujur, aku belum siap kalo harus kehilangan Hana, Do! Menurut kamu, apa yang harus aku lakuin?" tanya Miki.


Rido melirik Miki sekilas, "sebagai kakak, kamu gak mungkin kan merebut istri adik kamu sendiri. Aku hanya bisa nyaranin kamu untuk ikhlas, Mik!"


"Kenyataan ini benar-benar membuatku shock. Ikhlas juga butuh proses, Do!"


"Kalo gitu, kamu harus jauhin Hana. Anggap kamu tak pernah bertemu dengannya. Pergilah kembali ke luar negeri. Disana, kamu bisa melakukan hal positif tanpa gangguan,"


"Dengan kenyataan besar seperti ini, pikiranku sudah pasti terganggu, Do!" jawab Miki.


"Iya, aku tau. Tapi, kamu harus ingat Mik, Hana sudah jadi milik orang lain. Dan itu adik kamu sendiri. Kamu harus membantu mereka untuk bahagia. Kamu gak ada niat buat ngerebut Hana dari Leo, kan?" tanya Rido was-was.


Miki menyunggingkan senyum.


"Aku gak tau! Tolong nyalakan musik, Do! Barangkali aku bisa tidur!" ucap Miki kemudian memejamkan matanya.


Tanpa bertanya lagi, Rido menyalakan musik yang sudah tersambung ke sound, sehingga suara musik tersebut memenuhi isi kamar Rido.

__ADS_1


Mereka terhanyut oleh pikiran masing-masing.


"Gimana kalo Miki, ingin merebut Hana dari Leo? Apa yang harus aku lakuin agar Miki, mau move on! Aku harus temui Leo," gumam Rido dalam hatinya.


"Hari berganti minggu, Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun ... Detik berganti menit, menit beganti jam. Namamu ku lukis di atas langit, tapi, awan menghapusnya, namamu ku lukis dalam buku, namun, air menghilangkannya. Namamu pernah ku lukis di atas pasir, tapi, ombak menghapusnya. Mereka tak akan pernah setia menyimpan namamu terlalu lama. Lalu, aku melukis namamu di dalam hatiku, agar tak ada siapapun yang dapat menghapusnya, kecuali diriku sendiri. Taukah kamu, setiap hari aku menggores tinta di atas buku untuk meluapkan rasa rinduku kepadamu. Setiap hari aku harus berdamai dengan perasaanku yang terus bergejolak ingin berjumpa denganmu. Wajahmu masih ku gambar dalam sketsa-sketsa karyaku. Namun, ketika angin berhasil mempertemukan kita, kamu sudah dimiliki yang lain. Tak ada lagi harapan bersanding denganmu. Pupuslah harapanku. Kenapa kamu tak melukis namaku dalam hatimu, Han! Kenapa kamu seperti awan, seperti air, dan seperti ombak, yang pandai menghapus goresan yang sudah aku lukis! Kamu tau rasanya menanti durian jatuh dari atas pohon di siang hari? Kamu tau rasanya hati yang dihujami jarum? Kamu tau rasanya tergores sembilu? Dan, apa kamu tau rasanya hati yang tertusuk duri dalam semak-semak? Ungkapan ini terlalu sedikit untuk menggambarkan perasaanku saat ini, Han! Aku rapuh, Han! Rapuh! Sungguh rapuh!" Miki berpuisi dalam hatinya.


Miki meneteskan air mata dari sela-sela matanya yang terpejam. Hatinya benar-benar hancur berkeping-keping. Tak mudah baginya menerima hati orang lain. Hana, adalah cinta pertamanya. Tak mungkin dia bisa melupakannya begitu saja. Meskipun hubungan mereka aneh, namun, ikatan batin kala itu sangatlah kuat. Tidak akan tergeser oleh batin yang lain.


Rido ikut merasakan sedih melihat Miki, yang masih meneteskan air mata walaupun dalam keadaan mata terpejam.


"Ini pasti sulit untu kamu, Mik! Percayalah, ini juga sulit untuk Leo, maupun Hana. Hanya diri kalian sendiri yang bisa mengendalikan ego. Atau, ego yang akan mengendalikan kalian," ujar Rido dalam hatinya.


Rido masih melirik Miki, yang terus mengeluarkan air mata dari matanya.


***


Bu Darma sudah tidak mau lagi ke kantor semenjak kesepakatan antara suaminya dengan Bagaskara. Dia masih jijik jika teringat kelakuan Bagaskara di depan toilet.


"Mah, pagi ini, Papah resmi mau ngluncurin produk baru kita. Kamu beneran gak mau ikut? Gimana kalo nanti orang-orang nanyain kamu!" ucap Pak Darma sambil mengigit roti bakarnya.


"Itu urusan kamu, Pah! Mamah kan udah bilang, buat batalin kontraknya. Kamu tetap saja ngotot," jawab Bu Darma kesal.


"Beri papah satu alasan kuat, kenapa, Mamah tiba-tiba menyuruh papah, buat batalin kerjasama ini!" ucap Pak Darma tegas.


Bu Darma bingung harus menjawab apa. Dia takut jika harus menjawab jujur. Sebab, dari dulu, Bu Darma tidak jujur atas hubungannya dengan Bagaskara.


"Bahan itu langka, Pah! Aku gak yakin, Bagaskara bisa memenuhi permintaan Papah," jawab Bu Darma.


Pak Darma tersenyum mendengar jawaban istrinya.


"Kalo soal itu, kamu tidak perlu khawatir. Aku jamin, Pak Bagas akan selalu menyiapkannya dengan rapih. Apa ada hal lain yang kamu sembunyiin dariku, Mah? Jawablah jujur!" ucap Pak Darma menyelidik.


Bu Darma yang kesal akhrinya memutuskan untuk pergi tidak melanjutkan sarapannya.

__ADS_1


"Sudahlah, aku mau pergi ke rumah Hana. Di sini sumpeg!" ucapnya sambil berlalu.


Pak Darma menghela nafas, ia meletakan rotinya yang baru tergigit sedikit. Pak Darma menyandarkan tubuhnya.


"Mencurigakan, harusnya jika alasannya seperti itu saja. Sikapnya tidak berlebihan seperti itu. Pasti ada yang disembunyikan," ucap Pak Darmawan kemudian mengambil hape dari saku jasnya.


Pak Darmawan menghubungi nomor Hana tiga kali panggilan, baru dijawab oleh putrinya itu.


"Hallo, maaf Pah, Hana habis masak, gak denger papah nelpon. Ada apa?" tanya Hana dari seberang sana.


"Maaf, papah mengganggu yah! Em, sebenarnya, pagi ini mamah kamu lagi otw ke rumah kamu,"


"Mamah main ke rumah? Bukannya hari ini ada grand opening produk baru papah? Koq mamah gak ikut sih?" tanya Hana sambil duduk di depan televisi.


"Itu dia, Mamah kamu marah sama papah. Sebab, Papah menerima kerja sama dengan Pak Bagaskara. Ceri, papah minta tolong, galilah informasi dari Mamah kamu, apa sebabnya ia marah. Dan kenapa, papah harus membatalkan kerja sama papah, dengan Pak Bagas,"


"Koq mamah aneh sih,"


"Iya, akhir akhir ini, mamah kamu marah-marah terus. Pasti ada sesuatu yang Mamah sembunyiin dari Papah. Kamu bisa bantu papah kan?"


"Emmm, Ceri akan berusaha, Pah! Tapi, Ceri gak janji yah. Sebab, Ceri juga takut sama Mamah," jawab Hana.


"Oke, makasih yah. Papah tutup dulu teleponnya. Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam," jawab Hana kemudian menutup panggilannya.


"Siapa yang nelpon?" tanya Hasan yang baru saja keluar dari kamar.


"Papah," jawab Hana sambil memandang Hasan yang masih menguap.


Hasan kemudian duduk di samping Hana. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


"Kamu masih ngantuk? Mandi dulu deh sana, biar wangi dan seger," ucap Hana.

__ADS_1


__ADS_2