Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
Bagaskara kaget


__ADS_3

Hasan sudah siap dengan stelan jas warna creamnya. Ia berpamitan kepada Hana, namun Hana terlihat cemberut kepadanya. Semenjak pulang sekolah, Hana lebih sering diam dan cuek kepada dirinya.


Hasan menghela nafasnya beberapa kali sambil merapihkan tatanan rambutnya yang udah keren. Penampilannya pasti membuat semua kaum hawa tersihir.


"Aku mau pergi nih, kamu gak mau nganter suami kamu sampai depan?" tanya Hasan memastikan.


Hana masih tidak bergeming ditempat duduknya. Ia melipat tangan berpura-pura tidak mendengar.


"Ya udah deh kalo gitu. Aku pulangnya agak malem. Gak usah nungguin aku. Do'ain lancar ya, biar kita punya perusahaan sendiri," ujar Hasan kemudian pergi berbalik meninggalkan Hana.


"Ngeselin banget sih, Hasan. Dia gak tau sikapnya tadi di sekolah. Sekarang pergi ke kantor penampilannya begitu. Gimana kalo ada cewek yang naksir sama dia?" gumam Hana.


Hana yang merasa kesal dan juga bersalah, dengan segera menghampiri Hasan yang sudah masuk ke dalam mobil. Hana mengetuk pintu kaca.


Hasan tersenyum kemudian menurunkan kaca mobilnya.


"Ada apa?" tanya Hasan dengan tatapan manisnya.


"Ati-ati. Nanti kalo ada yang godain kamu, kamu cuek aja." ucap Hana kemudian menarik tangan Hasan dan menciumnya.


Hasan merasa berbunga-bunga karena untuk pertama kalinya Hana memperingati dirinya. "Tenang aja, aku gak nakal kayak kamu kok. Nanti mau dibawain apa?"


"Kamu pergi kerja bukan kuliner. Gak usah bawa apa-apa. Aku do'ain semoga lancar diberikan yang terbaik buat kamu."


"Buat kita dong,"


"Iya buat kita," ucap Hana tersenyum.


"Coba lebih dekat sini," perintah Hasan dengan isyarat tangannya.


"Ada apa?" tanya Hana seraya mencondongkan kepalanya masuk ke dalam.


Hasan menatapnya dengan penuh cinta, lalu menahan kepala Hana, dan ******* bibirnya beberapa detik.

__ADS_1


Hana membulatkan mata mendapat serangan dari Hasan yang tiba-tiba.


"Aku pergi dulu. Kamu langsung tidur aja. Assalamu'alaikum," ucap Hasan.


"Wa'alaikumsalam,"


Hana melambaikan tangan menatap kepergian mobil Hasan. Ia merasa bahagia dan cukup terharu dengan kerja keras Hasan, yang begitu tanggung jawab dengan tradisi pernikahan yang mereka jalani.


~~


Hasan sudah sampai di tempat perjamuan. Ia melenggang dengan gagah dan begitu menawan. Tentu saja, semua anak gadis dari masing-masing group perusahaan begitu terpesona melihat ketampanan Hasan.


Setiap langkah yang ia pijakan ke lantai, iramanya seperti musik dengan binar bintang yang menghiasi wajahnya.


Dari sudut jauh sana, ada seseorang yang tercengang melihat kedatangan Hasan. Matanya tak berhenti berkedip. Hasan mencuri pandang ke seluruh penjuru ketika semua orang menatapnya. Hingga matanya bertemu tatap dengan orang yang ia kenal.


Hasan tersenyum menyeringai kemudian membiarkan orang itu melihatnya dengan takjub. Hasan mencari sosok Papahnya dengan beberapa rekan bisnis yang lain.


"Bocah itu. Dia ada di sini! Siapa yang mengundangnya? Hanya orang tertentu yang bisa ikut perjamuan. Apa jangan-jangan dia ...." Bagaskara berkata dalam hatinya. Ia benar-benar tidak percaya dengan kedatangan Hasan.


~~


Miki masih fokus melanjutkan pekerjaannya setelah beberapa hari dari kantor kepolisian melaporkan empat buronan yang belum tertangkap. Apartemennya kini tidak terurus. Ia sudah menelpon yayasan untuk mengirim asisten rumah tangga. Akan tetapi, sudah dua hari ini pula belum ada kabar.


"Aku ingin keluar dari sini. Berantakan sekali ya ampun. Andai saja ada orang yang bisa aku suruh-suruh." Miki merentangkan kedua tangannya ke atas.


Ting tong


Miki mengedarkan pandangan ke pintu. Dengan langkah malas, ia mendekat dan melihat layar. Seorang perempuan dengan rambut diikat kuda tengah berdiri seraya tersenyum.


"Who?" tanya Miki hati-hati.


("Siapa?")

__ADS_1


"Mona, an assistant sent from the foundation,"


("Mona, asisten yang dikirim dari yayasan,")


jawab gadis tersebut.


Miki kemudian membuka pintu untuk calon asisten rumah tangganya itu.


"Okay, you can go to work right now. Please tidy up everything. Don't throw away anything other than trash. If you find a mess of paper, it's only enough for you to clean it up. Got it!"


("Baiklah, kamu bisa bekerja sekarang juga. Tolong rapihkan semuanya. Jangan buang barang selain sampah. Jika kamu menemukan kertas yang bercecer, kamu hanya cukup untuk membereskannya. Mengerti!")perintah Miki dengan tegas.


"Yes, I understand. But, before I go to work, can we talk about salary?"


("Iya, saya mengerti. Tapi, sebelum saya bekerja, bisakah kita membicarakan gaji?")


tanya Mona seraya tersenyum.


Miki mengernyitkan kening. "I'll see how you work first, then we discuss your salary problem,"


("Aku akan lihat cara kerjamu dulu, barulah kita bahas masalah gajimu,")


"You will find out soon after I managed to conjure up this dirty apartment to be clean and smell good,"


("Anda akan segera mengetahuinya setelah saya berhasil menyulap apartemen yang kotor ini menjadi bersih dan wangi,")


ucap Mona seraya mengedarkan pandangan dengan tatapan risih karena banyaknya barang yang berserakan. Apartemen Miki sudah mirip dengan tempat pembuangan sampah.


"It's better if it works right away. And I'll wait for the results. Is it as you say, or vice versa. I'll be out. Within half an hour, my apartment must be clean,"


("Lebih baik jika langsung bekerja. Dan saya akan tunggu hasilnya. Apakah seperti yang kamu katakan, atau sebaliknya. Saya akan keluar. Dalam waktu setengah jam, apartemen saya harus sudah bersih,")


terang Miki kemudian mengambil ipad dan pergi keluar.

__ADS_1


Mona menyunggingkan senyum. Ia merasa tertantang dengan kalimat Miki. "You have to pay me a high sum,"


("Kamu harus membayar saya dengan jumlah tinggi,")


__ADS_2