
"Dimana Yus, semua anak-anak?" tanya Hana yang sudah berada di bawah bersama Yusi.
"Lama banget sih kamu! Naruh baju doang juga. Anak-anak udah pada menuju alun-alun tuh. Hari ini kita ada praktek lari 500 meter," terang Yusi ketus.
"Owh, koq kamu marah gitu sih jawabnya, kamu kesel sama aku? Iya?"
"Udah ayo buruan jalan, ngobrol mulu," jawab Yusi tanpa memandang Hana.
Meskipun kesal, Yusi tetap mau menunggu Hana. Yusi berlari kecil menuju alun-alun.
Hana heran dengan sikap Yusi, ia terus memperhatikannya dari belakang sambil berlari kecil juga.
"Wah, dia ngambek deh kayaknya," tutur Hana dalam hatinya.
Mereka berdua sampai di alun-alun dan langsung bergabung dengan siswa yang lain. Karena menjadi lapangan utama untuk seluruh sekolah yang ada di kota, banyak siswa dan siswi dari penjuru sekolah lain yang tengah berolahraga di sana. Antara lain jenjang SMA, SMK, SMP, SD. Di sekitar alun-alun tersebut memang di kelilingi oleh banyak sekolah.
"Yang datangnya telat, Hana dan Yusi, silahkan kalian pemanasan sendiri," teriak Pak Guru kepada Hana dan Yusi.
"Udah Pak, tadi lari kesininya," jawab Yusi.
"Itu bukan pemanasan," jawab Pak Guru.
"Pemanasan lah, Pak! kita berkeringat koq," jawab Yusi ngeyel.
Yusi tampak tidak mau kalah dengan Pak Guru, akhirnya, Pak Guru diam, dan memilih untuk menjelaskan praktek lari 500 meter tersebut.
Pak Guru membuat garis sebagai start untuk berlari dengan jumlah masing-masing tiga anak untuk berlari, sesuai nomor abjad masing-masing.
Dari kejauhan tampak tiga anak laki-laki memakai seragam olahraga berwarna kuning tengah memperhatikan Hana. Mereka bertiga memperlihatkan wajah yang sangat serius, dengan di selingi obrolan.
Giliran bagian Hana, Hasan, dan Yusi. Cantika sengaja berdiri di dekat Hana. Ia merencanakan sesuatu. Saat aba-aba mulai dan hendak berlari, Cantika tiba-tiba maju ke depan Hana. Mereka berdua akhirnya terjatuh bersamaan.
"Aduhhhh! Sakiiitt!" pekik Cantika.
"Aduhhhh!" keluh Hana memegangi perut dan bibirnya.
Yusi dan Hasan berhenti berlari ketika mengetahui Hana yang terjatuh. Semua siswa berkerumun menghampiri Hana dan Cantika.
"Ada apa ini! Koq kamu bisa ketabrak Hana, Cantika!" seru Pak Guru.
"Kamu gak papa, Han?" tanya Hasan khawatir.
"Gak tau, Pak! Tadi saya kan dipinggir, tiba-tiba pas mau lari, Hana gak sengaja narik seragam saya," ucap Cantika berbohong.
__ADS_1
Hana kaget begitu mendengar pengakuan Cantika. Ia kemudian berdiri dibantu oleh Yusi. Sudut bibirnya mengeluarkan darah. Rupanya, saat terjatuh tadi, Cantika dengan sengaja mencubit kulit sudut bibirnya.
"Ya ampun, Han! Bibir kamu berdarah gitu," kata Yusi sambil menunjuk bibir Hana.
"Gak papa, Yus, cuman sedikit kan?" tanya Hana sambil menyentuh bibirnya pelan.
"Hana! Apa benar yang dibilang, Cantika? Kamu menarik bajunya, tadi?" tanya Pak Guru.
"Nggak koq, Pak! Saya fokus mau lari tadi," kilah Hana.
"Eh, siapa yang bawa tisu? Minta donk!" Seru Yusi dengan lantang.
Tidak ada yang membawa tisu, Hasan kemudian mendekati Hana dan mengelap darahnya dengan ujung baju olahraganya. Hana kaget dengan sikap Hasan, Cantika yang melihatnya merasa terbakar. Damar kemudian berlari menuju warung terdekat untuk membeli air mineral, tisu, dan obat oles.
"Sudah-sudah, kalian maaf-maafan aja, kalo gak ada yang mau ngaku. Hana, kamu bersihin dulu luka kamu itu yah! Kamu lari terahir aja ntar," perintah Pak Guru.
"Iya, Pak, makasih," jawab Hana pasrah.
Hana lalu menepi untuk membersihkan darahnya yang masih keluar. Hasan dan Yusi meneruskan praktek lari mereka. Hasan hanya bisa memandang Hana yang duduk sendirian sambil berlari.
Damar kemudian menghampiri Hana dengan tergesa-gesa.
"Hana, sini aku bersihin lukanya,"
"Emang kamu bisa liat sebelah mana yang luka?" tanya Damar kesal.
"Sebelah kanan kan? Pojok sini," jawab Hana sambil menunjuk sudut bibirnya sebelah kanan.
"Udah biar aku aja," Damar membuka botol air mineralnya dan menyiramkanya ke tisu, lalu diusapkanya ke ujung mulut Hana. Setelah itu, Damar mengusapkan obat oles.
"Aw! Perih, Dam! Pelan-pelan aja," ucap Hana menahan perih.
"Sory sory, aku udah cukup pelan koq," jawab Damar.
Hasan dan Yusi tampak tidak fokus dalam berlari karena melihat Hana dan Damar yang terlihat romantis dari kejauhan.
"Stop, giliran yang lain, ayo langsung masuk! Hana, nanti kamu lari sendirian yah," teriak Pak Guru.
"Iya, Pak!" seru Hana.
"Setelah ini giliran aku, aku mau siap-siap dulu yah, tuh, Hasan sama Yusi mau ke sini," terang Damar.
"Iya, makasih, Dam!" jawab Hana.
__ADS_1
Damar tersenyum kemudian berjalan menuju arah lari.
Hasan dan Yusi menghampiri Hana yang tengah duduk sendiri sambil meringis menahan perih.
"Sini aku olesin obatnya," Hasan meraih botol tube yang tengah di pegang Hana.
Hasan membuka tutupnya dengan ekspresi raut marah, dan mengoleskanya di bibir Hana yang mungil.
"Udah," kata Hasan kemudian menutup tube tersebut.
"Makasih, San,"
Hasan tidak menjawab terimakasih Hana. Ada perasaan yang mengganjal di lubuk hatinya. Entah perasaan apa itu, yang jelas, ada rasa khawatir, marah, dan kesal menjadi satu.
"Kamu itu kenapa sih, Han! mau aja dijailin sama Cantika. Di salah-salahin, di fitnah. Kalo aku jadi kamu, aku bakal bales setiap kelakuan dia," Ucap Yusi dengan berang melepaskan unek-uneknya.
Yusi mengepalkan kedua tangannya. Dia benar-benar panas dan tidak terima dengan perlakuan yang Cantika layangkan kepada Hana.
"Kamu ngambek sama aku, gara-gara aku, gak bales kelakuan Cantika, ya, Yus?" tanya Hana diiringi senyuman.
"Kalo kamu gak mau bales, biar aku aja kenapa sih, Han!" ucap Yusi dongkol menatap Hana.
"Hey! jangan dong, Yus. Biarin aja lah, dia mau ngapa-ngapain aku, ntar juga ada balesanya sendiri. Kamu tenang aja, lagian aku juga gak papa koq," ucap Hana sambil mengelus lengan Yusi.
Yusi bertambah gondok mendengar jawaban Hana yang tidak memberinya dukungan.
"Tuh, San! Dengerin, Hana ngomong. Pokoknya kalo ditindas gak usah bales, biarin ditindas sampe mati pun," Yusi berkata dengan nada tinggi dan wajah yang memerah menahan amarah.
Yusi memutuskan untuk pergi meninggalkan Hana dan Hasan.
"Yus, kamu mau kemana? Kamu marah sama aku, Yus? Yusi ...." Hana berdiri hendak mengejar Yusi, tapi, Hasan mencegahnya.
"Udah, gak usah kamu kejar! Yusi lagi marah. Percuma juga kamu samperin dia, kalo kamu gak ngedukung dia. Dia itu gak terima kalo kamu dijahatin sama, Cantika, Han!"
"Aku gak mau aja, San, Yusi ikut campur masalah antara aku sama Cantika. Lagian, aku juga udah biasa digituin sama Cantika, dari dulu," jawab Hana sambil memandang Hasan.
"Yusi itu care sama kamu, Han! Gak ada salahnya juga kalo kamu ngebales Cantika, sekali-kali biar dia jera! Kamu jangan diem aja dong kalo ditindas! Cantika bakal seneng nindas kamu terus, kalo kamu gak nglawan, Han!" ucap Hasan dengan berang.
Hana terdiam sejenak. "Aku takut aja, San ...."
"Kamu takut apa, Hana? Selama kamu berada di jalan yang benar, kamu gak perlu takut," terang Hasan.
"Aku ... Sebenernya, aku gak pengin punya musuh, San. Selama ini, aku gak pernah bales perlakuan Cantika, karena aku percaya, Cantika bakal berubah suatu hari nanti,"
__ADS_1