Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
Perjalanan Muncak


__ADS_3

Raja masih tidak percaya jika pada kenyataannya, Hana mengajak Hasan untuk ikut serta muncak. Bahkan, Miki yang sama sekali ia tidak kenal juga ikut. Miki membawa mobil untuk mengangkut barang bawaan. Sedangkan Hasan dan Hana berboncengan. Raja sendiri bersepeda seorang diri ketika Cantika memutuskan untuk ikut di mobil Miki. Hana juga tak menyangka jika Cantika merupakan sepupu Raja.


Mereka berkendara menuju gunung Pranji yang tidak terlalu tinggi dari permukaan laut. Sebab, selain Hana, Cantika juga baru pertama kali melakukan perjalanan ke gunung.


Di dalam mobil, Cantika terus memandangi Miki yang tengah fokus menyetir. Cantika bertambah kagum melihat Miki yang semakin terpancar aura ketampanannya. Ia tak bisa lepas dari pandangannya melihat sang pujaan hati kini duduk di sampingnya. "Kakak tambah ganteng aja. Gimana kabar kakak selama ini? Kenapa tak pernah menghubungi aku?" tanya Cantika dengan senyumannya yang manis. Miki melirik Cantika sekilas dan tersenyum datar. "Baik, seperti yang kamu lihat sekarang ini. Kamu gimana kabarnya?" tanya Miki.


Cantika merasa bahagia mendapat jawaban dari Miki. Seperti yang sudah diketahui oleh Cantika bahwa, Miki tidak akan pernah membalas kalimat yang ia tanyakan. Namun, sekarang Miki jauh lebih ramah dibandingkan dulu. "Alhamdulillah, aku selalu baik menunggu dirimu untuk kembali, Kak!" jawab Cantika diiringi senyuman.

__ADS_1


Miki tersenyum mendengar jawaban Cantika. "Apa kamu belum punya pacar? Kenapa harus menungguku,"


"Cinta pertama itu susah untuk dilupakan, Kak. Kalo kakak sendiri, apakah sudah punya pacar? Apa masih menunggu, Hana?" Cantika mencoba untuk memancing perasaan Miki terhadap Hana. Bagaimanapun juga, ia harus mendapatkan informasi yang akurat agar tujuannya bersama Hasan, berjalan dengan lancar. "Kamu benar, cinta pertama memang susah untuk dilupakan. Oleh karena itu, kamu pasti sudah tau jawabanku, Cantika," tutur Miki seraya tersenyum.


Mendengar jawaban dari Miki, ada rasa kesal yang teramat dalam di hati Cantika. Namun, kali ini Cantika akan bersikap biasa. Ia ingin, Miki tau bahwa dirinya sudah berubah. Tidak seperti dulu. "Jadi, dalam hatimu masih ada Hana. Tapi, apakah Hana masih mencintaimu juga, Kak? Atau dia sudah mendapatkan penggantimu?"


"Tapi, Kakak tau sendiri. Saat ini, Hasan dan Hana mempunyai hubungan yang sangat dekat. Apa Kakak akan merusak hubungan mereka?" tanya Cantika dengan tujuan untuk memancing emosi Miki. Miki menyunggingkan senyum, "seberapa dekat hubungan mereka? Apa kamu tau sesuatu tentang hubungan mereka?" tanya Miki dengan nada berang. Cantika menelan salivanya sendiri ketika melihat ekspresi Miki berubah menjadi sangat serius. Cantika kemudian tersenyum dan menghela nafas, "aku tidak tau banyak. Yang jelas hubungan mereka dekat. Hasan gak akan biarin cowok lain mendekati Hana. Itu yang aku tau. Kakak, apa tidak ada ruang untuk aku di hatimu? Meski hanya sebesar biji beras?" Cantika menatap Miki penuh harap.

__ADS_1


"Jangan pernah berharap kepadaku, Cantika. Kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dariku," jawab Miki tanpa menoleh.


"Tidak ada yang lebih baik darimu, Kak. Aku tidak menginginkan hari ini kamu bisa menerimaku. Aku akan menunggu hingga kamu mau menerimaku. Entah itu kapan, jangan pernah memintaku untuk berhenti berharap," jawab Cantika dengan perasaan sakit yang ia pendam. "Tidak ada artinya berharap kepada seseorang yang tidak mau memberimu harapan. Itu hanya akan membuatmu lelah. Berhentilah sebelum hatimu sakit lebih dalam," ujar Miki masih fokus melihat ke depan.


Cantika menghela nafas dalam-dalam. Sakit sungguh sakit ketika orang yang dicintainya mematahkan harapannya terang-terangan. Kendati demikian, Cantika tak mau terbawa emosi. Ia masih bersikap tenang dan mencoba untuk tetap tegar. "Hatiku sudah sakit sejak kamu memilih dia, dan pergi meninggalkanku. Jadi, peringatanmu tak ada gunanya bagiku. Jangan memintaku untuk berhenti mencintaimu, Kak! Karena kita tidak tau takdir seseorang kedepannya seperti apa. Siapa tau suatu hari nanti kamu akan datang kepadaku dan memintaku untuk tinggal di sisimu," ucap Cantika penuh dengan keyakinan. Kalimatnya berhasil membuat Miki tersenyum. "Kamu banyak berubah rupanya. Dulu, kamu akan langsung marah, dan menyalahkan Hana jika aku tidak membalas kalimatmu, atau membalas dengan kalimat yang membuatmu jatuh. Hari ini, aku melihat sisimu yang lain, Cantika," jawab Miki seraya tersenyum dan melirik gadis yang sudah mencintainya dari tiga tahun yang lalu. Bahkan lebih hingga sekarang.


"Kenali aku lebih dekat, Kak. Agar kamu bisa merasakan betapa besarnya rasa cinta dan sayangku padamu," jawab Cantika seraya tersenyum. Miki membalas senyumannya sambil sesekali melirik Cantika. "Yah, kamu banyak berubah. Kamu jauh lebih dewasa. Tapi, aku tidak tau jika kamu disandingkan dengan Hana. Apakah kamu masih bisa menahan emosimu!" ucapan Miki membuat Cantika menarik nafas lebih dalam lagi. Baru saja ia merasa senang, namun dengan cepat dijatuhkan kembali. "Sikap orang tidak akan pernah sama, Kak. Aku sudah bilang, aku tidak memintamu untuk menerimaku sekarang. Tapi, tolong jangan bandingkan aku dengan yang lain. Aku tidak akan pernah menjadi dia, aku ya aku yang akan selalu menunggumu," kalimat Cantika begitu dalam hingga mampu menyentuh relung hati Miki. Miki menghela nafas dan meminta maaf kepada Cantika. Mereka kemudian terdiam sesaat sebelum akhirnya mengobrol kembali.

__ADS_1


__ADS_2