
Begitu sampai di rumah, Hasan segera membersihkan badan terlebih dahulu, sementara Hana menunggu sambil menonton televisi.
"Hana, giliran kamu mandi. Eh, ngomong-ngomong, kamu bisa mandi sendiri kan?" tanya Hasan menggoda Hana.
"Kamu pikir aku bayi, harus di mandi-in? Ya jelas lah aku bisa!" jawab Hana sewot.
"Hehe, ya kali, kan kamu masih sakit. Aku mau DO nih, kamu mau makan apa?" tanya Hasan sambil mengambil hapenya di bufet TV.
"Baso aja kali ya, San! Seger gitu," jawab Hana membayangkan rasa.
"Mau berapa bungkus?" tanya Hasan mulai membuka aplikasi.
"Kamu pikir aku apa!"
"Iya siapa tau aja pengin nambah. Tenaga kamu kan udah terkuras abis, pengin makan banyak. Aku gak mau loh, ntar kamu makan bagian aku," ucap Hasan memandang Hana diiringi senyuman.
"Ngeselin!"
Hasan tertawa melihat ekspresi Hana. Ia kemudian melanjutkan membuat pesanan. Hana beranjak dari tempat duduknya dan segera mandi.
Hasan mengambil laptop dari kamarnya, dan mulai mengerjakan pekerjaannya lagi.
"Oh iya, aku belum nanya Papa soal lomba itu, aku telepon aja deh,"
Hasan kembali mengambil hapenya, dan menekan nomor ponsel papanya. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya panggilannya dijawab juga.
"Hallo, ada apa, Le?" tanya Praja dari dalam telepon.
"Pah, Leo mau nanya soal lomba miniatur itu. Tepatnya hari apa yah, Pah?"
"Oh, hari kamis, Le, kenapa?"
"Duh, koq bisa bentrokan sih," ucap Hasan dalam hatinya.
"Kira-kira, jam berapa yah, Pah?"
"Malem, jadi Kamis malem Jum'at gitu, abis isya, kamu bisa kan? Soalnya gak banyak yang ikut. Cuman lima belas peserta yang ikut, peluang buat menang besar, Le!" ujar Praja penuh keyakinan.
"Alhamdullah, aman kalo gitu, soalnya, Leo juga ada tugas sekolah, Pah!"
"Tenang aja, kamu gak perlu ijin buat lomba ini, Le! Kamu tetep bisa sekolah seperti biasa,"
"Ok! Makasih ya, Pah," jawab Hasan diiringi senyuman.
Hasan menggenggam hapenya dengan perasaan bahagia. Bibirnya tak lepas dari senyuman. Hasan kemudian teringat untuk membeli bahan dan alat untuk membuat miniatur tersebut.
__ADS_1
"Harus segera nyiapin bahannya nih," gumam Hasan.
Klunting!
Sebuah pesan masuk dari Praja.
"Kamu gak perlu beli bahan-bahannya, Le! Papa udah beliin lengkap, nanti papa kirim yah," isi pesan Praja.
Hasan mengembangkan senyumnya lebar. Praja seperti tau apa yang tengah di pikirkan oleh Hasan. Hasan tampak kegirangan hingga melompat-lompat.
"Papa emang the best!" ucapnya dengan riang.
Hana yang telah selesai mandi, merasa aneh melihat tingkah Hasan yang seperti anak kecil.
Hana mengernyitkan alisnya.
"Kamu kenapa, San?" tanya Hana sambil duduk di samping Hasan perlahan dan memperhatikannya.
"Em, eh, makanannya udah dateng tuh, aku ambil ke depan dulu yah," ucap Hasan kemudian berlari ke depan rumahnya.
Setalah membayar pesanan tersebut, Hasan kembali masuk ke dalam rumahnya, Hasan menaruh bakso tersebut di atas meja dapur.
"Ayo makan dulu, Han! Aku siapin yah," ucap Hasan kemudian menyiapkan mangkok dan gelas untuk menampung es dawet.
Hana kemudian beranjak dari tempat duduknya, dan bergabung dengan Hasan di meja makan.
"Kamu suka pedes gak, Han?"
"Suka, kamu suka juga?" tanya Hana balik.
"Gak terlalu, sumer-sumer aja ... bismillah, ayo makan dulu," kata Hasan diiringi senyuman.
Mereka berdua kemudian menikmati baksonya.
"Hem, seger banget," ucap Hana menikmatinya.
Hasan merasa senang melihat ekspresi Hana yang begitu menikmati baksonya.
Dalam sekejap, mereka berdua sudah menghabiskan bakso dan es Dawetnya. Hana membereskan meja dan mencuci mangkok dan gelas bekas mereka makan, minum. Sementara Hasan kembali berkutat dengan laptopnya.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Hana berjalan hendak pergi ke kamar sebelum Hasan memanggilnya.
"Han sini deh, duduk di samping aku," perintah Hasan tanpa memandang Hana.
"Ada apa?" tanya Hana kemudian duduk di sebelah Hasan.
__ADS_1
"Aku mau ngasih tau kamu, besok kamis, aku ada lomba buat miniatur rumah untuk projek pembangunan perumahan baru. Do'ain yah semoga menang," ucap Hasan memandang Hana penuh kasih sayang.
Hana merasa terkesima ditatap oleh Hasan. Ia masih merasa canggung dengan status yang telah disandangnya sebagai isteri Hasan. Pengusaha muda. Hana tersenyum tipis dan menjawab.
"Iya, San, aku selalu do'ain semoga, kamu menang, dan sukses, lancar terus dimudahkan rezekinya, amin," jawab Hana sambil membasuh wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Makasih yah," jawab Hasan diiringi senyuman.
"Oh iya ngomong-ngomong, kapan kita garap PR dari, Pak Mardi? Kan kamu ada lomba juga, San,"
Hasan mengacak rambut Hana. "Kamu tenang aja, lombanya kan malem, jadi aman. Cuman, aku harus lembur dari sekarang buat proyek itu,"
Hasan terdiam sejenak, kemudian ia berkata lagi, "Gini, Han, bikin videonya bisa kita lakuin dalam satu kali aja. Nanti aku yang burning,"
"Emang kamu bisa?" tanya Hana.
Belum tau dia, Hasan seorang IT handal.
"Bisa. Kalo soal bikin kabel trimingnya, insya Alloh, aku sama kamu aja sanggup. Jadi gak perlu berhari hari. Kalo misal, kita bikin besok gimana, loe udah enakan kan?" tanya Hasan.
"Kita gak perlu latihan nih? Serius langsung bisa? Tapi ini kan kerja kelompok, San! Kita harus kerjain bareng, gak cuman berdua," tanya Hana kurang yakin dengan usul Hasan.
"Iya, maksud aku tuh, biar mereka yang fokus ngrekam aja, kita yang main. Nanti kalo ada praktek perorangan, Damar dan Yusi bingung, kamu ajarin mereka aja yah! Soalnya, aku harus fokus sama lomba ini juga, aku harus cepet-cepet nyelesain," ucap Hasan sedikit gusar.
"I–iya deh, terserah kamu saja," jawab Hana sambil menggaruk kepalanya.
Hasan tersenyum, kemudian ia meneruskan pekerjaannya membuat desain untuk ia jadikan miniatur. Hana memperhatikan Hasan yang tampak serius. Hana tampak menikmati pandangannya itu. Wajah dan usia Hasan memang masih muda. Tapi, pemikirannya dewasa.
"Mau dibikinin kopi gak?" Hana menawari Hasan.
"Makasih, tadi udah minum dawet, kamu buruan tidur sana, sambil liatin ikan-ikan, supaya pusing di kepala kamu berangsur hilang," ucap Hasan tanpa memandang Hana.
"Ya udah deh, aku tidur duluan yah. Semangat!" ucap Hana sambil mengangkat tangan dan mengepalkan telapak tangannya.
***
Samuel menemui teman-temannya yang kini tengah berkumpul di rumahnya. Ia menuruni anak tangga dengan langkah malas dan juga sedikit bahagia. Masa hukuman Samuel belum usai. Sehingga, ia harus tetap berada di rumah.
"Lama gak nongkrong sama kamu, Sam! Kapan lagi ditraktir mabok!" ucap Rangga.
Samuel tak merespon, ia kemudian duduk bersandar di sofa depan teman-temannya.
"Tenang aja, Sam! Tadi, kita udah bikin tuh cewek pingsan!" kata Bayu.
"Apa kamu bilang! Pingsan!" seru Samuel dengan ekspresi kaget.
__ADS_1
"Aku nyuruh, Raja buat nendang bola ke arah, Hana waktu olahraga. Kebetulan, kita tadi olahraga di alun-alun. Kamu tau sendiri kan si, Raja. Dia gak suka kalo temenya sakit ... Hhh, ternyata gampang banget buat ngomporin dia," celetuk Dimas.