
Hari sudah petang dan mereka berhasil sampai di puncak dengan susah payah mendaki jalan bebatuan curam yang di bawahnya persis sebuah jurang. Tergelincir sedikit saja bisa mengakibatkan nyawa mereka melayang.
Tiga tenda sudah berdiri di atas puncak gunung Pranji. Suasana malam terlihat begitu indah ketika hampir seluruh pemandangan di bawah kaki gunung terlihat semua. Lampu-lampu rumah warga terlihat seperti kunang-kunang yang menghiasi kaki gunung. Gambaran air laut nampak separuh lingkaran menambah kecantikan pemandangan malam ini.
Tiga lentera sudah mereka nyalakan. Raja membuat api unggun sedangkan Hasan menyalakan kompor elektrik bersiap untuk memasak mie instan, dan air untuk menyeduh kopi.
Hana, Cantika, dan Miki menikmati pemandangan malam ini. Rasa syukur tak henti-hentinya keluar dari mulut mereka. Hana membentangkan kedua tangannya menghirup udara segar yang menerpa wajahnya. Rambutnya sengaja ia gerai agar angin dapat menembus tiap helainya.
Diam-diam, Miki mengabadikan momen dimana Hana, melakukan hal tersebut yang membuatnya semakin terpesona. Senyuman manis Hana terlukis begitu manis. Siapa saja yang melihat senyuman itu pasti akan ikut tersenyum juga.
"Woy, sudah belum masak mienya? Udah laper nih!" seru Raja sambil menata beberapa kayu.
"Bentar lagi mateng, kamu urus aja tuh api unggun," ucap Hasan kesal. Hasan mengalihkan pandangannya ke arah Hana.
Hasan menghirup nafas panjang ketika tahu Miki tengah mencuri foto-foto Hana. "Bang, aku harap kamu gak ada niat buat merebut Hana kembali. Aku ingin, hubungan kita sebagai saudara tetap akur. Entah kamu yang harus mengalah, atau aku yang akan pergi," gumam Hasan dalam hatinya.
"Eh, kuahnya udah mau abis tuh. Mie nya kelembekan," ujar Raja yang menyadari Hasan mengabaikan masakannya.
Raja menambahkan sedikit air mineral, lalu mematikan kompornya. Hasan kaget dan menggaruk kepalanya sendiri.
__ADS_1
"Aduh, aku gak tau. Maaf deh!" ujar Hasan sambil tersenyum kecut.
"Makanya jangan nglamun. Wah, kayak bubur deh ini. Kamu ngliatin siapa sih? Masa cemburu sama kakak sendiri," ucap Raja asal.
"Sory sory, yang penting masih bisa dimakan. Panggil semua orang buat makan malam," ucap Hasan kemudian mengangkat panci dan menyiapkan piring plastik serta sendok.
"Woy, makan malam udah siap. Kesini semuanya!" Raja berteriak dengan lantang menimbulkan gema.
"Eh, diatas gunung jangan teriak-teriak. Kamu samperin deh sana!" Hasan menepuk lengan Raja.
"Hehehe! Tuh pada kesini," jawab Raja sambil menunjuk ke arah Hana cs yang tengah berjalan ke arah mereka berdua.
"Iya, kita kan cuman bawa mie sama camilan aja. Besok udah cabut dari sini. Jadi ngapain bawa macem-macem," jawab Hasan.
"Seenggaknya bawa nugget kek buat lauk," jawab Cantika kemudian duduk di sebelah Miki.
"Percuma makan nugget kalo gak ada nasinya. Udah buruan makan. Abis ini kita menikmati pemandangan bareng-bareng," sambung Raja.
Hasan memilih untuk diam karena suasana hatinya yang sedang tidak baik. Mereka bergantian mengambil mie instan dari dalam panci. Hana mengambilkan mie untuk Hasan dan memberikannya kepada Hasan. Tanpa ekspresi, Hasan menerimanya. Hana meliriknya sekilas. "Kenapa wajahnya murung begitu. Apa ada sesuatu sama Hasan?" batin Hana sambil menyuapkan satu sendok mie ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Kak, boleh ambil foto berdua gak?" tanya Cantika kepada Miki.
"Hah?" Miki sedikit kaget dengan permintaan Cantika. Biasanya, Cantika tidak pernah meminta ijinnya untuk mengambil fotonya. Menyadari ekspresi Miki, Cantika tersenyum. "Kan aku udah bilang, aku bukan Cantika yang dulu, Kak! Aku boleh kan ambil foto kita berdua? Buat kenang-kenangan kok," ujar Cantika sambil tersenyum.
Miki memandang Hana yang juga tersenyum kepadanya menandakan setuju. "Oh, iya boleh Can. Tapi lebih baik jika kita foto bersama yang lain," jawab Miki.
"Berdua dulu, baru bareng-bareng!" jawab Cantika.
"Sini aku potoin," tawar Hana mengulurkan tangan meminta hape Cantika.
"Ini, maaf yah," Cantika memandang Hana, lalu menyerahkannya.
Hana mengambil beberapa gambar Cantika dan Miki. Setelahnya, ia memberikan hape Cantika kembali. Hana melirik Hasan yang masih mengaduk-aduk mie instannya.
"Mie kamu masih utuh, San! Udah dingin itu kelamaan kamu aduk," kata Hana sambil menyenggol lengan Hasan.
"Oh, aku gak laper. Aku jalan-jalan sebentar yah," Hasan beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan ke arah barat menaiki batu besar yang membentuk berbagai arca.
Semua orang memandang kepergian Hasan. Hana yang merasa khawatir dengan cepat menghabiskan mie nya. Lalu meminta ijin untuk mengejar Hasan. "Em, aku nyusul Hasan yah. Kalian nikmati aja makan malamnya," ucap Hana diiringi senyuman.
__ADS_1