
"kamu ngapain aja di kamar? Tidur? Kamu gak sadar aku tungguin di sini? Kamu lupa kalo ada aku di sini?" tanya Hasan masih melipat tangannya di dada.
"Maaf, San! Aku tadi BAB dulu, jangan marah dong!" ucap Hana sambil menggoyangkan tangan Hasan.
"Beneran BAB?" tanya Hasan menyelidik.
Hana mengangguk pelan. Hasan lebih menatap dengan tajam.
"Ya udah buruan naik!" ujar Hasan menahan senyum.
"Kamu gak marah kan?" tanya Hana.
"Nggak, udah buruan naik!"
Hana kemudian duduk di jok belakang. Hasan segera menyelakan mesin dan meninggalkan rumah mertuanya.
"Liburan nanti mau kemana, San?" tanya Hana mengawali percakapan diperjalanan pulang.
"Gak tau deh, aku sibuk. Banyak proyek yang harus digarap," ujar Hasan.
"Hem beneran sibuk yah? Biarpun kamu kerja, tapi kamu juga butuh liburan, San. Inget! Kamu masih muda. Waktunya jangan diabisin buat nyari duit aja. Kamu perlu bersenang-senang," ujar Hana.
"Aku kerja kan buat kamu juga. Harusnya kamu semangatin aku dong! Aku tau, aku juga butuh liburan, tapi proyek ini lebih penting buat aku,"
Hana menghela nafasnya. Ia merasa tidak enak juga sudah asal bicara. Hana lupa kalo anak laki-laki yang mengikuti tradisi Perjodohan memang sudah mandiri dari kecil. Keuangan tidak lagi bergantung kepada orang tua jika tidak ada hal yang mendesak tentunya.
"Aku selalu support kamu koq. Jadi, kita liburan di rumah aja nih?" tanya Hana.
"Iya, kalo kamu liburan, liburan aja. Tapi, mau liburan sama siapa? Damar gak mungkin pergi jauh-jauh, kakinya masih belum normal. Yusi, dia udah pasti nungguin, Damar. Kalo mamah sama papah, aku gak tau deh. Kamu coba tanyain aja. Tapi, Papah Darma kayaknya dia juga sibuk mau launching produk baru deh," tutur Hasan sambil melirik Hana lewat spionnya.
Hana cemberut. Padahal dia ingin sekali merefressh pikirannya yang terasa sudah penuh.
"Liburan di rumah aja sama aku, aku yakin kamu gak bakal bosen. Eh, kayaknya Kakakku juga mau main kesini deh," ucap Hasan lagi.
"Kakak? Kamu punya, Kakak, San?" tanya Hana sedikit kaget.
"Punya dong! Dia lulus tahun ini,"
"Koq kamu gak ngasih tau soal ini. Kakak kamu cowok apa cewek?"
"Cowok! Dia kuliah di luar negeri. Tahun ini kayaknya mau liburan di sini,"
Hana terdiam sejenak. Ia tampak berfikir.
"Tunggu! Kakak kamu, berarti sudah punya istri juga dong?"
"Oh, Kakak masih lajang. Harusnya yang nikah sama kamu itu Kakak aku. Tapi dia gak mau. Dia kabur ke luar negeri. Akhirnya, aku yang gantiin dia deh,"
"Koq bisa begitu! Terus, kamu koq mau nikah sama aku," tanya Hana.
"Yah seperti yang aku bilang dulu. Aku cuman mau berbakti saja sama kedua orang tuaku. Ternyata, orang yang dijodohin sama aku juga gak terlalu jelek amat,"
__ADS_1
"Maksud kamu bilang gitu apa? Aku juga gak berharap kamu buat suka sama aku koq," jawab Hana manyun.
"Ya, maksud aku juga bukan gitu juga. Hah, sudahlah gak usah dibahas. Masalah saling suka itu urusan belakangan. Yang terpenting, aku dan kamu sekarang kan masih baik-baik aja. Dan aku akan tetap berusaha untuk selalu menjaga kamu. Kamu sekarang sudah jadi tanggung jawab aku. Kamu ngerti kan?"
"Iya aku ngerti. Makasih yah," jawab Hana yang luluh kembali mendengar kalimat Hasan.
Hana setuju dengan Bu Darma, kalo Hasan adalah laki-laki yang baik. Bahkan sangat baik.
***
Di depan cermin besar, terlihat seorang pria mengenakan stelan hodie. Jam tangan serta sepatu mahal yang bertengger menambah ketampanan pria ini. Rambutnya di poles dengan pomade berkelas membuat gayanya semakin keren.
Pria tersebut mengambil sebuah kaca mata hitam besar dan mengambil satu tas slempang. Ia mengetik sebuah pesan dalam hapenya dan mengirimkannya kepada seseorang.
Ia menyunggingkan senyum lalu melangkahkan kakinya keluar sambil menarik koper.
***
Hasan dan Hana baru saja menyelesaikan makan malamnya. Hana memilih untuk menonton televisi. Sedangkan Hasan kembali berkutat dengan pekerjaannya.
Hasan menenegok jam yang terpajang di dinding.
"Koq belum nyampe-nyampe sih mobilnya. Ntar keburu Hana tidur," ucap Hasan dalam hatinya.
Hasan bekerja sambil mengecek jam yang terus berputar. Tidak ada kalimat yang terucap diantara mereka. Mereka sibuk dengan aktifitas masing-masing.
Ting Tong
Hasan segera bangkit dan menarik tangan Hana begitu saja. Hana kaget dan langsung bertanya.
"Ada apa sih, San? Koq kamu main tarik-tarik aku aja!" ujar Hana mengikuti langkah Hasan.
"Hadiahnya udah dateng tuh!" jawab Hasan sumringah.
"Yang bener? Itu hadiahnya?" tanya Hana yang mendadak ikut senang dan semangat.
"Iya, makanya ayo buruan!" ajak Hasan.
Mereka berdua bergandengan tangan berlari bersama ke luar rumah.
"Buka gerbang!" seru Hasan.
Gerbang terbuka dan mereka berdua terpana ketika melihat sebuah mobil berwarna hitam dengan mulusnya terpajang di depan pagar.
Mata mereka berdua berbinar tak henti-hentinya menatap kuda besi beroda empat itu.
"Dengan, Mas Hasan Leonil Praja Pamungkas?" tanya dealer kepada Hasan.
"Iya, saya sendiri, Mas!" jawab Hasan.
"Tolong tanda tangan di sini, Mas!" ucap si dealer.
__ADS_1
Dengan perasaan yang sangat senang Hasan menandatangani surat serah terima. Sedangkan Hana masih begitu kagum dengan mobil yang ada di depannya kini.
"Oke, terimakasih ya, Mas. Ini kuncinya," ucap si Dealer kemudian menyerahkan kunci mobil kepada Hasan.
"Ma-makasih, Mas!" jawab Hasan.
Dealer tersebut kemudian pergi meninggalkan rumah Hasan bersama rekannya mengendarai sepeda motor.
Dari jarak 500 meter, Wawan berteriak kepada Hasan.
"Cieeeee mobil baru!" seru Wawan.
Hasan melambaikan tangan dan tersenyum kepada Wawan.
Hasan dan Hana mengelus bodi mobil tersebut.
"Ayo coba kita naikin, Han!" ucap Hasan sambil tersenyum.
Hana mengangguk, mereka berdua kemudian masuk ke dalam mobil. Hasan mulai menyalakan mesinnya dan menjalankannya.
"Buka gerbang," ucap Hana.
Mobil tersebut kini sudah masuk di halaman rumah Hasan. Hasan tak henti-hentinya bersyukur. Dia tak menyangka bisa memiliki mobil.
"San, ini kamu beli sendiri?" tanya Hana kagum.
"Kamu inget pas aku bikin miniatur buat lomba gak?" tanya Hasan.
"Iya, jadi ini ...."
"Ini hadiah dari lomba itu, Han. Dan ini aku hadiahkan buat kita berdua. Kamu seneng nggak?"
Hana hampir menangis mendengar kalimat dari Hasan. Dia benar-benar terharu dengan apa yang sudah Hasan hasilkan di usianya yang masih muda. Kali ini, Hana benar-benar merasa beruntung mempunyai pendamping seperti, Hasan.
Hana tersenyum menatap Hasan dengan penuh kekaguman.
"Ditanya koq diem aja sih! Kamu seneng, nggak?" tanya Hasan mengulang pertanyaannya lagi.
"Aku boleh meluk kamu gak, San?" tanya Hana dengan suara sedikit bergetar.
Hasan mengernyitkan dahinya, ia kemudian mengangguk setuju.
Setelah mendapat ijin dari Hasan, Hana dengan cepat memeluk erat suaminya itu. Hana meneteskan air mata kebahagian di sela-sela pelukannya.
Hasan merasa senang dan menyambut pelukan isterinya. Hangat dan terasa nyaman. Hasan mengusap pelan punggung Hana.
"Kamu bahagia kan, Han?" tanya Hasan.
Hana mengangguk dengan semangat masih dalam pelukan Hasan.
"Syukurlah. Gak sia-sia orang tua kamu nitipin tanggung jawab ini," jawab Hasan diiringi senyuman.
__ADS_1