
"Terus, gimana sekarang keadaan, Hana? Dia gak papa kan?" Samuel bertanya dengan khawatir.
"Ya elah, Sam! Ngapain kamu nanya cewek itu! Kan gara-gara cewek itu, kamu jadi dikeluarin dari sekolah," terang Rangga.
"Bener, Sam! Lagian, kita mana mungkin tau keadaan tuh cewek! Bodo amat kali," sambung Dimas sambil menikmati cemilan yang disajikan.
"Eh, yang bikin aku dikeluarin dari sekolah bukan dia, tapi, cowok yang udah mukulin kita waktu itu. Jadi, kita bales dendamnya ke dia, bukan, Hana!" ucap Samuel geram.
"Aku heran deh sama sikap kamu, Sam! jangan-jangan, kamu masih suka sama cewek itu," sambung Rangga lagi.
"Itu bukan urusan kamu, Ngga! Yang jelas, kita harus cari cowok sialan itu, dia yang udah pukulin kita, dan bikin aku dikeluarin dari sekolah. Kira-kira, kalian masih inget gak, ciri-ciri cowok itu!" tanya Samuel sambil memandangi teman-temannya satu per satu.
"Kita gak merhatiin, Sam! Jadi, kita gak tau," jawab Dimas sambil mengangkat kedua bahunya.
"Eh, Sam! Aku heran deh sama kamu, koq bisa, kamu sampe salah kirim video mesum kamu ke guru BK!" tanya Bayu yang sedari tadi diam.
"Emang kamu pikir aku bego! Ngirim seenaknya ke orang! Sama aja aku cari mati! Gak mungkin lah, aku dengan sengaja mengirim video sialan itu, aku tau resikonya!" ucap Samuel kesal dengan pertanyaan Bayu.
"Terus gimana caranya, itu video bisa nyampe ke guru BK, dari ponsel kamu sendiri, Sam!" tanya Bayu lagi.
"Aku juga gak tau, itu yang bikin aku bingung, ini semua pasti ada sangkut pautnya sama cowok kesiangan itu," jawab Samuel sambil mengepalkan tangannya.
"Bener, Sam! Hape kamu pasti di sadap atau dihack, dan kamu gak tau," sambung Rangga.
"Bener kata Rangga! Bisa aja dihack, Sam! Itu adalah hal yang sangat memungkinkan untuk saat ini," kata Dimas membenarkan jawaban Rangga.
"Kalo itu bener, kita harus cari tau siapa yang udah nge-hack hape aku," tutur Samuel.
"Orang itu pasti paham banget sama telekomunikasi, Sam! Anak komputer jaringan biasanya itu mah," kata Dimas.
"Tapi, untuk anak SMK, kayaknya gak bakal diajarin begituan deh!" sambung Bayu.
"Tapi, orang yang ngerti masalah begituan cuman anak yang ahli komputer," kata Dimas lagi.
"Iya aku tau, Dim! Itu pasti. Tapi kayaknya bukan anak SMK. Paling nggak, orang itu udah kuliah atau sudah bekerja di bidang IT," tutur Bayu.
"Tapi bisa jadi, anak itu anak SMK TAMA juga, Bay! Anak TKJ. Aku mencurigai satu cowok di sini, dia temen deket, Hana. Namanya, Damar! Pasti dia orang yang sudah mukulin kita, dan ngancem aku ... Yah, pasti Damar, orangnya!" tutur Samuel dengan sengit.
__ADS_1
"Kalian harus keroyok dia," perintah Samuel lagi.
"Kalo inget kejadian itu, tampaknya orang itu jago beladiri, Sam! Kita aja yang berempat, dengan mudahnya ia lumpuhkan," terang Rangga.
"Kamu takut, Ngga?" tanya Samuel.
"Aku bukanya takut, Sam! Tapi kita harus tambah pasukan, apalagi kamu juga gak bisa keluar kan?" ucap Rangga lagi.
"Kamu ajakin Raja aja, dia kan juga jago bela diri," ucap Samuel.
"Gini, Sam. Si Raja itu kan orangnya gampang-gampang susah, apalagi dia juga belom tau masalah yang sebenernya. Kalo dia tau masalah yang sebenernya, aku yakin dia gak bakal mau bantuin kita, yang ada, kita di buat babak belur sama, Raja! Udah gitu, dia pasti cari cewek itu buat minta maaf," kata Dimas mengingatkan.
"I-iyaa dia jangan sampe tau masalah yang sebenernya dong! Mikir lah mikir!" kata Samuel sambil menunjuk otaknya.
Rangga dan teman-temannya menghela nafas dan menggaruk kepala masing-masing.
"Terus kita kasih alesan apa sama si Raja, Sam! Kalo dia nanya! Aku takut dia curiga," kata Bayu.
"Iya bilang bales dendam lah karna aku dikeluarin sebab di fitnah sama si Damar dan Hana. Tapi soal, Hana, kalian jangan bawa-bawa dia lagi," tutur Samuel.
Rangga tersenyum mendengar perintah Samuel. "Kamu masih kepikiran cewek itu? Kamu ngrasa bersalah sama Hana, Sam? Atas perbuatan loe itu?"
"Aku emang gak terima atas ucapan, Hana. Tapi, dalam lubuk hati aku yang paling dalam, aku gak bisa terima kalo Hana sakit, dan itu karena aku. Aku merasa sangat bersalah atas apa yang udah pernah aku perbuat sama dia. Dan jujur, aku masih punya keinginan buat ngedapetin dia," kata Samuel dalam hatinya.
***
Presentasi Tim Hasan berhasil mendapatkan nilai A+ karena kekompakan, dan hasilnya yang memuaskan.
Hasan juga sudah mengikuti lomba miniatur yang diadakan oleh perusahaan kontraktor milik Papahnya, dengan berbagai sponsor. Bagi Hasan, rasanya sangat menyenangkan menyelesaikan pekerjaan dengan baik dalam waktu yang sama.
Rencananya, pengumuman lomba itu akan di umumkan pada Minggu depan. Hasan berharap bisa menjadi juara dan mendapatkan mobil yang dijanjikan itu.
Saat asyik bermain dengan hapenya, Hana datang dengan langkah tergesa-gesa mengagetkan Hasan.
"San, San! Kamu udah tau belom!"
"Apaan si, Han! Bikin aku kaget aja! Hape aku sampai jatoh nih!" ucap Hasan sambil mengambil hapenya yang jatuh di bawah meja.
__ADS_1
"Maaf, San! Tadi, Yusi telpon aku, dia bilang, Damar habis dipukulin orang gak dikenal. Sekarang dia ada di rumah sakit," tutur Hana dengan khawatir.
"Apa! Kita cabut sekarang!" ucap Hasan langsung beranjak dari tempat duduknya pergi ke kamar untuk mengambil jaket dan kunci sepeda motornya.
Hana yang masih panik, masih terdiam di depan ruang tivi.
"Koq kamu bengong sih! Buruan ambil jaket juga sana! Kita berangkat sekarang!" ucap Hasan memakai jaketnya.
"Iya, iya, tunggu!" Hana berlari ke kamar dan kembali dengan blezer rajutnya.
"Kita berangkat sekarang, San!" ucap Hana.
Hasan mengangguk. Ia mengambil helmya dan memakainya. Mereka berdua kemudian pergi menuju rumah sakit dimana tempat Damar di rawat.
"Semoga gak parah ya, San!" ucap Hana dengan perasaan khawatirnya.
"Amin," jawab Hasan simpel.
"Siapa yang mukulin, Damar!" Hasan berkata dengan geram dalam hatinya.
Mereka berdua kemudian sampai di rumah sakit, dan langsung menuju ruang rawat Damar.
Disana sudah ada kedua orangtua Damar dan juga Yusi.
Hasan dan Hana menyalami kedua orangtua Damar, sebagai tanda kesopanan.
"Selamat malam, Om, Tante!" ucap Hasan.
Kedua orangtua Damar menganggukan kepala mendengar sapaan Hasan.
"Makasih yah, kalian udah jenguk, Damar!" ucap Mamah Damar.
"Sama-sama, Tante. Gimana keadaan Damar, Tan?" tanya Hana perhatian.
"Masih dalam penanganan dokter, Hana!" jawab Mamah Damar.
"Koq bisa Damar dipukulin! Siapa yang mukulin, Om?" tanya Hasan.
__ADS_1
"Om juga gak tau, tadi, Yusi yang nelpon kami, pake hape, Damar," jawab Papah Damar.