Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
44. Perfect


__ADS_3

"Kirain kamu langsung jatuh cinta! Dia kan lumayan ganteng juga. Terus katanya juga udah nolongin kamu di dalem. Emang di dalem ngapain aja?" tanya Hasan sambil meletakan barang dengan kasar di tanah yang sudah berlapis aspal.


Hasan kemudian membuka bagasi mobilnya dan mengisinya dengan barang belanjaan.


"Emang ganteng, ta-tapi ...." Hana tidak melanjutkan kata-katanya karena Hasan kini tengah melotot ke arahnya.


Hasan merasa panas ketika Hana menyebut Raja ganteng. Ada api yang membara di hatinya, yang siap membakar apa saja.


"Tapi kamu lebih ganteng, San! Seriusan, aku gak bohong," ucap Hana diringi senyuman yang dipaksakan, ia kemudian bergegas masuk ke dalam mobil untuk menghindari tatapan Hasan.


Hasan menutup bagasi dengan kasar. Ia menyusul Hana yang sudah duduk di samping kemudinya. Hasan mulai menyalakan mesin dan segera pergi dari Mall.


"Han, kamu harus hati-hati sama orang yang baru dikenal. Jangan percaya gitu aja," ucap Hasan memecah keheningan.


"Iya San, aku juga tau koq. Tadi itu, aku gak sengaja nabrak dia pake kereta dorong belanjaan. Dari situ, akhirnya dia kasihan ngliat aku yang susah dorong ...."


"Koq kamu gak nelepon aku! Kan aku udah bilang, kalo ada apa-apa, kamu harus hubungin aku. Kalo kamu telpon aku, aku pasti langsung masuk ke dalam dan bantuin kamu!" jawab Hasan sedikit emosi.


"Iya tadinya juga mau gitu. Tapi kan aku gak tau juga kamu udah nyampe Mall apa belum! Kebetulan, Raja udah nawarin duluan. Ya udah aku terima aja," jawab Hana tak berani memandang Hasan.


"Besok-besok aku harus ikut, biar kamu gak sembarangan terima bantuan orang," kata Hasan masih kesal, wajahnya terlihat cemberut.


"Iya terserah kamu aja, yang penting gak ketauan sama temen-temen kita," jawab Hana jutek.


Mereka berdua kembali terdiam dengan pikiran masing-masing. Hana jadi ikutan kesal dengan sikap Hasan yang tengah mengomelinya.


"Oh iya, tadi kamu panggil apa? Mama? Terus kamu bilang ke cowok tadi, kalo aku itu orang kepercayaan orangtua kamu? Maksudnya apa? Bisa dijelaskan?" tanya Hasan kembali membuat Hana menghela nafas panjang.


"Iya lah, habisnya aku bingung mau alesan apa sama Raja. Terus, aku juga sebel banget sama kamu! Masa ngasih ATM gak dikasih tau nomor pin-nya. Gila ya kamu! Bikin aku malu aja. Untung aku gak dipikir nyuri. Kamu niat ngasih gak sih sebenernya!" tanya Hana dengan emosi.


Kali ini gantian, Hana yang marah sama Hasan.


Hasan memandang Hana dan merasa bersalah. Kali ini nada bicaranya sudah kembali normal.


"Aduh sory deh. Aku lupa, soalnya gugup. Kamu jangan ngomong begitu, aku serius koq ngasihnya. Kamu kan udah jadi tanggung jawab aku. Aku benar-benar lupa, maafin yah!" ucap Hasan sambil mengusap puncak kepala Hana.

__ADS_1


Hana merasa nyaman saat Hasan mengusap puncak kepalanya. Rasanya ia ingin lagi dan lagi Hasan melakukan hal itu kepadanya.


Hana menahan ekspresi bahagianya sambil berkata, "iya aku maafin,"


"Hem, lagian koq jadi kamu yang marah sih!" ucap Hasan.


"Iya jelas lah aku marah! Kamu gak tau rasanya diposisi aku tadi sih," jawab Hana.


"Iya sory deh. Kamu belanja banyak banget ya!"


"Iya, itu kebutuhan buat sebulan, aku sekalian beli sayur mayur juga, daging, ayam, telor, beras ...."


"Iya, iya. Gak usah disebutin semua. Itu pokok semua koq,"


"Abisnya banyak loh San, dua juta lebih," kata Hana sambil memandang ke arah Hasan.


"Iya gak papa. Mau habis berapapun aku gak protes koq, yang penting buat kebutuhan,"


Hana tersenyum mendengar penuturan Hasan. Mereka terdiam sejenak menikmati perjalanan santai menuju rumah. Setalah cukup lama teridam, Hana penasaran dengan saldo ATM yang diberikan oleh Hasan kepadanya.


"Nanya apaan!"


"Aku sebebarnya gak enak mau nanya soal ini. Tapi aku penasaran,"


"Ya udah nanya aja,"


"Em, saldo di ATM yang aku pegang berapa sih?" tanya Hana hati-hati.


Hasan memandang Hana dengan ekspresi datar. Sepersekian detik, Hasan masih terdiam, yang membuat Hana merasa tidak enak.


"Gak usah dijawab juga gak gak papa, San! Maaf ya aku lancang nanya soal ini," kata Hana.


Hasan tersenyum mendengar kalimat Hana. "Kalo kamu penasaran, mendingan kamu cek sendiri aja. Yang jelas, tiap bulan selalu aku isi. Gak banyak sih, paling sekitar lima jutaan. Tapi gak tentu juga sih, tergantung bayaran yang aku dapet,"


Mendengar kalimat Hasan, Hana membulatkan matanya. Ia tak percaya Hasan bisa mengisi satu ATM dengan nominal segitu. Bagaimana dengan ATM yang lain?

__ADS_1


"Wah banyak dong duit kamu. Ihh parah sih. Mana ada anak sekolah, masih muda, udah nikah, punya penghasilan sendiri, gede lagi. Busyet, kamu itu cowok super perfect tau, aku jadi ngrasa gak pantes jadi istri kamu," ucap Hana mengungkapkan kekagumannya.


"Hish, ngomong apaan sih kamu. Aku tuh biasa aja. Masih banyak yang hebat dari aku. Aku tuh belum ada apa-apanya," jawab Hasan dengan nada biasa.


"Biasa apanya, kamu udah mapan gini. Kamu itu cowok yang paling perfect dari sekian orang yang aku kenal, San! Kagum aku sama kamu. Ihhh, bayangin deh, cewek-cewek diluaran sana, liat tampang kamu aja udah meleleh. Apalagi kalo tau fakta dirimu yang sudah mapan begini, San! Bisa kejang kali!" kata Hana begitu takjub sambil memandang Hasan.


"Ah, kamu terlalu lebay, Han! Udah bahas yang lain aja. Ngomong-ngomong hari senin besok udah ulangan semester loh, fokus belajar aja," ucap Hasan.


Hana tersenyum melihat ekspresi Hasan yang sedikit tersipu dan mengalihkan pembicaraan.


"Eh, tapi ngomong-ngomong, kamu meleleh dan kejang-kejang juga dong liat ketampanan dan kemapananku, Han!" tanya Hasan.


"Kalo aku terkecuali, San! Hehehe," jawab Hana sambil tertawa.


Hana dan Hasan tertawa bersama menikmati percakapan yang mereka lontarkan.


"Tapi kalo di pikir-pikir, aku emang cewek beruntung yang bisa nikah sama kamu loh, San!" ucap Hana kembali.


"Untung dari segi apa?"


"Masih ditanya lagi, kamu kan masih muda, pintar, kaya, mapan, baik, pengertian, tampan pula," ucap Hana tersenyum sambil terus memandang ke arah Hasan.


"Ah lebay. Berarti, dengan ciri yang kamu sebutkan buat aku tadi, kamu udah jatuh cinta dong sama aku!" tanya Hasan sambil melirik Hana.


"Gak tau deh kalo soal urusan cinta. Aku kagum aja sama kamu. Kamu itu species langka, San! Cowok kayak kamu emang pantes buat nikah muda!" ucap Hana terus memandang Hasan penuh perhatian.


"Iya, dan untungnya aku nikah sama kamu. Cewek cantik, imut, baik juga, penakut, lemah tak berdaya, cengeng ...."


"Ih, apaan sih kamu! Aku gak cengeng, aku gak lemah, tau!" ucap Hana memukul lengan Hasan dengan ekspresi cemberut.


Hasan tersenyum melihat ekspresi Hana yang mendadak cemberut mendengar penuturannya.


"Lagian dari tadi kamu muji-muji aku. Aku tau, kamu ngomong kaya gitu, sengaja baik-baikin aku kan? Mau bikin aku tersipu? Meleleh? Takluk sama kamu? Atau bagaimana?" tanya Hasan sambil menahan senyum.


"Ih, aku gak ada pikiran begitu tau. Kamu mikirnya kejauhan. Suudzon!" jawab Hana lebih cemberut.

__ADS_1


Hasan tertawa sambil menutup mulut dengan telapak tangan kirinya. Sesekali ia memandang Hana yang masih cemberut.


__ADS_2