Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
63. Belum Move-On


__ADS_3

"apa kabarmu, sayang! Sudah lama aku menantikan dirimu, tak ku sangka. Kamu menjadi istri seorang pengusaha kosmetik. Seberapapun perjuanganmu untuk merahasiakan suamimu kepadaku, akhirnya aku pun mengetahui juga!" ucap Bagas dengan tatapan mengejek.


"Lepaskan aku, Gas! Ini di tempat umum. Kamu jangan bersikap sembarangan!" ucap Lita dengan nada benci dan mencoba melepaskan jeratan Bagas.


Lita merasa takut. Bagaimana jika karyawannya melihat kejadian ini. Perilaku Bagas sungguh tidak sopan.


Memang benar, mereka adalah para orang tua muda yang sewaktu-waktu masih bisa timbul perasaan cinta. Entah pada pasangan sendiri, ataupun pasangan orang lain.


"Katakan padaku, kalo kamu juga merindukanku, Lita!" ucap Bagas dengan nada mesranya.


"Kamu bicara apa! Ingat, Gas! Kita ini sudah tua. Tak sepantasnya kamu berperilaku seperti ini," ucap Lita geram.


Bagas malah tertawa mengejek mendengar penuturan Lita. Dari ujung belokan sana, terdengar sayup-sayup orang bercengkerama. Sepertinya, orang-orang tersebut akan berjalan menuju toilet. Lita merasa gugup yang luar biasa. Bagaimana jika mereka terpergok dengan keadaan yang tidak baik. Bagas mengunci tubuh Lita dalam dekapannya.


"Gas, lepaskan aku! Ada orang yang akan kemari," ucap Lita takut.


"Katakan dulu kalau kamu masih mencintaiku, Lit,"


"Gila kamu! Aku dan kamu sudah tidak ada hubungan apapun. Jangan sembarangan kalo bicara!"


"Kalo begitu, biarlah karyawan kamu melihat semua ini," ucap Bagas sambil tersenyum sementara langkah-langkah itu semakin mendekat.


"Sampai kapanpun aku tak akan mengatakan hal itu. Hubungan kita sudah berakhir saat SMP dulu, sadar kamu! Aku dan kamu tidak ada hubungan apapun. Cepat lepaskan aku, Bagas! Istri dan suamiku sedang menunggu kita. Kamu jangan gila!" ucap Lita dengan suara lirih.


Keringat sudah membasahi dahi Lita. Langkah kaki-kaki itu akan segera berbelok. Bagas menikmati rasa ketakutan Lita. Bagas akhirnya melepaskan cengkeramannya dari tubuh Lita, berbarengan saat dua karyawati Bu Darma muncul.


"Selamat siang, Bu, Pak!" sapa karyawati Bu Darma.


"Iya, selamat siang!" balas Lita tersenyum.


Dengan langkah kaki cepat, Lita segera pergi meninggalkan toilet. Ia membenarkan baju dan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia juga mengelap keringat yang sudah membasahi dahinya dengan sapu tangan yang selalu ia bawa di kantong.


"Benar-benar gila si Bagas, itu. Memutuskan Bagas dulu, adalah hal yang sangat tepat. Dia benar-benar menjijikan!" ucap Bu Darma dalam hatinya.


Bu Darma merasa sangat kesal dengan perlakuan Bagas. Ia merinding dan merasa jijik saat membayangkan perlakuan Bagas tadi. Seseorang yang sudah beristri dengan beraninya menyentuh istri orang lain.


Darmawan memperhatikan wajah istrinya yang kembali dengan wajah ditekuk. Namun, segera tersenyum kembali saat bertatap muka dengan Bu Bagas.


***


Setelah berganti pakaian, Hana menemani Hasan makan siang di meja makan. Ia menghela nafas melihat Hasan yang datang masih menggunakan seragam osisnya.


"Harusnya kamu ganti baju dulu, San! Baru kesini jemput aku," tutur Hana.


"Kelamaan! Abis aku selesai makan, kita langsung pulang yah,"


"Loh, gak nunggu Papah sama Mamah pulang dulu?"


"Emang pulangnya jam berapa?"


"Em, gak tau deh. Biasanya sih siang gini udah balik. Tapi kadang juga sore, kadang juga malem,"

__ADS_1


"Nah, gak pasti kan! Kenapa tadi kamu gak nanya sama, Mamah," ucap Hasan kemudian meminum segelas air putih.


"Aku telepon coba,"


"Jangan. Siapa tau lagi sibuk. Udah kita pulang aja sekarang. Kapan-kapan kita main lagi," Hasan beranjak dari tempat duduknya.


"Masa kesini cuman numpang makan doang sih, kamu!"


"Ye, tujuan aku kan mau jemput kamu. Yang nyuruh aku makan di sini siapa hayo? Udah lah pulang sekarang aja. Aku ada kejutan loh, buat kamu!"


"Wah, kejutan? Apaan tuh, San!" tanya Hana kemudian mendekati Hasan.


"Pulang dulu kalo mau tau," ucap Hasan melipat tangan di dada.


Hana tampak berfikir. Ia kemudian tersenyum dan meminta ijin untuk pergi ke kamar terlebih dahulu.


"Oke deh, bentar aku ke kamar dulu yah, mau ambil seragam OSIS aku,"


"Jangan lama-lama yah!" seru Hasan.


Hana segera berlari menuju kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang dan mengirim pesan kepada Raja. Hana ingin memastikan keberadaan Raja karena ia masih takut jika, Raja diam-diam mengikutinya.


"Ja, kamu dimana?" Send.


Raja yang tengah makan bakso di tempat langganannya tersenyum sumringah mendapat pesan pertama dari Hana.


"Cie nanyain aku. Kamu kangen sama aku?" balas Raja sambil tersenyum.


"Emang nyebelin banget nih orang," gumam Hana sambil mengetik pesan.


"Jawab aja lagi dimana?" send.


Raja mengernyitkan kening membaca balasan dari Hana.


"Kenapa sih ini anak, pertanyaannya bikin aku curiga," ucap Raja kemudian meneguk es tehnya.


Lama tak mendapat balasan, Hana mengirim pesan lagi.


"Rajaaaaaaa! Balas dong!"


Raja terkekeh membaca chat dari Hana. Ia kemudian memutuskan untuk menelpon Hana.


Hana menghela nafas, "bukanya balas chat aku, dia malah nelpon!" gumam Hana.


"Hallo, Raja! Kenapa gak balas chat aku!" ucap Hana tanpa basa-basi.


"Ada apa emangnya? Kenapa kamu nanya begitu! Kamu mau aku main ke rumah kamu?" tanya Raja dari seberang sana.


"Nggak, aku cuman mau mastiin aja kamu gak ngikutin aku pergi!"


"Oh, jadi itu alasannya?" tanya Raja sambil tersenyum.

__ADS_1


"Emangnya kamu mau pergi kemana? Mau aku anterin gak?" tanya Raja lagi.


"Raja, udah jawab aku sekarang, kamu ada dimana? Kan kamu janji mau nurut sama aku," ucap Hana sedikit kesal.


"Iya iya, gitu aja ngambek. Aku lagi di warung bakso Pak Min, nih! Kamu mau nyusul?"


"Dimana tuh tempatnya?"


"Depan alun-alun kota sebelah selatan. Kalo mau kesini, aku tungguin loh," ucap Raja sambil tersenyum.


"Oh, sebaiknya kamu cepet pulang yah, kalo udah selesai makan. Gak usah mampir kemana-mana,"


"Em, makasih perhatiannya. Tapi, aku kayaknya mau mampir deh,"


"Mampir kemana lagi? Langsung pulang aja, Ja!" ucap Hana kesal.


Hana merasa sedikit gugup. Hasan pasti sudah tak sabar menunggunya di bawah.


"Pokoknya aku gak mau tau. Kamu harus cepet pulang!" seru Hana.


"Kenapa sih, koq ngotot banget nyuruh aku pulang. Pulang ke rumah aku atau kamu nih?" Raja menggoda Hana yang sudah terdengar kesal.


"Raja! Jangan main-main deh. Aku serius,"


"Aku juga serius sayang, hahaha,"


"Raja?!" Hana menekankan nada bicaranya.


"Iya iya, abis ini aku mau ke rumah sakit, terus pulang deh," ucap Raja sambil menahan tawa.


Mendengar kata rumah sakit, Hana mendadak merubah ekspresinya dan menjadi sedikit lembut nada bicaranya.


"Koq ke rumah sakit, siapa yang sakit, Ja? Kamu?" tanya Hana lembut.


"Aku baik-baik aja. Nenek aku yang di rumah sakit,"


"Oh gitu. Em, ya udah salam buat nenek kamu yah, semoga cepet sembuh. Inget, abis dari sana kamu langsung pulang yah,"


"Iya tukang ngambek!" jawab Raja.


Hana sebenarnya ingin menjawab pernyataan Raja yang menyebut dirinya tukang ngambek. Tapi, jika terus diladenin, obrolannya tidak akan pernah selesai.


Hana memutus panggilannya, dan segera memasukan seragam osisnya ke dalam tas rangselnya. Ia menuruni tangga menuju bawah.


Hana celingukan mencari Hasan. Hasan rupanya sudah bertengger di atas motornya dengan memasang wajah cemberut.


"Sory, lama ya?" tanya Hana sambil tersenyum manis.


Hasan melirik Hana dengan kesal. Bola matanya terus mengikuti gerakan Hana, membuat Hana merasa tidak enak.


"Jangan ngliatin aku gitu dong, San! Aku takut tau," ucap Hana menunduk.

__ADS_1


__ADS_2