Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
Berbeda


__ADS_3

Hana kemudian mengusap kedua pipi Hasan yang merah padam. "Tentu saja aku menolak. Aku hanya bersedia membantu mengembalikan ingatannya lagi,"


"Apa kamu sudah gila. Dia, orang yang udah mencelakai kamu. Kamu malah membantunya untuk sadar. Jika dia tiba-tiba ingat semuanya dan masih ingin berbuat hal jahat sama kamu gimana? Sedangkan aku tidak ada di samping kamu. Sebelum ambil keputusan sebaiknya kamu pikir dulu, Hana!" Gertak Hasan, namun dengan nada sedang.


"Aku yakin bisa buat dia sadar tanpa kembali ke masa lalunya, San. Perubahan Samuel sangat terlihat dan banyak. Dia tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi,"


"Mencegah lebih baik, Hana. Terlebih lagi, Pak Bagas berencana ingin menjodohkan kamu dengan anaknya. Aku khawatir kalo hal ini sudah direncanakan oleh Samuel,"


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu sih! Jelas-jelas dia amnesia. Samuel gak sejahat yang kamu pikirkan, San."


"Kenapa kamu mendukung dia. Bagaimana kalo dia hanya pura-pura amnesia. Terus tiba-tiba aja nglakuin ...."


"Kamu berpikir terlalu jauh, San. Aku yakin, Samuel gak bohong. Lagi pula, siapa yang sudah buat dia amnesia?" tanya Hana melirik Hasan dengan tajam.


"Kamu nuduh aku! Yang benar saja. Aku sama sekali tidak membuatnya gegar otak."

__ADS_1


"Lalu siapa kalo bukan kamu!"


"Hah, kamu ini. Baru saja baikan sudah bikin kesal. Istirahat lah, aku mau keluar," Hasan berjalan tanpa menoleh ke belakang. Ia kemudian menutup pintu kamar Hana dengan rasa kesal berlipat-lipat.


"Menyebalkan sekali. Apa dia tidak bisa belajar dari masa lalunya. Tingkat kewaspadaan Hana sungguh sangat kurang. Bagaimana cara menyadarkannya," gumam Hasan sambil berjalan ke arah dapur.


Hana menghela nafas panjang, lalu memijat kepalanya lagi yang mulai berdenyut. "Hasan, kenapa kamu selalu berpikir buruk tentang Samuel. Aku tau, kamu seperti ini karena khawatir sama aku. Tapi, kamu terlalu berlebihan kali ini. Jelas-jelas Samuel amnesia. Bahkan, kamu sendiri yang sudah menyebabkan Samuel hilang ingatan. Masih saja benci kepadanya." Gumam Hana.


Hasan mendidihkan air, kemudian memasukannya ke dalam termos. Tak lupa, ia juga mengisi botol dengan air dingin. Dengan perasaan yang masih dongkol, ia membawanya ke kamar Hana.


Hana berbalik dan melihat Hasan yang sudah hilang dibalik pintu. "Dia sama sekali tidak menyapaku. Apa benar-benar marah! Kalo dia marah, aku akan batalkan tawaran dari Tante Ratna. Bagaimanapun juga, aku harus lebih patuh sama Hasan."


***


"Ada apa sih, Mah? Kamu tidak seperti biasanya. Kenapa kamu suka mendiamkan aku sekarang!" Darmawan mengelus kedua pundak Lita dan menciuminya.

__ADS_1


"Gak papa, Pah. Mamah cuman takut jika Bagas serius akan menjodohkan Hana dengan anaknya," ucap Lita dengan tatapan kosong.


"Itu tidak akan terjadi. Kamu tenang saja. Lagi pula, Bagas itu teman kamu. Dia pasti akan mengerti jika kamu bicara terus terang kepadanya," tutur Darmawan seraya tersenyum.


"Tidak semudah itu, Pah. Aku dan dia sudah lama tidak bertemu. Aku tidak yakin kalo dia akan setuju denganku nantinya," jawab Lita dengan pasrah. Dia begitu muak tiap kali suaminya menyebut nama Bagaskara.


Kelakuan Bagas yang semakin kurang ajar kepadanya, membuat Lita setres. Tapi, ia berusaha untuk menutupinya dari Darmawan.


"Aku yakin dia pasti bisa mengerti. Mendengar pengakuannya, hubunganmu dulu dengan Pak Bagas begitu dekat. Sedekat apa hubungan kalian?"


"Memangnya dia cerita apa saja, Pah?" Lita mulai gugup saat Darmawan mulai bercerita soal masa lalu Lita dan Bagaskara.


"Tidak banyak. Sudah lah, kita tidur sekarang. Besok pagi-pagi sekali, Papah akan berangkat. Papah mau kamu juga ikut bekerja lagi, Mah. Supaya, papah ada teman di kantor. Kamu gak keberatan kan?" ucap Darmawan sambil merangkul pinggang istrinya dengan mesra.


Lita tersenyum dan mengangguk. Ia mengelus pipi suaminya dengan lembut. Sebelum benar-benar tertidur, mereka melakukan aktifitas sebagaimana pasangan suami istri pada umumnya.

__ADS_1


__ADS_2