
Hana mengehela nafas melihat Hasan yang mungkin sekarang sudah terlelap.
"Udah tidur ya. Ya udah deh, aku tinggal ke kamar aja," ucap Hana.
Pada saat ingin berdiri, Hasan menarik tangan Hana dengan keras, sehingga membuat Hana terjatuh di atas tubuh Hasan.
Hana kaget dengan sikap Hasan yang tiba-tiba. Ia pikir, Hasan sudah benar-benar tidur karena ia menjawab pertanyaannya dengan malas. Tapi ternyata, Hasan masih terjaga.
Hasan memandangi wajah Hana sekilas. Mereka berpandangan beberapa saat tanpa ada yang bicara satupun. Hasan kemudian memeluk tubuh Hana dengan erat dalam posisinya yang terlentang di sofa.
Hasan memeluk Hana dengan erat. Ia mengunci tubuh Hana dengan kedua tangannya. Benda kenyal itu dapat Hasan rasakan empuk, menyentuh dada bidangnya.
"Biarkan aku memelukmu hingga aku tertidur lelap," bisik Hasan di telinga Hana.
Hana hanya diam dan menurut mendengar perintah Hasan. Hana sepertinya merasakan kenyamanan juga dalam pelukan itu.
Mereka berdua akhirnya terlelap bersama. Dalam posisi yang nantinya akan membuat badan mereka pegal, jika terbangun nanti. Karena tempat paling nyaman untuk tidur tetaplah kamar tidur.
***
"Selamat Pak Darmawan, akhirnya produk bapak berhasil diluncurkan dengan lancar," ucap salah satu rekan bisnis Pak Darma.
"Terimakasih, Pak! Silahkan dinikmati jamuannya," ucap Pak Darmawan kepada seluruh rekan bisnisnya.
__ADS_1
Pak Darmawan berjalan menghampiri rekannya satu persatu. Terlihat Bagaskara, sedang menikmati minumannya sambil menatap pemandangan dari balik jendela.
Pak Darmawan tersenyum kemudian menghampirinya.
"Pak Bagas, kenapa tidak bergabung dengan yang lain?" tanya Pak Darma.
"Ah, saya lebih suka menyendiri. Oh iya, kenapa istri Pak Darma, tidak ikut dalam launching ini? Apa beliau sakit?" tanya Pak Bagas.
"Oh, ya kebetulan memang sedang tidak enak badan. Beberapa orang tadi juga menanyakan hal yang sama dengan anda,"
"Untunglah saya tidak mengajak istri saya. Kalo dia ikut, pasti akan kebingungan karena tidak ada istri bapak," ucap Bagaskara sambil tersenyum.
"Apa benar kamu sakit, Lita? Atau hanya mencoba menghindar dariku?" batin Bagaskara dalam hatinya.
Bagaskara mengernyitkan kening mendengar pertanyaan Darmawan.
"Tentu saja, dia itu pacarku! Sampai sekarang aku belum memutuskannya," ucap Bagaskara dalam hatinya.
"Yah, istri bapak seperti teman sekolah saya dulu. Tapi, saya juga tidak yakin. Mungkin wajahnya saja yang mirip. Karena sudah sangat lama sekali," ujar Pak Bagaskara berbohong.
"Benarkah? Mungkin benar kalo istri saya teman anda, Pak Bagas! Masa Pak Bagas bisa lupa,"
"Saya itu suka lupa, tapi kalo istri bapak kenal sama saya, kenapa dia tidak menyapa saya terlebih dulu. Harusnya istri Pak Bagas menegur saya. Setidaknya, ada perasaan gembira karena bertemu kawan lama. Kalo saya, saya benar-benar sudah lupa. Tapi, kalo di pikir-pikir istri bapak mirip dengan teman saya dulu. Saya takut salah kalo mau menebak. Nanti di bilang sok kenal kan saya tidak enak," tutur Pak Bagas.
__ADS_1
Pak Darmawan tersenyum mendengar penuturan Pak Bagas.
"Mungkin istri saya juga begitu, Pak. Kalo boleh tau, siapa nama teman bapak yang mirip dengan istri saya itu,"
"Oh, kalo tidak salah sih namanya, Lita. Amelita Prameswari. Kalo tidak salah sih ya, Pak!" ujar Pak Bagas pura-pura mengingat.
Pak Darmawan tampak terkejut mendengar penuturan Pak Bagas. Ia tak menyangka jika istrinya benar-benar berteman dengan Pak Bagas.
"Yang benar, Pak! Kalo itu, itu sih nama istri saya!" ucap Pak Darma.
"Ah, masa sih? Tapi koq istri bapak tidak mengenali saya," ujar Pak Bagas.
"Iya benar, Pak! Mungkin istri saya juga takut kalo nanti di kira sok kenal. Ya ampun, dunia memang sempit ya, Pak Bagas. Istri saya pasti senang kalo tahu, bapak adalah teman sekolahnya dulu," ujar Pak Darmawan sambil merangkul pundak Pak Bagas.
"Sampai kapanpun saya tidak akan lupa denganmu, Lita! Wajahmu hampir tidak berubah dari dulu. Bahkan, kamu terlihat lebih cantik sekarang di banding dulu," ujar Pak Bagas dalam hatinya.
"Wah, kalo begitu kapan-kapan saya boleh mampir ke rumah anda dong, Pak Darma! Saya mau bikin kejutan, siapa tau dia kaget, atau malah biasa saja," tutur Pak Bagas merasa puas dengan jawaban Pak Darma.
"Oh iya, tentu saja. Silahkan kalo mau ke rumah saya. Bapak boleh main kapan saja," jawab Pak Darmawan tanpa menaruh curiga sedikitpun kepada Pak Bagas.
Pak Bagas tersenyum menyeringai sambil melirik Pak Darmawan, yang kini tengah tertawa sambil merangkulnya.
"Welcome back, Lita! Suamimu sendiri yang memintaku masuk untuk menemui mu. Aku yakin, kamu akan menyukainya, hahaha!" batin Bagaskara merasa sangat puas.
__ADS_1