
Bagaimana juga nantinya kalo Hasan tau. Hasan pasti akan marah dengannya. Tapi, Hana juga bingung harus bagaimana.
"Kenapa kamu diem aja? Kamu sakit? Aku anterin pulang yah?" tutur Raja sambil memegang tangan Hana.
"Iya, aku sakit karena kamu. Kamu itu mau cari masalah sama aku?" tanya Hana dengan mata melotot.
Raja menghela nafas, ia memang pernah membuat sakit Hana waktu itu. Tapi sekarang, ia ingin membahagiakan Hana. Raja ingin selalu berada di sisi Hana.
"Aku gak mau cari masalah. Aku mau cari kedamaian. Jadi gimana, kamu mau pilih yang mana? Nomor hape atau pacar?"
"Kamu gak bisa ya kalo gak maksa?"
"Aku gak maksa, aku ngasih kamu dua pilihan loh? Eh, kamu takut sama si Hasan itu yah?Takut kalo Hasan ngadu sama orang tua kamu? Tenang aja aku kan ...."
Bug bug bug
"Aduh, kamu koq mukulin aku sih!" seru Raja tak mengerti.
"Aku sebel sama kamu. Udah, kamu jangan cari-cari aku lagi. Aku gak mau temenan sama kamu lagi, udah pergi sana!" ucap Hana dengan kesal.
Raja malah tersenyum ketika Hana memarahinya.
"Ini anak gak ada takutnya apa yah! Aku udah kasar gini, dia malah senyam senyum aja," ucap Hana dalam hatinya.
"Pukul aja sepuasnya, Han! Aku gak akan menyerah. Biarpun kamu marah sama aku. Aku gak akan marah sama kamu. Nanti, aku tiap hari bakal ke rumah kamu loh, kalo kamu marah sama aku," ucap Raja dengan tenang.
Hana bertambah kesal. Ia kemudian menarik telinga Raja saking gemesnya.
"Iiiihhhh, kamu ini nyebelin banget sih!"
"Aduh aduh, sakiiiiiitttt!" pekik Raja.
"Rasain nih, rasain!" Hana menarik lebih keras lagi, dan Raja semakin mengaduh.
"Mbak, kalo berantem jangan di depan supermarket, mending cari tempat lain!" ucap Kasir supermarket dengan keras.
__ADS_1
Karena merasa terganggu, kasir yang sedang berjaga di pagi itu keluar menegur Hana dan Raja.
Hana berhenti ketika di tegur oleh kasir. Hana meminta maaf dan tersenyum. Raja mengusap-usap telinganya yang terasa panas dan sakit itu.
"Emang enak dimarahin!" bisik Raja di telinga Hana.
Hana memukul mulut Raja sambil tersenyum ke arah kasir yang masih berkacak pinggang menatapnya.
Hana menarik jaket Raja dan menuntunnya ke motor Raja.
"Maaf ya, Mbak! Pacar saya emang suka marah!" tutur Raja kepada kasir.
Hana lebih mendelik lagi menatap Raja ketika dengan seenak jidatnya mengakui bahwa dirinya adalah pacarnya. Raja malah tersenyum tanpa merasa bersalah.
Raja menaiki motornya dan mulai menyalakan mesin. Hana menaruh jajannya ke dalam tas dan naik di jok motor Raja. Mau tidak mau, dia harus pulang dengan Raja hari ini.
"Gitu dong, kalo ada masalah sebaiknya di selesaikan baik-baik. Jangan malah bertengkar di tempat umum. Malu dilihatin," ujar Kasir lagi.
Hana hanya tersenyum mendengar kalimat si Kasir. Raja dan Hana kemudian berlalu dari supermarket.
Raja merasa menang karena akhirnya bisa mengantar Hana pulang juga untuk yang kedua kalinya. Dibalik helmnya, Raja terus tersenyum sambil melihat ke arah kaca spion sepeda motornya. Di sana ada gambar Hana yang terlihat jelas wajahnya cemberut.
"Duh, gimana nih. Raja keras kepala banget. Dia gak akan mudah aku bilangin. Masa iya aku harus pacaran sama dia. Aku ini istri orang. Apa lebih baik aku kasih nomorku aja ya! Hasan pasti gak akan tau tentang hal ini," Hana berkata dalam hatinya.
Hana bimbang. Jika ia memberitahu Hasan, maka ia akan sangat marah. Hasan baru saja sembuh, Hana tidak mau jika Hasan, bekerlahi lagi.
Tak terasa, mereka sudah sampai di depan rumah Hana. Hana turun dengan wajah yang masih cemberut memikirkan apa yang harus ia katakan kepada Raja.
"Cepet banget ya udah sampai di sini. Aku boleh mampir gak?" tanya Raja sambil tersenyum.
"Kamu itu kenapa sih, jadi orang koq ngototan banget. Udah pergi sana! Jangan ganggu aku lagi," ucap Hana kemudian berbalik.
"Aku bakal di sini nungguin kamu!" seru Raja sambil tersenyum.
Wajahnya yang terkena sinar matahari menambah senyuman manisnya. Hana berbalik dan mendekat ke arah Raja.
__ADS_1
"Mana hape kamu!" tanya Hana tanpa melihat wajah Raja, ia sudah cukup kesal dengan tingkahnya.
Raja sumringah dan langsung merogoh saku jaketnya, menyerahkan hapenya kepada Hana.
Hana kemudian mengetikan nomor hapenya di papan telepon Raja.
"Nih ... Aku udah kasih nomor hape aku. Kamu jangan ganggu aku lagi. Kamu jangan pernah main ke rumah aku tanpa ijin dari aku. Kamu juga gak boleh ngikutin kemana aku pergi. Intinya, setelah aku kasih nomor aku ke kamu. Kamu harus nurut sama omongan aku. Kalo kamu gak nurut, aku gak akan pernah mau kenal lagi sama kamu. Aku gak akan pernah mau maafin semua kesalahan kamu, kalo kamu sampai gak dengerin omongan aku," terang Hana sambil menyerahkan hape Raja.
Raja tersenyum dan menerimanya.
"Wah, larangan yang kamu berikan udah kayak pacar beneran aja. Kamu tenang aja, aku bakal nurut koq. Kan aku udah dapet nomor hape kamu. Aku bisa hubungin kamu kapan pun. Jadi, gak perlu lagi ngikutin kamu,"
"Awas yah kalo kamu sampai bohong. Oh iya, jangan pernah bilang sama siapa pun, kalo kamu punya nomor aku. Termasuk, Hasan!"
Raja mengernyitkan keningnya.
"Hana kelihatannya takut banget sama si, Hasan! Apa ada sesuatu yang dia sembunyiin?" ucap Raja dalam hatinya.
"Udah buruan sana pulang!" kata Hana sambil mendorong tubuh Raja.
"Tunggu dong! Aku mau mastiin dulu, nomornya bener apa nggak!" ujar Raja kemudian menelpon nomor yang ditulis Hana.
Hana menghela nafas kemudian mengeluarkan hape dari sakunya.
"Nih ... Nomor kamu udah masuk! Puas!" Hana menunjukan layar hapenya kepada Raja.
Raja tersenyum puas. Ia memberi nama kontak Hana dengan sebutan Gadis Ngambekan, setelah itu iamemasukan kembali hapenya ke dalam saku jaket.
Raja mengenakan helmnya kembali dan menaiki kuda besinya. Ia mulai menyalakan mesin. Raja membuka kaca helmnya. Mata indahnya memandang Hana penuh dengan cinta.
Raja sebenarnya ingin menebus rasa bersalahnya. Tetapi, hatinya berkata lain. Setelah beberapa kali mendekati Hana, malah membuat dirinya jatuh cinta.
Raja semakin takut jika suatu hari nanti, Hana mengetahui bahwa dirinya yang menendang bola ke arahnya waktu itu. Raja benar-benar merasa bersalah, mungkin dengan mencintai Hana dan Hana bisa takluk kepadanya, Hana tidak akan begitu marah jika suatu hari nanti rahasianya terbongkar. Itu yang ada di pikiran Raja, saat ini.
"Maafin aku, Han! Aku terpaksa melakukan ini buat menebus rasa bersalah aku. Tapi, ternyata aku naksir beneran sama kamu. Aku janji bakal bikin kamu bahagia. Dengan cara aku sendiri," gumam Raja dalam hatinya.
__ADS_1
Setelah cukup puas menatap Hana, Raja segera meluncurkan sepeda motornya ke jalan. Hana masih terpaku di tempat. Ia heran dengan sikap Raja. Tatapan Raja barusan terlihat lain.
"Raja itu sebenernya kenapa sih? Kenapa dia selalu ngotot sama aku! Apa mungkin dia jatuh cinta beneran sama aku? Atau ada hal lain yang ia sembunyiin dari aku?" ucap Hana dalam hatinya.