Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
66. Pergi Tanpa Ijin


__ADS_3

Pak Darmawan kaget karena tiba-tiba istrinya memintanya untuk membatalkan kontrak.


"Kamu itu kenapa sih, Mah? Pulang dari kantor marah-marah terus hingga sekarang. Alasan kamu apa nyuruh papah, batalin kontrak?"


"Pokoknya batalin aja!"


"Kalo kamu nyuruh tanpa alasan, Papah gak akan batalin kontrak itu. Lebih baik kamu tidur saja sana," ucap Pak Darmawan kesal.


Bu Darma lebih kesal lagi. Ia memang tidak pernah bercerita soal masa lalunya. Bahkan saat acara perjodohan, Bu Darma tidak pernah mengungkit jika ia sebenarnya sudah punya pacar kala itu.


Bu Darma memutuskan secara sepihak, dan menghilang begitu saja dari pandangan Bagaskara. Bagas berusaha mati-matian untuk mencari Bu Darma. Ketika tau Bu Darma sudah menikah, hatinya begitu terpukul. Ia tidak terima dengan perlakuan Bu Darma. Ia berjanji akan mengusik rumah tangga Bu Darma kala itu. Namun, seriring berjalannya waktu, orangtuanya mengirim ia ke luar negeri untuk melanjutkan study nya. Di sana ia bertemu dengan Bu Bagas.


Bagaskara dan Bu Bagas berteman dekat. Bagaskara menceritakan asmaranya bersama Bu Darma, Bu Bagas yang menyimpan perasaan lebih hanya bisa diam dan mencoba mendengarkan saja semua unek-unek Bagaskara kala itu.


Begitu sampai di Indonesia, Bagaskara mencari keberadaan Bu Darma lagi. Akan tetapi, ia tak dapat menemukannya.


Karena sudah putus asa, akhirnya Bagaskara berusaha untuk melupakan Bu Darma. Dan ia kemudian menikahi Bu Bagas.


Setelah berpuluh-puluh tahun, rupanya Bagaskara bertemu lagi dengan Bu Darma. Bagaskara terkesima lagi dengan kecantikan Bu Darma yang semakin mempesona di matanya.


"Lita, ingin sekali aku memelukmu lagi. Harum tubuhmu membuat hasratku memuncak. Aku ingin kembali bertemu denganmu sayangku," gumam Bagas di depan cermin toilet kamarnya.


Bagaskara membayangkan pertemuannya tadi dengan Bu Darma di kantor. Apalagi ketika ia memeluknya dengan erat, rasanya seperti ada energi panas yang mengalir dalam darahnya. Seluruh tubuhnya menegang merindukan belaian mesra kekasih lamanya.


***


Hana sudah selesai beres-beres dan juga membersihkan badan. Ia melirik Hasan yang masih berkutat dengan laptopnya. Hana duduk di sebelahnya dan memperhatikan raut wajah Hasan yang sudah kusut dengan lingkar matanya yang mulai menghitam.


"San, belum selesai juga? Kamu ga tidur semalaman loh, nanti kalo sakit gimana?" tanya Hana yang mulai khawatir.


Hasan menggerakan kepala dan memijat tengkuk serta pundaknya yang pegal.


"Bentar lagi kelar nih," jawab Hasan tanpa memandang Hana.


"Aku khawatir kalo kamu sakit, San!" keluh Hana.


Hana kemudian bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan menuju belakang sofa tempat duduk Hasan. Hana perlahan memijit pundak Hasan dengan lembut.


Hasan kaget dan memutar kepala untuk melihat wajah Hana sebentar.


"Makasih, enak banget dipijit begitu," ucap Hasan sambil tersenyum.


"Udah buruan selesain, abis itu mandi, sarapan, kamu istirahat," kata Hana.

__ADS_1


"Iya, nih tinggal ngirim koq,"


"Liat Hasan bekerja keras gini, aku gak enak kalo harus liburan sendiri. Apalagi sama Raja. Kalo Hasan tau, Hasan juga gak bakal ngijinin. Tapi, boring juga kalo harus dirumah aja. Gak ada kegiatan sama sekali," ucap Hana dalam hatinya.


Tak berapa lama, Hasan telah selesai mengirim semua hasil kerjanya kepada papahnya. Ia menghela nafas dan tanpa sengaja menarik tangan Hana yang tengah memijatnya.


Hana kaget seketika, kedua tangannya di genggam erat oleh Hasan. Wajah mereka benar-benar berdekatan. Hasan memiringkan wajahnya sekilas saja, mereka bisa dengan mudah berciuman. Tapi, Hasan memilih menatap ke depan sambil tersenyum.


Sementara Hana terus memandang ekspresi wajahnya yang begitu bahagia karena sudah menyelesaikan pekerjaannya. Hana ikut senang melihat Hasan tersenyum bahagia.


"Alhamdulillah, aku seneng banget kerjaan udah beres. Untuk tiga hari kedepan, kita bisa liburan," ucap Hasan.


Hana kemudian mencoba melepaskan diri dari Hasan. Hana kembali duduk di sebelah Hasan.


"Katanya kamu gak bakal pergi liburan,"


"Kasian kamu juga, kalo di rumah terus. Pasti bosen ntar," ucap Hasan sambil mengelus rambut Hana yang tergerai.


Hana merasa deg-degan atas perlakuan manis Hasan pagi ini.


"Tapi, kalo kita pergi bareng-bareng, ntar dicurigai gimana?"


"Siapa yang bakal curiga? Kita sama-sama jaga lah,"


Hana tersenyum dan mengangguk. Ia tak ingin bertanya macam-macam lagi, supaya Hasan cepat beristirahat.


Hasan segera membersihkan badannya, setelah itu, ia pergi sarapan dan pergi untuk tidur di kamar.


Hana berjalan mondar mandir di depan ruang keluarga. Ia tampak risau.


"Gimana dengan ajakan, Raja buat muncak yah ?" gumam Hana dengan suara lirih.


Hana menengok jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Wah, udah jam delapan. Aku siap-siap pergi aja deh. Minta ijin sama Hasan nanti aja," ucap Hana kemudian pergi ke kamarnya untuk mengambil sweater dan tas slempang untuk menaruh dompet dan hapenya.


Hana membuat catatan yang kemudian di tempel di lemari kulkas.


"San, aku pergi sebentar. Jangan cariin aku, ntar aku pulang cepet, Hana,"


Hana menempelkan notice tersebut lalu ia pergi ke depan untuk mencari taxi.


"Semoga aku gak ketemu Raja, di depan. Kita udah janjian di alun-alun. Gak papa kalo harus puter balik dulu. Yang penting gak ketahuan kalo aku tinggal di sini," ujar Hana sambil berjalan cepat.

__ADS_1


Saat melewati rumah Wawan, Hana bertemu istrinya yang tengah menyiram tanaman.


"Mau kemana, Dek Hana? Koq jalan sendirian? Hasan gak ikut?" tanya Wiwin, istri Wawan.


"Eh, Mbak Wiwin, ini mau jalan-jalan sebentar. Hasan baru aja tidur, gak enak kalo mau bangunin. Aku duluan ya, Mbak!" ucap Hana diiringi senyuman.


Wiwin mengangguk, dan Hana segera meneruskan perjalanannya. Beruntung ia segera mendapatkan taxi. Hana menghela nafasnya ketika sudah duduk di dalam taxi.


"Semoga, Hasan gak marah karena aku pergi tanpa ijin dulu," ucap Hana dalam hatinya.


***


"Mamah pikir, kamu udah lupa sama rumah ini," ujar Bu Praja kepada seorang laki-laki yang kini tengah makan di meja dapur.


Bu Praja membuatkan jus alpukat untuk laki-laki tersebut.


"Mana mungkin sih aku lupa. Kan aku nunggu lulus dulu, Mah. Leo dimana sekarang?"


"Dia udah bahagia di rumahnya sendiri ... Nih, jusnya diabisin yah," ucap Bu Praja sambil duduk di depan anaknya itu.


"Waw, terdengar menggelikan ... Makasih, Mah!" ucapnya sambil menyruput jus alpukat dingin itu.


"Kamu mau nerusin kuliah dimana? Di luar negeri, atau di sini?" tanya Bu Praja.


"Hem, masih mikir-mikir dulu. Mah, minta alamat rumahnya Leo, dong! Aku mau main kesana,"


"Kamu mending ke kantor aja, temuin Papah dulu,"


"Abis dari rumah, Leo. Aku langsung kesana. Tapi, gimana kalo Papah masih marah sama aku, Mah?"


"Resiko kamu, salah sendiri gak mau dengerin kata-kata papahmu,"


"Ah, kenapa Mamah bilang begitu, aku kan jadi takut,"


"Kamu mandi dulu gih, bau tau!" ucap Bu Praja sambil mengibaskan tangan di depan hidungnya.


"Iya, mamahku sayang,"


"Miki, abis ini, Mamah mau pergi ke rumah Bu RT dulu, nanti mamah tulis alamat rumahnya, Leo. Kamu jangan godain dia yah. Jangan kamu racunin pikirannya,"


"Iya, Mamah," ucap Miki kemudian beranjak dari tempat duduknya, tak lupa ia mengecup pipi Bu Praja sebagai ungkapan sayangnya.


Miki berjalan ke anak tangga menuju kamarnya.

__ADS_1


"Dasar anak itu, banyak perubahan dalam dirinya, semoga dia bisa menemukan impiannya," gumam Bu Praja lirih.


__ADS_2