
"Makasih iya, kamu udah nolongin aku, udah jagain aku juga di sini," ucap Hana diiringi senyuman.
"Iya sama-sama. sekarang apa yang kamu rasain?" tanya Hasan mengulang pertanyaannya.
"Agak pusing aja, San!" jawab Hana.
"Ntar kita pergi ke dokter yah! kita periksa lagi," ajak Hasan.
"Gak usah, San, aku baik-baik aja koq. Aku pengin istirahat di rumah aja. Oh iya, kamu gak ngasih tau orangtua aku kan, kalo aku pingsan!" tanya Hana sedikit khawatir.
"Belom, Han. Aku nungguin kamu sadar, aku kasih tau sekarang yah,"
"Jangan-jangan! gak usah! kirain, kamu udah ngasih tau mereka, kalo belom, alhamdulillah banget, San. Aku gak mau mereka khawatir,"
"Tapi, kalo gak dikasih tau, aku jadi ngrasa bersalah, Han! Maaf ya, aku gak bisa jagain kamu," ucap Hasan dengan perasaan bersalahnya.
Hana tersenyum dan memegang tangan Hasan. "Gak papa, San! Ini permintaan aku. Semua ini gak ada sangkut pautnya sama kamu, jadi, gak usah merasa bersalah ... Tendangan bola tadi itu bener-bener keras banget. Kepalaku langsung pusing, pandangan aku gelap. Bangun-bangun udah di sini aja," ucap Hana sambil melihat sekeliling.
"Aku bakal cari tau orang yang sudah dengan sengaja nendang bola ke arah kamu, Han," ucap Hasan dengan mantap.
"Mau ngapain lagi kamu? Udah lah jangan aneh-aneh. Mereka pasti gak sengaja nglakuinnya. Posisi mereka kan emang lagi pada maen sepak bola. Kebetulan aja pas kena aku," tutur Hana.
"Aku curiga aja, Han, soalnya ...."
"Udah, udah, kamu gak usah macem-macem. Yang penting, aku kan baik-baik aja sekarang ... Oh iya, kamu udah tau belum, kalo Samuel udah di keluarin!"
"Hem, Samuel? Samuel yang aku pukulin itu ya?" tanya Hasan pura-pura.
"Iya, dia udah di keluarin dari sekolah karena suatu masalah. Kamu, kamu gak nglaporin masalah itu kan, San!" tanya Hana penuh selidik.
Hasan tersenyum mendengar kalimat Hana. "Kamu ada-ada aja deh, mana mungkin aku berani laporan, Han! Kan aku udah janji sama kamu,"
"Kamu gak bohong kan?"
"Serius, aku gak bohong!" jawab Hasan sambil mengangkat tangannya, bahwa ia tidak berbohong.
"Kalo bukan masalah aku, kira-kira masalah apa ya, San! Yang buat, Samuel di keluarin,"
"Mana aku tau," jawab Hasan enteng.
"Eh, kamu udah enakan belom, sekarang kan jam terahir, bentar lagi pulang, kita nunggu sepi aja yah, biar bisa pulang bareng," ucap Hasan lagi.
"Iya terserah kamu aja. Oh iya tadi pagi kamu kenapa?" tanya Hana.
"Tadi pagi? Aku? Kenapa?" Hasan tidak mengerti dengan pertanyaan Hana.
__ADS_1
"Iya, waktu kamu senyum-senyum sendiri ngliatin hape, serius banget lagi," kata Hana kesal.
"Oh itu, kenapa emangnya?" tanya Hasan sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang rapih.
"Gak papa, aku, a-aku pengin tau aja, kamu dapet chat dari siapa! nyampe kamu gak konsen gitu," jawab Hana membuang muka.
"Cieee ... Cemburu ya?" Hasan menggoda Hana.
"Siapa yang cemburu! Aku cuman nanya koq. Soalnya kita mau praktek bikin PR dari Pak Mardi, dan kamu malah gak fokus gitu setelah tau ...."
"Yah, ngeles, udah ngaku aja kalo cemburu,"
"Gak ada cemburu, ngapain aku mesti cemburu ... Emang pesan dari siapa?"
"Ada deh, ntar kamu juga tau," jawab Hasan menyunggingkan senyum.
"Dari siapa sih, San! Aku jadi penasaran nih,"
"Ada lah, oh iya ada salam dari Papa aku ... Tadi, sebenernya aku tuh chattingan sama Papa, Han. Papa nitip salam buat kamu,"
"Oh, iya, salam balik buat, Papa," jawab Hana tersipu malu, hatinya merasa lega.
"Cie udah lega yah, denger yang chat aku itu, Papa! Tenang aja, Han, aku gak chattingan sama cewek koq, aku itu ...."
"Hanaaaa! Kamu udah sadar!" teriak Yusi yang tiba-tiba muncul dari balik pintu, dan langsung menghambur masuk memeluk Hana.
"Aku khawatir banget tau sama kamu, nih baju OSIS yang aku janji-in, udah aku beliin," ucap Yusi menyodorkan seragam baru untuk Hana.
"Makasih ya, Yus. Kamu udah gak marah lagi sama aku?"
"Masih lah. Aku masih sebel sama kamu. Coba liat, baju kamu udah kotor, di injek-injek sama Cantika. Terus tadi di alun-alun, dia dengan sengaja menabrakan dirinya, dan berbohong, sampe bibir kamu berdarah gitu. Aku yakin dia tuh sengaja," kata Yusi dengan emosi.
"Kamu emang paling tau soal, Cantika, deh kayaknya, hehehe," ucap Hana diiringi tawa.
"Aku serius tau, gak lagi becanda," jawab Yusi.
"Kapan, Cantika nginjek-injek baju kamu, Han?" tanya Hasan dengan wajah serius.
"Itu, waktu kita lagi ganti pakaian olahraga, San. Baju osis Hana, gak sengaja jatoh, terus langsung di injek-injek sama, Cantika," jawab Yusi.
"Aduh, ngapain sih, Yusi harus cerita ke Hasan segala. Nanti kalo Hasan macem-macem gimana," ucap Hana dalam hatinya.
Hasan merasa berang mendengar penuturan Yusi. Ia mengepalkan telapak tangannya. Ingin sekali Hasan memukul Cantika hari itu juga. Sementara Damar hanya diam dan terus memperhatikan Hasan dan Hana bergantian.
Damar, kamu tumben diem aja!" tanya Hana.
__ADS_1
"Eh, aku lagi merhatiin kamu aja. Liatin senyum kamu, manis banget. Biarpun ada luka sedikit, tapi gak ngurangin manisnya, hehe," jawab Damar asal, padahal aslinya dia sedang memancing Hasan.
"Ih, apaan sih kamu," jawab Hana merasa tidak enak.
"Damar emang rajanya gombal," kata Yusi menimpali.
"Aahh gak juga, kalo sama kamu, aku gak pernah gombal, Yus," jawab Damar.
"Cie, cie," Hasan dan Hana terlihat kompak menyoraki Yusi.
"Yus, kamu gak cemburu kan kalo, Damar deket-deket sama aku!" tanya Hana tiba-tiba.
"Idih, ngapain mesti cemburu, Damar kan bukan pacar aku, Han!"
" Cie, kayaknya ngarep nih," sambung Hasan menimpali kalimat Yusi yang terlihat tidak jujur.
"Nunggu moment yang pas aja, buat nembak, Yusi," kata Damar diiringi tawa, dan semuanya ikut tertawa.
"Oh iya, Han, ini ada buket bunga. Aku lupa bilang, ini dari fans kamu, tadinya mau masuk, cuman aku larang. Ntar kalo mereka masuk takutnya, kamu gak nyaman," ucap Damar sambil menyerahkan buket bunga yang sedari tadi ia pegang tanpa dibahas.
"Makasih yah, tolong bilangin ke mereka," ucap Hana sambil menerima buket tersebut, dan menghirup aromanya.
"Noh, liatin, mereka berjajar ngliat kamu," ucap Damar sambil menunjuk ke arah jendela.
Di luar jendela sana, tampak tulisan get well soon my princes yang di tulis di buku gambar memanjang. Dan para fans Hana menyimbolkan tangan i love you.
Hana tersenyum bahagia melihat banyak orang yang peduli dan perhatian kepadanya. Hana merasa terharu, ia kemudian beranjak dari tempat tidurnya dengan di bantu Yusi.
Hana melambaikan tangan kepada para fans nya, semua Fans Hana juga merasa terharu karena mendapat respon baik dari idola mereka. Setelah itu, para Fans Hana memutuskan untuk pergi dari sana.
"Ya ampun, aku jadi ikut terharu," kata Yusi sambil menekan matanya yang mulai panas menahan air mata.
"Mereka perhatian banget sama kamu, Han," kata Damar.
"Iya, mereka baik banget, biarpun aku larang mereka buat gak deket-deket sama aku, gak bikin kehebohan, jangan selalu nongol di depan aku, mereka gak marah sama aku. Mereka masih tetep perhatian sama aku," ucap Hana tersenyum sambil mengusap air matanya.
Hana benar-benar merasa bahagia, tak henti-hentinya ia tersenyum, sampai-sampai, Hasan ikut tersenyum dan terus memandangi Hana dengan penuh perhatian.
Damar diam-diam memperhatikan ekspresi Hasan.
"Aku bakalan pantengin kamu terus, San," kata Damar dalam hatinya.
"Biarpun ada satu yang gak suka sama kamu, tapi ada seribu yang lebih sayang sama kamu, Han. Orang baik, dimanapun akan ketemu dengan orang baik pula. Meskipun ada yang jahatin, kamu percaya itu kan, Han?" tanya Hasan diselingi senyum.
"Iya, San, kamu bener," jawab Hana tersenyum juga.
__ADS_1
"Iya udah, kita pulang yuk! Aku udah bawain tas kalian juga," kata Damar.
"Makasih, Dam, kamu pengertian juga yah," ucap Hasan tersenyum ke arah Damar.