Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
Pesan Dari Nomor Baru


__ADS_3

Hasan dan Miki duduk di ruang tamu sambil memainkan hapenya masing-masing. Selang beberapa menit, Hasan mengajaknya mengobrol.


"Bang, kamu mau nerusin kuliah dimana?"


"Emmm, belum tau. Mungkin di sini, atau di luar negeri lagi," jawab Miki tanpa beralih dari kayar hapenya.


"Kamu udah ketemu sama Cantika, belom?"


Miki mengernyitkan kening mendengar pertanyaan Hasan.


"Cantika? Buat apa? Aku gak ada hubungan sama dia,"


"Kamu bilang dia cewek yang kamu taksir. Aku ajak ketemuan mau gak?"


"Nggak, nggak! Buat apa coba!" jawab Miki kesal.


"Iya buat melepas kangen lah. Dia kan cewek yang abang suka?"


"Sok tau kamu! Udahlah, aku mau pulang aja. Mobilnya mau di pake Mamah," ucap Miki seraya berdiri.


"Nanti ajalah, masih pagi ini. Kita kan jarang ngobrol berdua. Eh, aku mau ngajakin kamu muncak mau gak?" tanya Hasan sambil tersenyum.


"Muncak?" tanya Miki sambil duduk kembali.


"Iya, senin besok rencananya aku mau muncak sama Hana. Biar rame aja, abang ikut yuk!"


"Sama Hana juga? Wah, boleh tuh!" jawab Miki kegirangan.


"Seneng banget kamu denger nama Hana. Apa jangan-jangan ...."

__ADS_1


"Ah, biasa aja. Perasaan kamu kali. Hana kan sekarang udah jadi adik aku juga. Sebagai seorang kakak, aku juga mau nglindungin dia. Dia kan belum pernah muncak sebelumnya, takut kalo ada apa-apa, jadi aku mutusin buat ikut deh," jawab Miki seraya tersenyum.


Hasan menyunggingkan senyum mendengar jawaban Miki. "Aku suaminya, aku yang bakal nglindungin dia. Abang kayaknya suka ya sama istriku!"


"Ada-ada aja kalo ngomong. Tapi, kalo kamu gak keberatan, boleh juga!" ujar Miki memancing Hasan.


Hasan tersenyum sambil meremas sofa dengan sangat kuat. Ingin rasanya ia menghajar abangnya waktu itu juga. Tapi, ia masih bisa menahan amarahnya itu.


"Yah, kalo kamu suka sama istriku, berarti kamu harus berhadapan langsung denganku, Bang!" jawab Hasan.


"Aku bercanda koq," jawab Miki sambil tersenyum.


"Ya udah deh, aku pulang dulu yah. Gak enak lama-lama di rumah pengantin baru. Pengantin ceweknya gak di rumah lagi," ujar Miki lagi sambil berdiri mengambil kunci mobil.


"Udah bukan pengantin baru lagi kali. Ayo aku antar sampai depan. Salam buat mamah dan papah yah," ucap Hasan.


Hasan mengecek hapenya sambil masuk kembali ke dalam rumah. "Hana koq gak chat aku sih, apa belum kelar belanjanya,"


Hasan bergumam sendiri ia kemudian bersandar di badan mobilnya. Hendak menelpon Hana, tapi panggilan masuk dari Cantika mendahuluinya.


"Hallo, iya ada apa? Oh itu ... jadi dong, kamu tenang aja aku baru aja ngobrol sama Miki ... bisa, dia mau koq ... oke, sip ... udah dulu yah, aku mau pergi ... iya nanti aku kabarin lagi ... apa! Besok aja kalo kalian udah ketemu, nanti kalo aku kasih sekarang takut curiga ... sabar yah, oke ... bye Cantika," Hasan tersenyum sambil memandangi layar hapenya ketika sambungan teleponnya dengan Cantika terputus.


"Telpon Hana deh, siapa tau dia kerepotan belanjanya," ujar Hasan. Belum sempat menelpon, sebuah pesan dari nomor baru masuk membuatnya mengernyitkan kening. Ketika dengan tidak sengaja terbuka, Hasan membulatkan matanya melihat sebuah foto yang dikirim dari nomor tak dikenal itu.


"HANA!"


Hasan begitu geram, ia meremas hapenya dengan sangat kuat. Emosinya tiba-tiba memuncak. Tubuhnya memanas terbakar api cemburu. Dengan sigap, ia masuk mengambil kunci mobil lalu kembali lagi. Ia membuka pintu mobil dengan kasar kemudian melajukannya dengan cepat. Dia merasa selalu dikhianati oleh Hana. "Pantas saja tidak mau aku temani, jadi ini alasan kamu. Selain belanja, kamu juga kencan?" Hasan terus menggerutu sepanjang perjalanan. Kecepatan yang ia kemudikan tidak main-main hingga dapat omelan dari pengemudi yang lain karena menyalip seperti di arena balap.


Sementara itu Hana, Raja, dan Samuel, sudah selesai menonton. Hana menyuruh Raja untuk segera pulang karena ia sendiri mau belanja. Raja bersikukuh untuk menemani Hana, tapi Hana menolaknya. Sementara Samuel, ia lebih memilih untuk menurut. "Kayaknya kalian beneran pacaran ya," ujar Samuel sebelum pergi.

__ADS_1


"Nggak, kita cuman temenan koq," jawab Hana cepat.


"Iya, kita pacaran. Kamu jangan berani deketin dia," ujar Raja sambil melotot, membuat Samuel menyunggingkan senyum.


"Jangan dengerin dia, Sam. Kamu lebih baik pulang aja kalo gak ada urusan lain," ujar Hana. Samuel tersenyum kemudian meminta izin untuk pulang lebih dulu. Hana merasa lega, rupanya setelah amnesia, Samuel menjadi orang yang penurut. Hana kembali menatap Raja yang masih setia berdiri disampingnya dengan melipat tangan di dadanya.


"Udah sana pulang, aku mau belanja sendiri," ujar Hana sambil mendorong tubuh Raja. Namun, Raja tak bergeming. Ia masih berdiri kokoh di tempatnya.


Hana yang merasa frustasi kemudian meminta hape Raja. "Mana hape kamu!"


"Buat apa?"


"Mana sini!" Hana mengulurkan tangan tanpa menatap Raja. Raja mengerutkan kening, "buat apa dulu?"


"Aku mau hapus nomor aku dari ponsel kamu, kalo kamu gak nurut sama aku," ucap Hana dengan kesal. Ia sama sekali tidak memandang Raja, yang kini tengah tersenyum lalu mencolek dagunya. "Cie marah,"


"Apaan sih! denger ya Ja, aku tuh gak main-main. Kalo kamu gak mau nurut, buat apa kamu masih nyimpen nomor aku. Kamu lupa sama perjanjian kita dulu?"


Raja tersenyum melihat ekspresi Hana yang marah. Ia kemudian mencubit kedua pipi Hana dengan gemas. "Lucu ...."


Bug! Sebuah hantaman keras mendarat dengan apik tepat di hidung Raja hingga ia tersungkur membentur pembatas lantai dua. Hana terperanjat, membungkam mulutnya. Ia kaget saat mengetahui orang yang tiba-tiba datang adalah Hasan. "Jangan macem-macem kamu sama, Hana! Kamu tau, dia siapa?" Hasan mencengkeram jaket Raja dengan kuat. Hana menelan salivanya sendiri, takut jika Hasan berkata jujur dengan sikapnya yang sedang emosi. Raja menyunggingkan senyum dan menatap Hasan dengan darah segar yang keluar dari hidungnya. "Emangnya kamu siapa? Hanya bodyguard saja kan? Bukan pacar!" ucap Raja menatap sinis. Hasan memukul Raja kembali. Raja tersungkur ke lantai. Orang-orang disekitarnya memandang ke arah mereka. Hana kemudian mencoba menengahi agar perkelahian itu tak berlanjut.


"Udah-udah, San! Kamu salah paham aja. Raja, kamu pulang sekarang aja buruan," ujar Hana sambil menahan tubuh Hasan agar tidak memukul Raja lagi.


Raja berdiri dan membenarkan posisinya. Hana kemudian mengeluarkan tisu dari dalam tas dan memberikannya kepada Raja dengan cepat. "Nih, buat lap darah di hidung kamu. Cepatlah pulang!" ucap Hana.


Raja menerimanya dan tersenyum penuh kemenangan sambil mengangkat tisu yang diberikan Hana. Hasan kembali mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Hendak ingin memukul kembali jika Hana tidak menahannya.


"Hasan udah, Hasan! Aku bisa jelasin koq. Raja! Kamu mending pergi sekarang juga," Hana menatap sinis ke arah Raja. Tak mau menambah masalah lagi, Raja kemudian pergi dari tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2