Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
74. Merasa Bersalah


__ADS_3

Hasan kemudian duduk dan mulai makan bersama Hana.


"Jadi, kamu ...."


"Aku gak pernah samain kamu sama siapapun, San! Termasuk, Raja. Kamu adalah kamu, gak akan pernah jadi siapapun. Meskipun aku udah jadi istri kamu, tapi aku gak mau kalo kamu selalu nglarang aku untuk pergi sama siapa aja. Kalo kamu selalu larang, orang lain malah akan curiga, San! Kita bersikap normal aja lah. Raja, dia itu orang yang gak mudah menyerah. Aku hampir aja ketahuan ketika menghadapi dia. Dengan cara aku mau diajak pergi, itu sudah sedikit membantu masalah kita. Dia itu udah curiga sama kamu, San. Dia curiga kalo diantara kita ada hubungan,"


"Benar begitu?" tanya Hasan sambil menyuapkan makanan.


"Terserah kamu percaya apa nggak. Eh, aku mau tanya sesuatu sama kamu,"


"Soal apa?"


"Samuel!"


"Ada apa dengan dia? Kamu ketemu sama dia?"


"Malam itu, kamu apakan dia, San!"


"Kapan?"


"Waktu kamu pulang tengah malem itu, kamu kan dari basecamp Samuel. Kamu apakan dia? Kenapa dia bisa sampai amnesia!" ucap Hana dengan nada tinggi.


"Amnesia? Koq bisa?"


"Mana aku tau. Aku yang nanya itu ke kamu. Kenapa kamu malah nanya itu ke aku. Yang buat Samuel amnesia, kan kamu!"


"Bukan aku koq, pura-pura kali dia," jawab Hasan dengan enteng.


"Cih, kamu ini kenapa sih, harus selalu pake kekerasan. Gak bisa lembut dikit apa? Samuel juga manusia, San! Untung cuman amnesia aja. Kalo sampe mati gimana? Emangnya kamu mau dipenjara?"


"Andai aja kamu tau, Han! Yang mukul Samuel, bukan aku. Tapi, Raja! Raja yang patut disalahkan atas hal ini. Aku pikir, Samuel juga mati akibat pukulannya," ucap Hasan dalam hatinya.


Hasan membiarkan Hana yang tengah berapi-api itu. Ia lebih memilih fokus untuk makan saja.


"Koq kamu diem aja sih!" tanya Hana lagi kesal.


"Terus aku harus jawab apa,"


"Iiiihhh, ya ampun, Hasan!" seru Hana dengan berang.


Hana mengangkat kedua tangannya seperti mau meremas Hasan. Hasan hanya memandangnya sekilas.


"Kamu itu kenapa masih belain Samuel? Emangnya kamu gak inget perlakuan dia sama kamu dulu? Biarin aja lah dia amnesia. Bagus juga kan," ucap Hasan.

__ADS_1


"Dasar nyebelin! Percuma aku ngomong sama kamu, bikin kesel aja!" ucap Hana kemudian beranjak dari tempat duduknya dan menaruh piringnya ke wastafel.


"Cih, marah!" gumam Hasan.


Hana kemudian mulai mencuci piring dengan dongkol. Hasan berdiri dari tempat duduknya dan mulai menghampiri Hana, yang masih cemberut sambil mencuci piring.


Hasan kemudian memeluk Hana dari belakang, persis seperti Miki pada siang tadi.


Hana kaget dengan perlakuan Hasan. Ia membiarkan air mengucur dari kran membasahi tangannya.


Hasan menaruh kepalanya di pundak Hana.


Ia merasa nyaman memeluk Hana dari belakang seperti ini.


"Biarin aja Samuel amnesia. Itu balasan untuknya. Gak mungkin aku biarin orang lain nyakitin kamu, ataupun temen aku,"


"Tapi ...."


"Ssssttt! Udah jangan ngomong lagi. Aku gak mau debat masalah Samuel. Ada baiknya juga Samuel amnesia. Kita bisa merubahnya menjadi orang yang lebih baik lagi kan," jawab Hasan.


Hana terdiam sesaat. Yah, memang benar apa yang Hasan ucapkan. Kalimat itu juga pernah terlintas di dalam benaknya.


Hana kemudian mematikan air kran. Hasan masih menikmati pelukannya. Hana mencoba untuk melepaskannya, namun, pelukan Hasan malah semakin erat.


"Biarin aku seperti ini dulu. Hatiku sedang tidak baik-baik saja. Biarkan aku tertidur dipelukanmu," ucap Hasan sambil memejamkan matanya dan menghirup aroma harum lavender di tubuh Hana.


Hana terdiam mendengar kalimat Hasan. Apa artinya dengan hati Hasan yang tidak baik-baik saja? Apakah ada sesuatu yang Hasan sembunyikan darinya?


Hana dapat merasakan hembusan hangat dari hidung Hasan mengenai tengkuknya. Hana merasa nyaman namun juga merinding. Seperti ada aliran listrik yang menjalar di seluruh tubuhnya. Tubuhnya kini merasa sedikit panas.


"San, kalo mau tidur, tidur di kamar aja!" ucap Hana.


"Kenapa, Han? Apa aku tidak boleh melakukan ini, seperti Abang, kepadamu?" tanya Hasan dalam hatinya.


Hasan kemudian melepaskan pelukannya. Tanpa berkata apapun, Hasan kembali ke kamarnya untuk mengistirahatkan pikirannya.


Hana merasa heran dengan sikap Hasan. Ia tak mengerti. Hasan melepaskannya begitu saja dan berlalu tanpa memandang dirinya. Bahkan tak ada kalimat lagi yang keluar dari mulutnya.


Hasan kemudian memutar musik dari hapenya. Ia mendengarkan sebuah lagu mellow hingga ia tertidur.


***


Miki kini berada di rumah Rido. Dia sengaja membantu kepulangan Rido ke rumah.

__ADS_1


Malam ini, Miki menginap di rumah Rido. Miki membantu Rido untuk meminum obatnya.


"Setelah ini, kamu langsung tidur aja, Do!" perintah Miki sambil meletakan gelas.


"Belum ngantuk koq disuruh tidur. Lagian aku ini udah sembuh tau. Kenapa harus minum obat segala. Ngomong-ngomong, kamu gak akan kembali ke luar negeri lagi kan?" tanya Rido sambil memperhatikan raut wajah Miki, yang terlihat sedih.


"Aku gak tau, Do! Harapanku udah pupus!" jawab Miki sambil menunduk.


Rido kemudian duduk di tepi kasur, menjajari Miki yang tengah menunduk.


"Ada masalah apa? Cerita sama aku," tutur Rido sambil merangkul pundak Miki.


Miki yang masih terhanyut dengan perasaannya kembali menangis. Ia sudah menahan perih dengan air mata yang menggenang di pelupuknya, kini tumpah juga membasahi pipinya lagi.


Rido yang tidak mengerti langsung memeluk Miki, untuk menenangkannya.


"Cerita sama aku, ada apa? Aku akan bantuin kamu," ucap Rido lagi.


"Hana, Hana ternyata ...."


"Kamu udah ketemu sama dia?" tanya Rido sambil melepaskan pelukannya dan menatap wajah Miki lagi.


"Udah, Do," jawab Miki sambil mengusap air matanya.


"Terus! Harusnya kamu seneng dong! Bisa ketemu lagi sama dia, kamu kan udah nungguin dia selama ini, kamu jadi seniman muda yang sukses, karyamu banyak yang sudah terjual. Hana pasti bangga sama kamu," ucap Rido.


Miki tersenyum kecut mendengar penuturan Rido. Miki tidak banyak mengobrol dengan Hana. Ia belum sempat cerita banyak karena perasaan yang terlanjur lara.


"Kamu tau istri Leo?" tanya Miki kepada Rido.


"Aku belum pernah bertemu dengannya. Aku masih sibuk di bengkel. Kamu sudah bertemu dengannya?" tanya Rido penasaran.


"Yah, dia ... Dia, Hana, Do!" jawab Miki


"Apaaaaaaa!" jawab Rido benar-benar kaget.


Miki tersenyum dan mengangguk melihat ekspresi Rido yang tampak terlalu kaget.


"Kamu jangan bohong, Mik!"


"Aku gak akan menangis, kalo hal itu tidak terjadi, Do! Seandainya aku tau, kalo orang yang akan dijodohkan denganku waktu itu adalah Hana, aku pasti pulang dan menerima tradisi itu," jawab Miki tertunduk kembali.


Rido termangu. Ia merasa bersalah karena dulu pernah meledek Leo, pasal Hana, saat Leo sedang merombak motornya di bengkelnya.

__ADS_1


__ADS_2