
"Assalamu'alaikum," Hana mengucapkan salam dan langsung mencium tangan Mamahnya yang kebetulan sudah berdiri di depannya.
"Wa'alaikumsalam. Siapa cowok itu, Ceri!" tanya Mamahnya dengan sorot mata tajam.
Hana sudah menduga akan hal itu. Hana tersenyum. "Mah, Hana mau ...."
"Siapa cowok tadi! Kenapa bukan Leo yang anterin kamu kesini?" tanya Bu Darma mencerca anaknya.
"Aduh Mamah, nanya-nya berondongan! Biarin aku minum dulu, sama numpang sarapan yah, Mah! Laper banget ini, belom makan!" tutur Hana sambil mengusap perutnya yang melilit.
"Jawab Mamah dulu, kamu lagi ada masalah sama, Leo?" tanya Bu Darma dengan sedikit khawatir.
"Nggak koq, Mah. Mama udah rapi gitu mau ke kantor ya?"
"Ini anak ditanya ngeles mulu! Kamu ada masalah dengan, Leo?" tanya Bu Darma mengulang.
"Nggak, Mah. Hana justru kepikiran sama Hasan nih, dia lagi sakit!" jawab Hana dengan lesu.
"Ya ampun! Suami kamu sakit? Kamu malah enak-enakan pacaran sama cowo lain! Siapa cowok tadi, Cer? Dia pacar kamu!" seru Bu Darma dengan mata melotot.
"Mamah jangan salah paham, dia itu, Raja temen aku!"
"Temen deket kamu?"
"Bukan, Ceri baru kenal koq,"
Hana bergegas ke meja makan, dan mulai mengambil nasi dan lauk, lalu mulai sarapan yang tadi pagi sempat tertunda.
Mereka berdua melanjutkan obrolannya yang terputus sebentar.
"Ya Alloh, baru kenal terus kamu mau dianterin? Ceri, kamu itu jangan gampangan gitu donk!" ucap Bu Darma sambil berkacak pinggang.
"Aduh Mamah, please deh jangan ngomong yang nggak enak di denger. Ceri bukan cewek kayak gitu koq. Aku kenal dari kemaren sama Raja. Raja anak baik koq. Hasan juga kenal sama dia, Mamah tenang aja. Tadinya dia itu mau nganterin aku pulang. Intinya, Ceri gak bisa nolak, makanya Ceri pulang ke sini. Ntar kalo aku udah selesai makan, aku nebeng pulang yah, Mah!" terang Hana sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Kamu gak bisa nolak ajakan, Raja? Ya ampun, Ceri, awas yah kalo kamu macem-macem di belakang, Leo! ?Mama gak bakal maafin kamu," terang Bu Darma dengan serius.
"Mama tenang aja deh, gak usah mikir yang aneh-aneh ... Hana udah selesai makan, sekarang, ayo anterin aku, Mah. Kasian Mama Praja tadi mau ke kantor gak jadi, aku suruh nungguin Hasan, di rumah," ucap Hana sambil mengelap bibirnya dengan tisu.
"Ya udah ayo! Mama sekalian nengokin. Ceri! inget yah kata-kata Mama, kamu gak boleh macem-macem dibelakang, Leo. Pokoknya mama gak terima kalau kamu sampe menduakan Leo! Jarang, Ceri, cowok kaya, Leo! Leo itu termasuk manusia langka," ucap Bu Darma dengan tegas.
"Ya ampun, Mamah! Iya, iya, pokoknya mama tenang aja deh, oke!"
__ADS_1
Cup
Hana mencium pipi kanan Mamahnya agar tidak mendebatkan masalah Raja dan Leo lagi.
Mereka berdua segera berangkat menuju rumah Hasan.
Setelah setengah jam berlalu, Bu Darma dan Hana sampai di rumah Leo. Bu Darma masih cukup terkesima dengan pagar otomatis buatan Leo.
Ia tak habis pikir, bahwa menantunya itu benar-benar jenius.
"Wah, benar-benar mantu kesayangan Mamah, nih! Mama mau dibuatin pagar kaya gitu juga ah!" ucap Bu Darma sambil melepas sabuk pengaman, kemudian turun dari dalam mobil.
"Gak bisa mah, pagar ini cuman dibuat khusus di rumah Hana dan Hasan," ucap Hana sambil tersenyum meledek.
"Ah, nanti Mamah bakalan minta sama, Leo. Pasti, Leo mau buatkan untuk Mamah,"
"Sudah, jangan berisik, ada Mamah Praja! Gak enak kalo di dengar!" ucap Hana sambil menaruh jari telunjuknya di depan bibir.
Mereka berdua masuk dari pintu dapur. Hana mengucap salam. Ia meletakkan tasnya di atas sofa.
Bu Darma mencermati dan mengagumi desain interior rumah Leo.
"Minimalis tapi mewah. Kapan-kapan aku akan main ke sini lagi untuk melihat seluruh ruangan," ucap Bu Darma dalam hatinya.
"Oke," jawab Bu Darma kemdian duduk di sofa ruang tamu.
Mata Bu Darma terus meneliti. "Rumah ini sangat cocok untuk pasangan yang baru menikah, keren!" puji Bu Darma dalam hatinya.
Hana masuk ke dalam kamar Hasan, Hasan nampak terjaga sambil menyender. Ia melirik Hana sekilas. Rupanya, hatinya masih menyimpan sedikit kesal kepada Hana.
"Hasan, kamu udah bangun!" tanya Hana diiringi senyuman.
Hasan tidak menjawab pertanyaan dari Hana. Ia membuang muka.
"Mah, di luar ada Mamah Darma," kata Hana sambil mencium tangan Bu Praja.
"Oh, iya! Kamu pulang sama mamah kamu?"
"Iya, Mah!" jawab Hana diiringi senyuman.
"Oh ... Eh, tadi Mamah sudah hubungin kepala sekolah. Soal ulangannya Leo, besok bisa menyusul katanya. Tapi, dia ulangannya sendirian di ruangan kepsek katanya," ucap Bu Praja sambil berdiri dan membenarkan bajunya.
__ADS_1
"Iya, makasih ya, Mah!" jawab Hana singkat.
"Iya sama-sama, Mamah keluar dulu yah!" jawab Bu Praja diiringi senyuman.
Bu Praja kemudian keluar dari kamar Hasan. Ia menemui Bu Darma di ruang tamu.
"Bu Darma," sapa Bu Praja sambil berjalan.
Bu Darma berdiri dan menyambut salam hangat dari besannya sambil cipika cipiki.
"Bu Praja, maaf yah! Saya baru tau kalo, Leo sakit. Ceri baru bilang soalnya!" ucap Bu Darma.
"Gak papa, Bu! Sekarang Hasan juga sudah mendingan, cuman demam biasa koq," jawab Bu Praja.
"Alhamdulillah kalo sudah mendingan. Eh, Bu Praja mau ke kantor yah?" tanya Bu Darma sambil memperhatikan penampilan Bu Praja yang rapih.
"Iya, tadinya begitu. Tapi, saya ke sini dulu jagain Leo. Bu Darma juga mau ke kantor yah? Bajunya udah rapih begitu!" tanya Bu Praja sambil memperhatikan Bu Darma.
"Iya, Bu! Tadi suami saya nelpon, suruh nganter berkas ke kantor. Saya mau berangkat, eh Ceri datang, dan bilang kalo, Leo sakit. Jadi, saya anterin dia sekalian buat nengokin, Leo,"
"Kalo gitu, mari, Bu! Saya ada meeting juga ini. Udah saya undur dua jam,"
"Baiklah, Bu! Sekarang kan sudah ada Ceri. Kita pamitan dulu yah sama mereka!" ajak Bu Darma kemudian berdiri.
Bu Darma dan Bu Praja pergi ke kamar Hasan untuk berpamitan. Di sana, tampak Hana yang tengah membujuk Hasan untuk makan bubur.
"Ayo, San! Kamu harus makan yang banyak biar cepet sembuh," ucap Hana.
Ceklek
"Leo, Ceri! Mamah sama Bu Darma pamit mau ke kantor yah," ucap Bu Praja.
Bu Darma kemudian mendekati ranjang Hasan.
"Ya ampun, muka kamu koq lebam gitu! Demam kalo sampai lebam-lebam gini baiknya di bawa ke rumah sakit aja, Bu Praja!" ucap Bu Darma yang panik ketika melihat wajah Hasan yang babak belur.
"Ah, itu bukan apa-apa koq, Bu! Hanya masalah kecil saja. Mari, kita pergi sekarang," ajak Bu Praja sambil tersenyum.
"Jangan dianggap enteng loh, Bu! Bisa bahaya, takut ada penyakit dalam dan yang lainnya, Leo harus di lab," ucap Bu Darma dengan khawatir.
Leo merasa tidak enak, ia tersenyum kecut melihat ekspresi mertuanya yang khawatir dengan dirinya.
__ADS_1
Bu Praja kemudian menghampiri Bu Darma dan memegang lengannya. "Leo gak papa, Bu! Percaya sama saya, dia itu lelaki pasti ada saja kejadiannya!" ucap Bu Praja memberi pengertian.