Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
12. Pertolongan


__ADS_3

"Koq perasaanku gak enak yah! Mana ini baru khotbah," ucap Hasan dalam hatinya.


Dari belakang, Damar menepuk bahu Hasan yang tengah melamun di teras masjid.


"Woy, koq gak langsung masuk sih," ujar Damar.


"Dam, kamu punya nomernya Hana kan?" tanya Hasan gelisah.


"Punya lah, emangnya kenapa? Kamu mau minta ya?" tanya Damar sambil duduk di samping Hasan.


"Pinjem hape kamu dong," Hasan mengulurkan telapak tangannya.


"Buat apa–an!" tanya Damar tidak mengerti.


"Udah, gak usah banyak nanya, mana sini!" seru Hasan dengan wajah cemasnya.


Damar lalu merogoh sakunya dan memberikan hapenya kepada Hasan. Damar memperhatikan raut wajah Hasan yang nampak khawatir.


"Siapa nama kontak Hana, Dam," tanya Hasan sambil menyecroll kontak Damar.


"Ha–na–ku," ucap Damar terbata karena malu.


Hasan memandang Damar dengan tatapan aneh, Damar hanya meringis sambil berkata "belom sempet aku ganti namanya, San! Emang kenapa sih?" tanya Damar penasaran.


Hasan tidak menjawab pertanyaan Damar. Ia segera mengutak-atik hape Damar dengan wajah seriusnya.


"Hana bawa hape kan, Dam!"


"Kayaknya sih bawa, tapi gak tau juga,"


"Bismillah semoga dia bawa hape!" kata Hasan.


"Emangnya ada apa sih, San? Aku jadi panik nih! Liat kamu gelisah gitu. Kita mau sholat loh," ucap Damar masih memperhatikan Hasan.


"Dam, aku pinjem hape kamu bentar, dan aku harus cabut sekarang," Hasan menarik jaketnya dan memakainya.

__ADS_1


"Kemana, San! Woy!" Damar berseru membuat semua mata tertuju kepada Damar.


Damar tersenyum malu, kemudian mengangguk sambil meminta maaf dengan mengatupkan tangannya.


"Maaf, maaf," ucap Damar.


Hasan memakai helm, lalu menancap sepeda motornya dengan cepat. Setelah beberapa menit, ia berhenti sebentar dan menengok hasil lacakan nomor hape Hana.


Hasan langsung menancap gas dan pergi menuju titik keberadaan Hana. Sambil berkata dlm hatinya. "Semoga aku belom terlambat, ya Alloh, semoga tidak terjadi sesuatu dengan Hana,"


Sementara itu, Hana mencoba menahan tubuh Samuel untuk tidak mendekatinya.


"Sam, kita bisa bicara baik-baik. Bukan dengan cara seperti ini," ucap Hana.


"Kenapa? Kamu takut, Hana!" tanya Samuel sambil membelai rambut Hana.


Hana merinding ketika Samuel membelainya, tubuhnya bergetar, lututnya terasa lemas.


Teman-teman Samuel hanya melihat sambil tersenyum menyeringai, mereka sudah tidak sabar ingin menyantap makanan yang ada di depan mereka.


Semua teman-teman Samuel berseru tanda setuju. Samuel mulai menyentuh baju Hana, kedua tangan Hana dikunci. Samuel mulai membuka satu kancing baju yang dikenakan Hana.


"Aaaaaa! Please, Sam! Jangan lakuin ini, oke aku ngaku salah, emang salah, aku minta maaf. Tapi kamu jangan kayak gini, Sam! Aku mohon," Hana mulai menangis, ia benar-benar ketakutan.


Hana berharap Samuel mau memikirkan nasehatnya.


"Kenapa kamu, nangis? Aku mungkin gak bisa dapetin kamu secara baik-baik, tapi, aku bisa jamin, aku bisa menikmati kamu dengan cara lain," ucap Samuel menyeringai, ia memandang wajah Hana dengan beringas. Keringat yang membasahi tubuh Hana, membuat Samuel lebih bernafsu.


" Sammm! Kamu jangan macam-macam! Tolonggg!" Hana memekik, namun tak ada yang menolongnya.


Pada saat Samuel ingin mencium Hana, Hasan datang dengan sepeda motornya. Hasan menggeber-geberkan motornya dengan kencang. Samuel dan semua teman-temannya kaget, lalu melihat ke arah Hasan.


Dengan posisi masih mengendarai sepeda motornya yang ngebut, Hasan menendang satu per satu teman-teman Samuel hingga terjatuh. Tanpa mencopot helmya, Hasan turun dari motornya dan mulai menantang mereka.


"Dasar pengecut! Beraninya ngroyok cewek! Cewek kalo gak suka, jangan dipaksa bro!" teriak Hasan dari balik helmnya.

__ADS_1


"Sialan! Siapa kamu!" seru teman Samuel.


"Tunjukin wajah mu, dasar pahlawan kesiangan," teriak salah satu teman Sam.


"Satu lawan satu, atau kroyokan ... Bebas! Maju aja kalian semua," Hasan menantang Samuel dan teman-temannya.


Hana menangis dan bersimpuh. Dia tidak percaya dengan apa yang terjadi pada dirinya. Hana masih menangis tersedu. Ia membenarkan kancing bajunya yang sudah terbuka.


Samuel and genk mulai menyerang Hasan. Mereka beradu sengit, mengerahkan seluruh jurus yang mereka punya. Tapi, dengan mudah, Hasan melumpuhkan mereka ber empat. Hasan tidak terluka sama sekali, dengan sombong Hasan menantang Samuel cs.


"Cowok itu bisa beladiri, Sam! Sepertinya kita bakalan kalah. Liat, kita semua udah berkucuran darah kayak gini," bisik salah satu teman Sam, kepada Samuel.


"Mending kita cabut aja, Sam! Daripada kita habis sama dia," kata teman Sam lagi.


Samuel tidak terima, dia mulai menyerang Hasan lagi, tapi Hasan mengunci tangan–nya. Sehingga, Sam tidak bisa berkutik lagi.


"Kalo kalian pengin selamat, lebih baik kalian semua pergi dari sini. Dan buat kamu ...."


Hasan memotong kalimatnya, kemudian berbisik di telinga Samuel.


"Aku akan buat kamu, keluar dari sekolah! Aku jamin itu. Aku bakal buat kamu malu satu sekolah, sampe orangtua kamu sendiri juga akan merasakan dampaknya!"


Setelah berucap demikian, Hasan melepaskan Samuel. Samuel terbatuk-batuk karena sakit di dadanya, wajah lebam dan darah yang keluar di hidungnya, tak ia hiraukan.


Samuel dan teman-temannya lalu pergi dari tmpat itu segera mungkin.


Hasan membenarkan jaketnya, lalu mendekati Hana yang masih syok.


"Jangan deketin aku," teriak Hana mencegah Hasan.


"Jangan takut, Han! Aku gak bakal nyakitin kamu," ucap Hasan kemudian mencopot helemnya.


Hana memandang Hasan dengan perasaan syok, sedih, dan juga senang. Berkat Hasan, ia masih bisa menjaga kehormatannya sampai sekarang.


"Hasaann!" seru Hana kemudian tangisnya pecah kembali.

__ADS_1


"Kamu gak papa kan? Mereka gak ngapa-ngapain kamu, kan Hana!" tanya Hasan sambil berjongkok di depan Hana.


__ADS_2