
Raja kembali melihat Samuel dengan tatapan tidak sukanya. Sorot matanya begitu tajam seperti serigala yang kelaparan.
"Aku peringatin sama kamu, jangan dekati Hana mulai sekarang kalau kamu masih mau hidup," tutur Raja dengan amarahnya.
"Ja, ini semua gak seperti yang kamu lihat kok. Kamu salah paham. Samuel gak ngapa-ngapain aku," jawab Hana.
"Terus ngapain kalian berhenti di pinggir jalan? Udah gitu aku lihat tangan Samuel tadi memegang pundak kamu," ucap Raja yang kini berganti menggandeng tangan Hana.
"Itu tadi aku sedikit pusing jadi, Samuel menepikan mobilnya." Jawab Hana.
Samuel tersenyum dan membenarkan posisinya. Ia juga mengelap darah yang keluar dari sudut bibir.
"Sam, maafin Raja ya. Dia tadi gak sengaja nglakuin itu sama kamu," ucap Hana hendak berjalan menghampiri Samuel. Namun, Raja mencegahnya.
"Iya gak papa. Ngomong-ngomong, kenapa kamu bisa ada di sini, Ja? Kamu ngikutin kami?" tanya Samuel dengan ekspresi penasarannya.
"Oh, itu karena aku emang mau ke rumah kamu." Jawab Raja datar.
"Ke rumah aku? Ngapain?" tanya Samuel sambil mengernyitkan kening.
"Ya main aja lah. Aku pikir, aku mau berteman sama kamu kayak dulu lagi. Maaf ya, tadi aku udah kasar sama kamu," Raja mengulurkan tangan.
Hana dan Samuel saling bertatap mata sesaat. Dengan ragu, Samuel menjabat telapak tangan Raja. Hana tersenyum melihat pemandangan itu.
"Aku gak boleh gegabah. Semoga aja Samuel gak curiga dengan sikap aku barusan," batin Raja seraya tersenyum ke arah Samuel.
"Apa dulu kita berteman dekat?" tanya Samuel.
"Iya, dekat sekali. Kalau aku setiap hari main ke rumahmu boleh kan?" tanya Raja sambil melipat tangan di dada.
"Bo bo boleh sih, tapi ...."
"Kalau begitu kita pergi sekarang. Aku sudah lama tidak pergi ke rumahmu. Apakah rumahmu ada yang berubah?" tanya Raja seraya merangkul pundak Samuel.
Samuel menjadi kikuk dan salah tingkah. Ia hanya tersenyum dan mengangguk saja mendengar kalimat Raja.
"Ya udah kalau gitu kita berangkat sekarang. Eh ngomong-ngomong, kamu ada obat di mobil gak? Obatin dulu luka kamu. Nanti Mamamu khawatir," ucap Hana mendekati Samuel.
"Ada. Kamu mau obatin aku?" tanya Samuel.
"Boleh," jawab Hana seraya tersenyum.
Samuel sudah merasa senang sekali sebelum akhirnya dipupuskan oleh Raja. "Biar aku aja yang bantu obatin. Aku dulu juga suka bantuin kamu kalau kamu babak belur loh, Sam!" Tutur Raja seraya menggandeng tangan Samuel menuju mobil.
"Ta ta tapi, tapi Hana yang mau ...."
__ADS_1
"Udah aku aja. Aku juga bisa kok," Raja terus mendorong tubuh Samuel agar masuk ke dalam mobil dan mengobatinya.
Hana hanya bisa menghela nafas tidak paham dengan sikap Raja. Hana kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang. Ia melihat Raja yang dengan kasar mengobati Samuel.
"Nah udah selesai dong. Bentar lagi lukamu pasti cepet sembuh." Ucap Raja seraya menaruh kembali salepnya.
"Sialan. Aku tau kamu lagi pura-pura baik sama aku kan, Ja?" batin Samuel dalam hatinya.
Raja beralih menatap Hana yang tengah memperhatikan mereka berdua. "Han, kamu sama aku aja ya."
"Sama kamu? Apanya?" tanya Hana tidak mengerti. Demikian juga dengan Samuel.
"Ke rumah Sam nya. Kamu sama aku naik motor. Biarin Samuel sendiri. Gak papa kan, Sam? Eh ngapain juga aku nanya kamu. Kamu kan bukan pacarnya Hana. Ayo Han, sama aku aja," ucap Raja dengan senyuman.
"Maaf, Ja. Hana tetep sama aku. Soalnya aku yang udah bawa dia dari sekolah. Lagipula, aku juga udah ijin sama pacarnya," ucap Samuel yang tidak mau Hana pergi dengan Raja.
"Oh iya, tapi sepertinya Hana maunya pergi sama aku deh. Iya gak, Han?" tanya Raja sambil mempermainkan alisnya naik turun.
Samuel memandang Hana dengan tatapan memelas. Hana merasa tidak enak jika harus menolak Samuel sebab memang dia yang dari awal sudah bersamanya.
"Aku, aku kayaknya sama Samuel aja deh, Ja." Jawab Hana sambil menggaruk kepalanya.
"Hehehe, kamu yakin?" tanya Raja seraya tertawa.
Samuel merasa sangat puas dengan jawaban Hana. Hatinya benar-benar berbunga. Sedangkan Raja menahan rasa kesal yang menggumpal.
"Yes! Hana pilih aku juga. Ternyata rasanya sebahagia ini saat kamu pilih aku ketimbang Raja." Batin Samuel dengan penuh kemenangan.
"Hana, kamu serius mau pergi sama Samuel? Gak sama aku aja? Aman loh sama aku," ucap Raja.
"Eh, kamu pikir kalau Hana sama aku, nyawanya bakal terancam?" tanya Samuel kesal.
"Hehehe," Raja hanya tertawa mendengar pertanyaan Samuel.
"Udah udah gak usah ribut. Aku tetep sama Samuel, Ja. Kamu motoran sendiri aja. Lagian aku juga trauma diboncengin sama kamu. Kamu ngebutnya minta ampun. Yang ada aku bisa jantungan kalau boncengan sama kamu," tutur Hana membuang muka.
"Oh gitu. Ya sudah. Hati-hati ya, aku ikutin kalian dari belakang," ucap Raja menahan senyum. Kemudian keluar dan menutup pintu dengan keras.
"Astaghfirulloh! Kenapa si tuh anak!" gumam Hana seraya mengelus dada.
Samuel menyunggingkan senyum melihat sikap Raja. "Gak nyangka kalau kamu ternyata suka juga sama Hana. Kita liat aja siapa yang bakal selangkah lebih maju dari kamu," batin Samuel.
"Han, kamu pindah depan dong. Aku kan bukan sopir kamu," tutur Samuel.
"Iya," jawab Hana tersenyum. Kemudian berpindah tempat.
__ADS_1
Mobil kembali melaju dengan tenang. Raja merasa sangat kesal karena Hana lebih memilih Samuel ketimbang dirinya.
~~
Miki kaget bukan main, sebab saat dirinya sudah berganti piyama ingin tidur, pintu apartemennya di ketuk dengan keras. Miki melihat dari layar. Ia cukup kaget sebab Mona sudah berdiri dengan koper di sebelahnya.
"Mona?!"
"Hehehe! Selamat malam tuan," sapa Mona seraya tertawa.
"Kenapa kamu datang lagi? Ini jam berapa? Kamu harusnya datang besok pagi," ucap Miki menatap heran.
"Hehehe, maaf tuan, sepertinya lebih cepat lebih baik. Bolehkah saya langsung menginap di sini?" tanya Mona dengan penuh harap.
Miki terdiam dan nampak berpikir.
"Baiklah. Silahkan masuk. Kamarmu ada di sebelah. Jangan berisik. Aku sangat ngantuk dan mau tidur," ucap Miki kemudian berlalu.
Mona bersorak kegirangan. Ia dengan cepat segera masuk dan menutup pintu kembali.
Sebelum Miki menghilang dibalik pintu, Mona mencegahnya lagi. "Tuan, tuan, tunggu sebentar,"
Miki berhenti dan memutar badan, "ada apa lagi?"
"Em, maaf tuan, saya belum makan. Bisakah saya makan makananmu?" tanya Mona ragu dan menunduk.
Mendengar kalimat Mona, Miki tersenyum sekilas. "Kamu belum makan?"
Mona menggelengkan kepala.
"Baiklah, kamu boleh habiskan semuanya,"
"Benar tuan?" tanya Mona dengan mata berbinar.
"Hem. Kamu sudah bekerja denganku. Kamu boleh makan makananku juga. Baiklah aku akan segera tidur. Ingat pesanku. Jangan membuat berisik di malam hari."
"Baik tuan. Terimakasih, terimakasih," ucap Mona memberi hormat beberapa kali.
Miki berbalik dan melangkah ke kamarnya.
Mona merasa sangat beruntung karena bisa bertemu dengan Miki. Selain kaya, Miki juga orang yang baik menurutnya.
Yang pertama kali Mona lakukan adalah makan. Perutnya sudah tidak bisa ia ajak kompromi lagi. Melihat sisa makanan yang masih banyak, nafsu Mona bangkit. Ia segera mengambil piring dan nasi sebanyak mungkin.
Mona makan dengan begitu lahap seperti orang kelaparan. Yah tentunya karena dia memang kelaparan.
__ADS_1