
Hasan segera membayar pesanannya. Ia menggandeng tangan Hana dan langsung keluar dari cafe tersebut. Raja berusaha mengejar mereka, namun, mobil yang dikemudikan Hasan berlalu begitu cepat.
"Sial! Ada apa sih dengan mereka! Apa Hasan itu pacarnya? Kenapa, Hana mesti takut sama Hasan. Hana lebih menurut dengan Hasan. Sedangkan aku, aku harus menurut dengan Hana," ucap Raja merasa berang.
Hana menelan ludahnya sendiri ketika melihat Hasan dengan wajah garangnya. Ia tak berani bertanya lagi. Hana mengedarkan pandangan ke luar jendela mobil.
"Ternyata, hubungan kamu sama Raja, lumayan dekat yah! Aku heran, kenapa Raja bisa nurut sama kamu," tutur Hasan sambil fokus menyetir.
Hana menelan ludahnya kembali. Tanpa memandang Hasan, Hana menjawabnya.
"Em, aku gak tau. Mungkin karena kata-kata aku terlalu nyaman untuk dia dengarkan," jawab Hana asal.
Hasan melirik Hana penuh selidik ketika mendengar jawaban yang Hana lontarkan.
"Nyaman? Apa maksudnya?" tanya Hasan.
"Yah, mungkin karena Raja, dia tipe orang yang nurut mungkin," jawab Hana sambil tersenyum.
"Nurutnya sama kamu aja maksudnya? Apa kalian berdua pacaran di belakang aku?" tanya Hasan geram.
"Nggak nggak, kamu jangan berpikir yang aneh-aneh dong. Mana mungkin aku berani pacaran sama orang lain. Aku kan udah jadi istri kamu," jawab Hana gemetar.
"Siapa tau kamu berkhianat di belakang aku!"
"Nggak, San! Aku gak berani nglakuin hal itu. Biarpun diantara kita belum ada cinta, tapi aku tetap berusaha setia dan menjaga ikatan suci pernikahan kita, San! Rumah Damar, udah keliatan tuh. Baiknya, kita jangan bahas masalah ini lagi yah. Kita bersikap seperti biasanya aja,"
Hasan tidak menjawab kalimat Hana. Ia masih sedikit kesal dengan kejadian tadi.
Mobil telah memasuki halaman rumah Damar. Kebetulan sekali, Yusi juga berada di sana tengah mengobrol dengan Damar, di teras rumah.
"Siapa tuh! Tamu bokap kamu kali ya?" tanya Yusi.
"Nggak tau," jawab Damar bingung.
Begitu Hasan dan Hana keluar dari mobil, mereka berdua terkejut melihat yang keluar adalah temannya sendiri.
Hasan dan Hana tersenyum ke arah Damar dan Yusi.
"Hay," sapa Hana sambil mengangkat tangannya.
"Ya ampun! Hana, Hasan! Aku pikir kalian tadi siapa!" ucap Yusi kemudian menghambur ke arah Hana dan memeluknya dengan erat.
Hana tersenyum senang melihat sahabatnya itu. Hasan menghampiri Damar, dan duduk di sebelahnya.
"Gimana keadaan kamu, Dam? Udah enakan kan?" tanya Hasan diiringi senyuman.
__ADS_1
"Alhamdulillah, udah bisa jalan gak pake tongkat lagi, San! By the way, kalian kesini koq gak bilang-bilang sih," tanya Damar tersenyum senang.
Hana dan Yusi ikut bergabung dengan Hasan dan Damar. Mereka bercengkerama di teras sambil memandangi langit yang cerah penuh bintang.
"Kaki kamu udah gak sakit kan, Dam?" tanya Hana sambil mengusap kaki Damar.
"Udah nggak, Han!" jawab Damar.
Hasan melotot ke arah Hana, Hana memandang tak mengerti dengan tatapan Hasan kepadanya.
Hasan kemudian melepaskan tangan Hana dari kaki Damar. Hana baru tau maksud Hasan itu apa. Hana menghela nafas dan berkata dalam hatinya. "Kenapa sih anak satu ini, posesif banget sekarang sama aku. Apa dia cemburu?"
"Oh iya, aku buatkan minum dulu ya buat kalian," tawar Yusi.
"Gak usah repot-repot, Yus!" ucap Hana.
"Gak koq, kebetulan aku di sini emang nemenin Damar. Orang tua Damar, lagi pergi keluar kota. Tunggu, aku buatkan sebentar yah," ucap Yusi kepada Hana.
Yusi masuk ke dalam rumah untuk membuat minuman.
"Kayaknya, Yusi udah akrab banget sama kamu dan orang tua kamu ya, Dam!" tanya Hasan.
"Yah, semenjak kecelakaan itu, orang tua aku suka sama, Yusi. Mereka pengin, Yusi di sini terus buat nemenin aku," tutur Damar.
"Oh gitu. Eh, aku sama Hana, mau muncak minggu depan, kamu udah bisa ikut belum sama, Yusi?" tanya Hasan.
"Kalo menurut aku, kamu gak usah ikut deh, Dam! Di rumah aja, sembuhin dulu kaki kamu. Jalur muncak kan gak mudah. Aku takut kamu kenapa-napa lagi," sambung Hana.
"Iya, Han. Orang tua aku juga pastinya gak ngijinin," jawab Damar.
***
Setelah pulang dari rumah Damar, Hasan berencana untuk menemui Rido di rumahnya. Namun, posisi Hana yang belum tidur, membuat Hasan sedikit kesusahan untuk keluar. Baru saja keluar dengan menenteng helm, Hana memergokinya.
"Mau kemana kamu, udah malem begini?" tanya Hana dari arah ruang keluarga.
Hasan menghentikan langkahnya. Ia berbalik memandang Hana yang kini tengah memandangnya sambil melipat tangan dan ekspresi menyelidik.
"Eh, kamu belum tidur yah," ucap Hasan seraya tersenyum.
Hana berjalan mendekati Hasan, yang berdiri diambang pintu dapur.
"Kamu mau balapan sama, Raja?" tanya Hana.
"Enggak, aku mau keluar sebentar,"
__ADS_1
"Ngapain malem-malem begini keluar? Ino udah jam sebelas malem, San! Pasti kamu mau balapan sama Raja, kan? Gara-gara kejadian di cafe tadi," ujar Hana menyelidik.
"Nggak, aku mau ke rumah, mau ketemu Abang. Kamu mau ikut? Ayo kalo mau ikut," tutur Hasan.
Mendengar nama Miki, Hana melunak.
"Ouh. Beneran mau pulang ke rumah buat ketemu, Kakak?" tanya Hana memastikan.
"Iya bener lah, ayo ikut aja kalo gak percaya," ucap Hasan.
"Nggak, aku tunggu di rumah aja. Tapi, kamu nginep apa pulang?"
"Kenapa? Kamu gak pengin aku tinggal lama-lama ya?" goda Hasan tersenyum sambil menowel dagu Hana.
"Kepedean. Maksud aku, kalo kamu nginep, pintunya mau aku kunci semua,"
"Gak perlu kamu kunci juga gak papa koq, gerbangnya kan udah aku benerin. Kamu gak usah takut. Ya udah, aku pergi dulu yah. Pintunya gak usah di kunci. Aku belum tau, mau nginep atau pulang. Kamu buruan tidur sana. Jangan pergi lagi, nanti banyak hantu," ujar Hasan.
"Orang mau pergi tuh gak usah nakut-nakutin dong!" jawab Hana manyun.
Hasan tersenyum kemudian membuka pintu dan pergi dari rumah. Hana mendengus kesal. Ia tak biasa di rumah sendirian. Hana tidak bisa tidur.
Hana kembali ke kamarnya karena mendengar hapenya berdering.
"Nomor baru? Siapa lagi nih!" gumam Hana.
"Hallo," jawab Hana.
"Hay! Belum tidur?" tanya seseorang dari seberang sana.
Hana terdiam sejenak. Ia seperti mengenal suara dalam telepon tersebut.
"I-ini siapa?" tanya Hana ragu.
"Cih, kamu sudah lupa dengan suaraku, Han?" tanya seseorang dalam telepon.
"Aku ada di depan rumah. Boleh buka pagar buat aku?"
"Hah! Kakak di depan?" tanya Hana kaget.
Hana bergegas keluar dari kamarnya dan berlari keluar.
"Buka pagar," ucap Hana dengan gugup.
Begitu pagar di buka, Miki sudah berdiri sambil bersandar di tembok dengan ekspresi senyuman yang sama ketika Hana pertama kali bertemu Miki, kala itu.
__ADS_1
Hana tersenyum memandang wajah teduh nan tampan itu. Senyumannya masih sama tak pernah berubah. Miki melambaikan tangan kepada Hana.
"Aku boleh masuk?"