Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
Tidak Menolak


__ADS_3

Hana sudah selesai melaksanakan piketnya. Hari pertama sekolah setelah libur panjang dengan agenda yang cukup membosankan untuknya.


Yusi dan Damar masuk ke dalam kelas. Melihat Hana yang sudah lebih dulu datang, Yusi segera menghambur dan memeluk Hana dengan perasaan bahagia. "Hanaaaa!"


"Yusi, aduhhhhh rasanya kok kaya bertahun-tahun gak ketemu kamu, yah?" ucap Hana sambil melepaskan pelukan sahabatnya itu.


"Iya, kamu juga gak pernah chat aku. Liburan kemana aja? Enak gak mendakinya?" tanya Yusi melepaskan tas gendongnya. Sementara Damar masih berdiri memandangi Yusi dan Hana bergantian.


"Yaaaa gitu deh. Eh, Damar! Kaki kamu udah sembuh belom?" Hana berdiri dan melongok kaki Damar yang terhalang meja.


"Alhamdulillah udah kembali normal. Berkat Yusi, dia telaten banget ngurusin aku saat libur sekolah," terang Damar seraya tersenyum.


"Eh cieee, beneran Yus?" tanya Hana sambil melihat Yusi yang kini tengah tersenyum malu-malu.


Yusi hanya menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Hana.


Hana memperhatikan Damar dan Yusi bergantian. Melihat ekspresi kedua sahabatnya, Hana berasumsi jika diantara mereka sudah terjadi sesuatu yang ia lewatkan. "Kalian beruda kok bahagia banget sih? Ada sesuatu yang kalian sembunyiin? Kasih tau aku dong," ujar Hana.


"Tanya aja sama Yusi," jawab Damar sambil melihat ke arah Yusi yang terlihat malu.

__ADS_1


"Eghm, kayaknya aku udah tau deh apa yang terjadi sama kalian berdua. Kalian pacaran ya?" tanya Hana menebak.


Damar dan Yusi tidak menjawab, mereka hanya melempar senyum.


"Ahhh keliatan dari wajah kalian. Jadi bener nih, udah resmi pacaran. Aku do'ain semoga langgeng deh yah," ujar Hana sambil menarik tangan Yusi dan Damar.


"Makasih, Han. Oh iya, ngomong-ngomong si Hasan belum berangkat ya?" tanya Damar sambil celingukan.


"Em, tadi aku liat dia ada di perpus," jawab Hana.


"Oh, tambah rajin aja dia," ucap Damar lalu pergi menuju tempat duduknya.


"Kamu lebih baik belajar mengelola bisnis Papah aja, Sam." Bagaskara berkata sambil menikmati teh hangatnya di balkon.


"Sam, perlu ijasah, Pah. Mana bisa aku bekerja tanpa ...."


"Kenapa harus memikirkan ijasah. Itu tidak penting untuk pewaris tunggal sepertimu. Lagi pula, kamu akan Papah jodohkan dengan seseorang," ucap Bagaskara seketika membuat Samuel yang tengah belajar daring kaget. "Apaaaa! Dijodohkan? Dengan siapa, Pah?"


"Ada lah, dengan anak teman rekan bisnis baru Papah."

__ADS_1


"Samuel gak mau, Pah. Samuel punya pilihan sendiri," tegas Samuel kemudian menutup laptopnya.


"Ah, kamu jangan buru-buru menolak. Kalo kamu liat langsung, kamu pasti jatuh cinta padanya. Wanita yang akan Papah jodohkan sama kamu, dia sangat cantik," tutur Bagaskara dengan tenang.


"Banyak wanita cantik di luaran sana. Samuel bisa memilih diantara mereka jika Samuel mau. Tapi, Samuel butuh wanita yang benar-benar tulus mencintai Sam, tanpa memandang Sam, dari segi ...."


"Tolong ambilkan handphone Papah," Bagaskara memotong kalimat Samuel.


Dengan kesal, Samuel mengambilkan hape Papahnya yang tergeletak persis di samping laptop miliknya.


"Tunggu sebentar. Setelah kamu lihat foto yang akan Papah tunjukan, kamu boleh memutuskannya. Menolak, atau menerima."


Bagaskara mencari sebuah foto yang sudah ia dapatkan secara diam-diam, dan menyimpannya di galery. "Ini coba lihat dulu gadis yang tengah tersenyum manis ini," tutur Bagaskara seraya menyodorkan hape miliknya kepada Samuel.


Dengan wajah cemberutnya, Samuel mengambil hape dari tangan Papahnya. Dia tidak akan mau dijodohkan karena sudah mempunyai tambatan hati. Akan tetapi, begitu melihat foto yang berada dalam galery Papahnya, seketika mata Samuel berbinar. Bak menemukan harta karun yang selama ini ia cari.


"Bagaimana, kamu tertarik? Mau menolak atau ...."


"Samuel terima, Pah!" Jawab Samuel tanpa berpaling dari poto tersebut. Senyumannya mengembang begitu saja.

__ADS_1


"Sudah Papah duga, kamu tidak akan menolak pesonanya," ucap Bagaskara dengan senyuman menyeringai.


__ADS_2