Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
38. Damar Siuman


__ADS_3

Kebetulan hari Minggu. Hana dan Hasan sengaja menginap di rumah sakit untuk menunggui Damar. Sementara orangtua Damar pulang untuk mengambil baju ganti. Dan tentu saja karena Damar mempunyai adik yang masih kecil. Sedangkan Yusi pulang ke rumah karena terlihat sangat lelah dan syok dengan keadaan Damar.


Hana tertidur di sofa, sementara Hasan masih menunggu Damar di sampingnya. Hasan masih berpikir, kira-kira siapa yang memukuli Damar hingga koma.


Hasan menggenggam tangan Damar dengan erat, matanya terus memandang wajah Damar yang dipasang oksigen. "Dam! cepat lah bangun," ucap Hasan dalam hatinya.


Setalah beberapa menit menunggu, Damar menggerakan tangannya, matanya terbuka secara perlahan. Damar mengedipkan matanya karena silau terkena pantulan cahaya lampu di atas ranjangnya.


"Damar! Kamu sadar juga," ucap Hasan dengan sumringah.


Damar melihat ke arah Hasan dengan gerakan pelan. Ia tersenyum memandangi wajah sahabatnya yang risau tersebut.


"Ha-Hasan, ka-ka-kamu, kamu di sini?" tanya Damar terbata-bata.


"Iya, Dam! Syukurlah, kamu sudah sadar, aku khawatir banget sama kamu, bahkan yang lain juga khawatir,"


Damar tersenyum dan memandang ke arah Hana yang tengah tertidur di sofa.


"Ma-makasih, San! Kamu udah nungguin aku,"


"Iya, apa yang kamu rasakan sekarang, Dam? Aku panggilkan dokter yah," tanya Hasan antusias.


Hasan lalu memencet tombol di atas Damar untuk memanggil dokter. Tak berapa lama, dokter pun datang dan memeriksa kondisi Damar.


"Gimana, Dok?" tanya Hasan cemas.


"Alhamdulillah, kondisinya sudah lumayan baik, tidak ada luka dalam yang serius, cuman dia masih harus di rawat karena lukanya yang masih parah, dan kakinya yang di gips. Untuk kondisi mentalnya, dia juga sudah lumayan bagus, " ucap dokter sambil melihat ke arah Damar yang terus tersenyum.


"Alhamdulillah, terimakasih, Dok," jawab Hasan.


"Jangan lupa nanti sarapan yah, nak Damar, suster akan bawakan sarapan buat kamu. setelah itu langsung di minum obatnya yah, saya yakin, Nak Damar, akan segera pulih, dia punya semangat tinggi untuk sembuh, nyatanya baru semalam saja koma, dia sudah terlihat membaik secara mentalnya," terang Dokter kembali.


Damar tersenyum, Hasan pun ikut tersenyum mendengar penuturan Dokter.


"Makasih, dokter," ucap Damar.

__ADS_1


"Kalo begitu, saya permisi dulu yah," ucap Dokter diiirngi senyuman, kemudian pergi dari sana.


"Aku tau pasti karena ada, Hana, kamu berangsur sembuh, iya kan?" tanya Hasan sedikit menyunggingkan senyumannya.


"Kalo iya emangnya kenapa? Kamu cemburu? Lagian, gak ada sangkut pautnya kali. Tapi, Hana itu bagi aku, ibarat cahaya dalam kegelapan, San!" tutur Damar sambil membayangkan sesuatu.


"Iya, terserah kamu aja deh. Aku pengin nanya sesuatu sama kamu, Dam,"


"Nanya a-pa!"


"Kamu tau, siapa orang-orang yang udah mukulin kamu?"


"Aku gak tau, San! Gak ada yang kenal, mereka menggunakan helm tertutup semua. Tapi, tapi kayaknya, mereka salah sasaran," ungkap Damar dengan nada pelan.


"Salah sasaran? Maksud kamu?" tanya Hasan sedikit kaget.


"Aku pikir, mereka ngira aku itu kamu,"


"Hah! Kenapa kamu bisa ngomong gitu? Coba ceritain detailnya," ucap Hasan penasaran.


"Sebelum aku pingsan, yang nonjok aku terakhir, dia berbisik di telinga aku. Kalo gak salah denger, dia bilang katanya jangan sok jadi pahlawan. Dari suaranya, sepertinya dia itu, Samuel!" ucap Damar.


"Kamu tenang aja, Dam! Aku bakal cari tau mereka semua yang udah bikin kamu babak belur kaya gini," ucap Hasan mengusap pundak Damar, dengan pandangan tajam.


"Dia juga bilang, katanya, bakal bikin aku dikeluarin dari sekolah juga! Apa kamu yang sudah bikin, Samuel dikeluarin dari sekolah, San!" tanya Damar antusias.


Hasan terdiam sejenak. Ia kemudian menoleh ke arah Hana yang masih tertidur pulas. Damar memperhatikan sikap Hasan yang tampak khawatir dengan Hana.


"Kamu kenapa, San? Kamu beneran suka sama Hana, kan?" tanya Damar.


"Ngaco kamu, Dam!"


"Aku nanya serius, San! Kalo kamu emang suka sama, Hana, aku percaya kalo kamu yang udah bikin Samuel, keluar dari sekolah,"


Hasan tidak menjawab pertanyaan Damar, dia lebih memikirkan cara untuk membalas dendam untuk Damar, ketimbang dengan perasaannya sendiri. Hasan merasa bersalah karena Damar babak belur juga gara-gara dirinya.

__ADS_1


"Gak usah bahas perasaan aku, yang terpenting sekarang itu kamu, Dam! Kamu kayak gini kan gara-gara aku juga. Aku pasti bakal bales mereka, Dam!"


"Kamu mau lawan mereka? Yang benar aja, San! Mereka semua ada lima orang, kamu jangan konyol, bisa abis dikeroyok kamu!" ucap Damar sambil melotot, oksigen yang menutup mulut dan hidungnya sampai ia lepas.


"Kamu tenang aja gak usah khawatir. Tapi tunggu, Dam, kamu bilang, mereka berlima? Berarti ada satu orang yang belum aku tau siapa dia," ucap Hasan sambil mengelus dagunya sendiri.


"Iya San, tapi anehnya, salah satu diantara mereka cuman berdiri aja ngliatin aku yang lagi dipukulin. Aku gak tau, apakah dia dalangnya, atau si Samuel dalangnya. Atau, orang itu gak mau ikut campur," ungkap Damar sambil mengingatnya.


"Dam, kamu fokus aja sama kesembuhan kamu, masalah ini biar aku yang beresin. Kita masih sama-sama pelajar yang harus nerusin study kita. Untuk itu, masalah ini gak perlu di bawa ke jalur hukum. Biar aku aja yang nyelesai-in. Aku minta maaf ya, Dam! Ini semua gara-gara aku," ucap Hasan menatap lekat mata Damar dan mengelus pundak Damar.


"Kamu gak usah ngrasa bersalah gitu, San! Emang dasarnya aku lagi apes. Tapi, aku gak nyaranin kamu buat cari mereka sendirian, San! Bahaya!" ucap Damar.


"Ini semua pasti udah di rencanain sama mereka, Dam! Aku yakin itu," tutur Hasan penuh keyakinan.


Obrolan mereka terhenti ketika suster mengetuk pintu dan masuk sambil membawa sarapan. Mendengar ketukan pintu, Hana terbangun bersamaan dengan suster yang masuk.


"Permisi, sarapanya mas, tolong nanti obatnya di minum setelah sarapan yah," kata suster diiringi senyuman kemudian pergi.


"Makasih, Sus," ucap Hasan.


Suster meninggalkan ruangan Damar. Hana yang sudah bangun lalu menghampiri Damar dan Hasan, sambil mengucek matanya.


"Hoaammmm, koq aku gak dibangunin sih, San!"


"Mana tega aku, kamu pules gitu bobonya," jawab Hasan.


"Damar, kamu udah sadar? Syukurlah," ucap Hana tersenyum sambil mengelus tangan Damar.


"Iya, makasih ya, Han. Kamu udah nungguin aku juga," ucap Damar diiringi senyuman.


"Sama-sama. Kamu sarapan dulu yah, biar aku suapin," ucap Hana sambil membuka plastik pembungkus nampan.


"Eh, kamu cuci muka dulu sana! Muka kucel gitu, gak enak banget liatnya," tutur Hasan dengan nada kesal.


Hana yang mendengar kalimat Hasan kemudian mengurungkan niatnya untuk menyuapi Damar.

__ADS_1


"Iya maaf, aku cuci muka dulu ya, Dam! biar fresh, gak sepet nih muka," ucap Hana manyun.


Damar tersenyum dan mengangguk. Dengan langkah enggan, Hana masuk ke dalam toilet.


__ADS_2