Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
57. Bikin Penasaran


__ADS_3

Hasan memandang Hana sekilas lalu segera menghabiskan buburnya. Lidahnya tidak terlalu pahit seperti tadi pagi dan siang tadi. Hana membantu membuka obat dan memberikannya kepada Hasan. Hasan meminumnya dengan segera.


"Alhamdulillah!" ucap Hana.


"Seneng kan kamu!"


"Seneng banget dong," ucap Hana mencubit pipi Hasan.


"Awww sakiitt, Han!" keluh Hasan sambil mengelus pipinya.


"Hihihi. Karena kamu udah makan dan minum obat, aku mau lanjut belajar lagi yah, besok jadwalnya matematika. Aku harus giat belajarnya. Soalnya, ada masalah dalam berhitung aku. Istirahat lagi yah. Oh iya, luka goresan kamu, sebaiknya nanti di perban saja ya, San! Aku suka serem sendiri lihatnya," ucap Hana sambil memandangi luka gores di kedua lengan Hasan.


"Kamu jijik sama luka-luka aku?"


"Ya ampun, nggak, San! Maksud aku gak gitu. Aku olesin salep lagi yah, biar cepet kering. Sama yang ada di perut kamu, aku boleh lihat gak?"


Hasan terdiam sejenak kemudian menganggukan kepalanya pelan.


Hana perlahan membuka kaos Hasan dan melihat perut Hasan yang sispex dengan luka gores tersebut.


Hana menyentuh luka tersebut dengan hati-hati.


"Udah mulai kering, San! Kamu tunggu di sini yah, aku bersihin badan kamu dulu, terus aku oles lagi pake salep,"


Hana berdiri dan hendak berjalan.


"Eh, maksud kamu! Kamu mau mandiin aku?" tanya Hasan memegang tangan Hana.


Hana mengernyitkan alis. Ia kemudian dengan sengaja menggoda Hasan yang mulai berfikir macam-macam.


"Iya, aku mau mandiin kamu, habis ini buka bajunya satu-satu yah!" ledek Hana.


Hasan segera beringsut mundur dan menarik selimut.


"Jangan macem-macem kamu!" ucap Hasan dengan tubuhnya yang mulai gemetar.


Kalimat yang Hana lontarkan mampu membuat tubuhnya merinding.


Hana kemudian berjalan mendekati Hasan. Wajahnya tampak menggoda Hasan. Ia naik ke atas ranjang dan mulai mendekatkan dirinya kepada Hasan. Hasan semakin gemetar dibuatnya. Wajah mereka begitu dekat hingga akhirnya ....


"Aku bukan cewek mesum, San!" ucap Hana sambil menjitak jidat Hasan dengan dua jarinya.


Tak!


"Aw!" pekik Hasan mengusap dahinya yang terasa panas akibat jitakan Hana.


Hana kemudian membenarkan posisinya dan berdiri di samping ranjang.

__ADS_1


"Kamu jangan mikir yang aneh-aneh. Gak mungkinlah aku mandiin kamu. Aku cuman mau elap setengah badan kamu aja, San! Kamu juga pasti risih kan? Nanti kalo sudah bersih, aku mau oles salep lagi. Biar cepet keringnya," tutur Hana panjang lebar.


"O-oh, begitu! Aku pikir kamu mau beneran mau mandiin aku,"


"Emangnya kamu beneran mau, aku mandiin? Kamu gak malu?" tanya Hana sambil mencondongkan tubuhnya.


"Ya-ya, ya gak mau lah," jawab Hasan sedikit tergagap.


Hana menghela nafas kemudian pergi keluar untuk mengambil baskom berisi air hangat beserta handuk kecil, dan juga kotak P3K.


Hana kembali ke kamar Hasan. Ia meletakan semua piranti tersebut. Ia berjalan ke arah lemari dan mengambil kaos baru untuk Hasan.


Hasan hanya bisa memandangi Hana yang sedari tadi hilir mudik di depannya.


"Maaf ya, San! Kamu boleh buka baju kamu. Mau aku bukain, atau buka sendiri nih!" tanya Hana dengan wajah genit.


Hasan merasa panas saat Hana menggodanya seperti itu. Ia beberapa kali menelan ludahnya sendiri mencoba menahan nafsunya.


Hasan melepaskan kaosnya yang sudah basah akibat keringatnya sendiri.


Hana memeras handuk dan mulai mengelap tubuh Hasan dengan lembut. Ia memperhatikan setiap lekuk tubuh Hasan yang sangat sispex itu.


Bulu kuduk Hasan meremang, ia menjadi sangat tegang ketika tak sengaja tangan telanjang Hana mengenai setiap kulitnya.


"Buruan dong, Han! Dingin nih," ucap Hasan menutupi rasa gugupnya.


Hasan merasa geli saat tangan kiri Hana menyentuh bagian perutnya, dan satunya lagi memegang handuk basah sambil mengusap pelan di luka goresan itu.


"Sss, aw!" Hasan sedikit mendesis karena ia meremang kegelian.


Hasan buru-buru menutup mulutnya. Hana mendongakan wajahnya dan melihat ekspresi Hasan.


"Kenapa, San! Sakit yah! Aku udah pelan-pelan koq," ucap Hana kemudian meniup luka gores Hasan.


"I-iya, sakit tau! Kamu tadi gak sengaja neken," jawab Hasan bohong.


Hasan tak mau ketahuan kalo dia terangsang dengan sentuhan lembut Hana. Apalagi bagian perutnya juga merupakan area sensitive nya. Soalnya, itu tepat sekali di atas juniornya.


"Maaf deh, gak sengaja!" ucap Hana lalu meletakan handuk basah tersebut ke dalam baskom.


Hana berganti mengambil salep oles dan mengoleskannya dengan pelan supaya Hasan tidak kesakitan lagi.


Hasan mencoba mengatur nafasnya. Bagian bawahnya sudah mulai menegang. Jantungnya kini berpacu lebih cepat.


"Sial! Perasaan apa ini! Kenapa aku mendadak tegang begini! Juniorku juga berdenyut. Jangan sampai Hana sadar akan hal ini," batin Hasan.


Setalah beberapa menit, Hana telah selesai mengobati luka Hasan. Hasan kini bisa bernafas lega. Tubuhnya berangsur normal kembali. Ia segera memakai kaos yang diberikan oleh Hana.

__ADS_1


"Tugas aku udah selesai, waktunya kembali belajar," ucap Hana sambil memegang baskom.


"Tunggu, Han,"


"Ada apa lagi? Kamu mau aku temenin?"


"Nggak! Aku cuman mau bilang makasih koq,"


"Oh, ya sama-sama!" balas Hana sambil tersenyum.


"Em, satu hal lagi. Kalo hasil ulangan kamu bagus dan dapet rangking pertama, aku bakal ngasih hadiah buat kamu! Itu kalo dapet rangking pertama yah!"


"Serius? Kamu mau kasih aku apa?" tanya Hana dengan sumringah.


Mendengar kata hadiah, hatinya langsung berbunga-bunga. Hadiah adalah barang kejutan yang tidak ia ketahui, makanya setiap kali dengar hadiah, emosi Hana terpacu untuk berusaha mendapatkan hadiah itu.


"Ada deh! Tapi kalo nilai aku lebih bagus dari kamu, hadiah itu buat aku!"


"Emangnya hadiahnya apa?"


"Besok kamu tau sendiri,"


"Apa sih, jadi penasaran aku, tau!"


"Tunggu aja pas abis penerimaan raport!" jawab Hasan datar.


"Hem, bikin penasaran aja. Tapi, mau aku atau kamu yang dapet nilai terbaik, hadiah yang kamu bilang itu, bakal jadi milik kita berdua. Jadi, terserah lah, mau siapa yang dapet rangking satu nantinya. Toh, aku juga bakal menikmati hadiahnya juga," jawab Hana sambil memainkan alisnya.


"Bener juga apa yang kamu bilang. Kalo gitu, aku ganti deh. Hadiahnya buat kita berdua aja kalo gitu," ucap Hasan sambil tersenyum.


"Pastinya dong! Tapi, hadiah itu pastinya udah gak berkesan lagi buat kamu, kan kamu udah tau hadiahnya,"


"Tetep berkesan dong, kan aku sendiri juga belum lihat barangnya," jawab Hasan.


"Dih, emang apaan sih!" Hana semakin penasaran.


"Ada deh, lihat besok aja!"


"Hem, ya udah deh, aku mau lanjut belajar lagi. Met istirahat," ucap Hana diringi senyuman.


Hana berbalik, tapi Hasan kembali mencegahnya.


"Eh, tunggu Han!" seru Hasan.


Hana berhenti dan segera berbalik badan.


"Ada apa lagi? Masih ada yang pengin kamu tanyakan? Sekalian dong nanyanya," ucap Hana masih dengan membawa baskom di kedua tangannya.

__ADS_1


__ADS_2