Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
50. Dibonceng Raja


__ADS_3

Namun, baru beberapa langkah kaki, ia semakin merasakan sakit di perutnya. Hana memutuskan untuk berhenti.


"Efek belum sarapan nih, perut aku sakit banget, mana haus lagi!" keluh Hana memegangi lutut dan perutnya bergantian.


"Koq gak ada tukang ojek sih," keluh Hana lagi sambil celingukan.


Jalanan di depan nampak sepi. Ia kemudian meraba saku mencari hapenya. Hana beralih mencari dalam tasnya, hapenya juga tidak dapat di temukan.


"Ya ampun! aku gak bawa hape juga nih? Terus mau minta tolong sama siapa kalo kayak gini! Udah aku belain lari dari rumah, ninggalin Hasan, nolak tawaran Mama, eh gak taunya aku susah juga cari kendaraan!" Hana mulai khawatir, apalagi jam sudah menunjukan pukul tujuh lewat lima belas menit.


"Gak mungkin kan aku lari ke sekolah dalam waktu lima belas menit. Sedangkan waktu terus berjalan! Ini serius gak ada kendaraan lewat? Koq sepi sih!" Hana mondar-mandir di trotoar jalan.


Hana mulai khawatir sambil memandangi jam tangannya. Tiba-tiba saja, dari arah kanan ada motor ninja meraung dan terus mengklakson. Hana mengabaikan pengendara tersebut yang memakai helm dan jaket.


Pengendara tersebut sudah lumayan dekat jaraknya dengan Hana. Hana masih terlihat khawatir karena tinggal sepuluh menit lagi bel sekolah berbunyi. Sedangkan jarak sekolah dari rumahnya sekitar dua puluh lima menit.


Pengendara tersebut berhenti di depan Hana yang berdiri dengan galau di trotoar jalan.


Hana sedikit heran, kenapa pengendara itu berhenti tepat di depannya. Hana memperhatikan sang pengendara, namun tetap saja ia tak mengenalinya.


Pengendara tersebut kemudian mencopot helmnya dan tersenyum kepada Hana.


"Hay cewek!" sapa Raja dengan senyuman manisnya.


Hana terbelalak ketika mengetahui pengendara itu ternyata Raja. Hana sepertinya mendapat pertolongan lewat Raja. Ia merasa sangat senang atas kehadiran Raja pagi ini.


"Raja! Ya ampun, kebetulan banget!" ucap Hana begitu bahagia.


"Kenapa? Kamu koq seneng banget liat aku!" tanya Raja sambil tersenyum.


"Iya, aku seneng banget ketemu kamu pagi ini. Kamu mau ke sekolah kan?" tanya Hana semangat dan sedikit gugup mengingat waktu yang terus berjalan.


"Iya lah, aku pake seragam gini koq, kamu mau bareng sama aku?" tawar Raja dengan cool.


Hana mengangguk dengan sumringah.


"Aku gak nolak, Ja! Hari ini aku ulangan, delapan menit lagi bel masuk nih. Aku nungguin angkot gak ada, taxi juga gak ...."


Raja merasa sumringah pula karena bisa menolong Hana. Raja memang punya niatan untuk terus mendekati Hana karena ia merasa bersalah.

__ADS_1


"Iya aku tau, hari ini kelas satu dan dua serempak ulangan. Ayo buruan naik, aku anterin kamu tepat waktu!" ucap Raja.


Hana tanpa basa-basi langsung naik ke jok belakang dengan hati-hati.


"Hana, maaf yah, kamu harus pegangan pinggang aku kenceeeeeennnng banget! Karena aku mau ngejar waktu buat kamu!"


"Kalo udah pasti telat gak usah ngebut, Ja!"


"Pasti nyampe tepat waktu koq, Han! Asal kamu nurut sama aku buat pegangan,"


Raja memakai helmya, dan menarik kedua tangan Hana agar memeluk pinggangnya. Hana sedikit kaget atas reaksi Raja yang langsung menarik tangannya tanpa meminta ijin.


Raja kemudian menyalakan motornya kembali dan langsung wuzzzzzzzzz!


Raja begitu ngebut, Hana merasa ketakutan, ia memeluk Raja lebih erat dari sebelumnya.


Raja begitu merasa senang. Di balik helmnya, ia terus mengembangkan senyuman.


Hana membenamkan wajahnya di punggung Raja untuk menghindari angin. Motor yang di bawa Raja terasa mengambang. Hana seperti tak merasakan roda tersebut berjalan di atas aspal, melainkan di udara.


Hana merasa tidak enak karena buah dadanya terasa sangat menempel dan menekan punggung Raja yang kebetulan tak membawa tas karena sudah hari bebas.


Bahkan semilir angin yang begitu kencang, dapat ia rasakan menembus masuk ke dalam rok Hana yang sedikit tersingkap.


Raja tak menggubris kalimat Hana. Ia terus tersenyum dibalik helmnya menikmati kebersamaannya dengan Hana.


Ciiiiiitttt!


Raja mengerem sepeda motornya kemudian membuka kaca helmnya.


"Hana, sudah sampai!" ucap Raja sambil mengelus punggung tangan Hana.


Hana yang merasakan masih kaku, kemudian mencoba untuk membuka matanya perlahan, ia melepaskan pelukannya dan kemudian turun dari motor Raja.


Hana menepuk-nepuk wajahnya sendiri yang terasa tebal. Raja tersenyum melihat ekspresi Hana yang acak-acakan.


Raja membantu Hana untuk merapihkan rambutnya yang harum dan lembut dengan kedua tangannya, tanpa turun dari motor.


Raja mampu menempuh perjalanan lima belas menit menjadi lima menit saja. Bisa bayangin tuh seperti apa ngebutnya. Wajah Hana benar-benar shock. Sedangkan Raja masih terus tersenyum melihat ekspresi Hana.

__ADS_1


"Kamu gila, Ja! Jantung aku mau copot rasanya. Gak lagi-lagi deh aku nebeng kamu. Tapi by the way, makasih yah!" ucap Hana merapihkan seragamnya dan melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


Hana kagum dengan Raja yang mampu menempuh jarak dalam lima menit saja. Tapi ia tak suka dengan cara mengendarai Raja.


Raja kemudian mengambil hapenya dan tanpa izin langsung memotret Hana.


Cekrek


"Raja! Kamu foto aku ya!" tanya Hana sambil memukul tangan Raja pelan.


"Hehehe, iya! Maaf yah! Abisnya muka kamu lucu banget! Nih liat deh!" ucap Raja sambil menunjukan hasil jepretannya kepada Hana.


"Iih hapus dong!" ucap Hana sambil menarik jaket Raja.


"Iya iya, nanti aku hapus. Tuh bel udah bunyi, buruan masuk sana! Good luck yah! Semoga lancar ulangannya. Aku duluan ya, bye!" Raja memasukan hapenya ke dalam saku, dan ia segera pergi dari sekolah Hana.


"Ih, ngeselin juga sih tuh anak! Tapi kalo gak ada dia, aku pasti udah telat nih!" Hana kemudian masuk ke dalam dengan langkah pelan karena kedua lututnya masih terasa gemetar.


Hana langsung pergi ke depan kelasnya dan duduk di samping Yusi yang tengah fokus belajar.


"Woy! Koq kamu tumben siang banget, Han!" tanya Yusi sambil memperhatikan ekspresi Hana yang manyun.


"Iya, Yus. Semalem gak bisa tidur soalnya. Oh iya, kondisi Damar, gimana sekarang?" tanya Hana sambil mengeluarkan buku bahasa Indonesia untuk belajar lagi sebelum ulangan di mulai.


"Alhamdulillah, dia sudah baikan, Han! ntar sore udah boleh pulang. Tapi dengan kakinya yang masih di gips, dia harus tetep kontrol dan jalannya pake tongkat," terang Yusi.


"Syukurlah kalo gitu. Semoga keadaannya terus membaik yah! Sory, aku belum bisa jenguk lagi. Titip salam aja buat Damar yah,"


"Iya nanti aku sampein salamnya,"


"Terus ulangannya gimana, Yus?"


"Dia ulangannya di rumah sakit. Ada guru dari sekolah lain yang ditugasin buat ngawasin Damar di sana,"


"Oh gitu," jawab Hana sambil manggut-manggut.


"Eh, kayaknya Hasan juga gak masuk ya hari ini? Ada apa ya?" tanya Yusi.


"Hasan sak ...." Hana menutup mulutnya. Ia hampir saja keceplosan.

__ADS_1


"Kenapa dengan Hasan? Kamu tau sesuatu tentang dia?"


"Ah nggak koq, aku juga gak tau. Yus, guru pengawasnya udah dateng tuh, ayo kita masuk. Good luck yah! Semoga kita bisa mengerjakan soalnya dengan lancar, amiin!" ucap Hana dengan lirih dan meninggalkan tasnya di luar.


__ADS_2