
Cukup canggung berada di satu meja makan bersama orang yang dulu mengisi hatinya, dan bersama orang yang sudah resmi menjadi suaminya. Hasan menatap Hana dan Miki bergantian ketika mendapati mereka berdua saling menatap dan melempar senyum.
Hana sendiri berada di sebelah Miki dan Hasan karena bentuk meja itu yang bundar dan tidak terlalu besar.
Hana mulai mengambilkan nasi goreng untuk Hasan.
"Kakak juga mau kamu ambilin," ucap Miki seraya tersenyum menatap Hana.
Hana membalas senyuman Miki dan kemudian mengambilkan nasi goreng untuknya.
"Eghm! Awas Bang, kamu jangan naksir istriku loh," ucap Hasan mengagetkan Hana dan Miki.
Hana dan Miki menjadi salah tingkah akibat kalimat Hasan. Hasan menahan rasa cemburunya yang sudah menggumpal di dadanya.
Miki tersenyum memandang Hasan dan ia berniat untuk menggodanya.
"Emangnya kenapa? Kan kamu sendiri juga gak ada rasa kan sama dia? Gak papa kali, kalo aku juga suka sama adik iparku sendiri," canda Miki seraya tersenyum.
"Kakak!" ucap Hana seraya membulatkan matanya.
"Enggak, enggak, aku bercanda koq. Eh, masakan kamu enak banget sih. Kapan-kapan buatkan nasi goreng lagi dong," ucap Miki kepada Hana.
Hasan menghela nafas dengan kasar. Ia mencoba untuk tetap tenang meski jantungnya terus berdebar kencang. Rasanya ia sudah tak bisa menahan diri untuk memukul.
"Ini perasaan apa sih sebenernya? Aku jatuh cinta beneran sama Hana? Hatiku selalu sakit kalo Hana dekat sama cowok lain. Apalagi kalo Hana melempar senyuman, atau perhatian kepada cowok lain selain aku. Aarggghhh, menyebalkan sekali! Kenapa aku harus jatuh cinta sama dia," gumam Hasan dalam hatinya.
Hana melirik Hasan yang memasang wajah cemberut. Tatapan matanya begitu tajam.
"Kenapa dia bersikap seperti itu! Apa Hasan sudah tau tentang hubunganku sama Kak Miki dulu? Kalo dia tidak tau, harusnya Hasan bersikap biasa saja," ujar Hana dalam hati seraya melirik Hasan beberapa kali.
"Leo cemburu kepadaku? Apa dia sudah tau hubunganku dulu dengan Hana? Kalo dia tidak tah, harusnya kedekatanku dengan Hana tidak jadi soal. Toh, aku hanya sebagai Abang. Kecuali kalo dia diam-diam sudah tau. Kalo memang sudah tau, dia tau dari mana?" Miki berkata dalam hatinya.
Setelah selesai sarapan, Hana di bantu oleh Hasan membereskan dapur. Sedangkan Miki, membersihkan badan.
"San, hari ini aku mau belanja. Kamu nanti ...."
"Aku anterin yah,"
"Eh, jangan! Kamu di rumah aja sama Kakak. Kamu kan udah lama gak ngobrol sama kakakmu. Mending, kamu abisin waktu kamu sama Kakak, sebelum dia balik ke luar negeri lagi," tolak Hana dengan halus.
"Tapi gimana dengan kamu?"
"Aku bisa sendiri, ntar kalo aku udah selesai belanja aku kabarin kamu deh," ujar Hana lagi sambil merapihkan rambutnya.
"Aku anterin aja deh, aku temenin belanja sekalian,"
"Terus gimana sama kakak? Udah kamu di rumah aja. Aku mau ambil tas dulu," ucap Hana sambil berlalu ke kamar.
Hasan mengacak rambutnya. Ia sebenarnya ingin mengantar dan menemani Hana tapi, kedatangan Miki di rumahnya membuat ia tak bisa berkutik.
Tapi, setelah di pikir-pikir, dengan kepergian Hana, ia tak perlu lagi melihat Miki mendekati istrinya.
__ADS_1
Hana keluar dari kamar mengenakan sweater berwarna ping, rambutnya digerai seperti biasa dengan tambahan jepit motif bunga.
Penampilan Hana yang sederhana mampu menyihir Hasan.
"Cantik dan manis," puji Hasan seraya tersenyum dan membelai rambut Hana.
"Yah, aku emang cantik. Aku pergi dulu yah," ucap Hana sambil membenarkan jam tangannya.
Hasan lalu menarik tangan Hana sebelum Miki keluar dari kamar mandi. Hasan menyuruh Hana untuk naik di atas jok motornya.
"Ayo aku anterin," ucap Hasan.
"Hish, kan aku udah bilang, aku sendiri aja! Kalo nanti ada teman-temen kita yang lihat, mereka pasti curiga, San! Kamu gak boleh sering-sering dekat sama aku!" ucap Hana dengan cemberut.
"Emangnya kenapa sih! Kamu gak suka kalo aku deket sama kamu tiap hari?"
"Bukan itu maksud aku! Tapi ...."
"Iya aku tau, udah buruan naik. Aku akan antar sampai depan, dan carikan taxi buat kamu," ujar Hasan kemudian menghidupkan motornya.
Hana tersenyum kemudian menaiki jok belakang motor Hasan. Ia berpegang pada pundak Hasan.
"Dari tadi kek, ngomong kalo mau anter sampai depan. Kita kan jadi gak perlu debat lagi," ujar Hana ketika motor sudah berhasil keluar dari rumah.
"Kamunya nyrocos mulu. Nanti jangan lupa kabarin aku kalo udah selesai belanjanya. Hapenya jangan di silent kalo aku telpon atau chat biar kamu denger," ujar Hasan lagi.
"Siap boz!" kata Hana memberi hormat.
Begitu sampai di depan, Hana sudah mendapatkan Taxi. Hasan mengulurkan tangan sebelum Hana masuk ke dalam mobil.
Hana mengernyitkan kening tak mengerti dengan maksud Hasan.
Hasan mendengus kesal. "Huft, cium tangan dong!"
"Apa!" tanya Hana kaget.
"Nggak mau?" tanya Hasan.
"Cie, cie, pacar atau suami istri tuh," sahut sopir taxi yang menunggu di dalam.
"Istri saya, Pak!" jawab Hasan.
"Ciuuss? Emangnya kalian udah gak sekolah?" tanya Pak Sopir lagi.
"Eh, jangan dengerin temen saya, Pak! Dia suka ngaco," sambung Hana dengan cepat.
Sakitnya hati Hasan ketika Hana menyebutnya sebagai teman. Padahal dia baru saja mengakui dirinya sebagai istri di depan orang lain.
"Udah, aku masuk dulu yah," Hana meraih tangah Hasan dan mencium punggung tangannya sekilas.
Hana buru-buru untuk masuk ke dalam. Mobil pun pergi meninggalkan Hasan yang masih terpaku melihat kepergian taxi yang membawa istrinya.
__ADS_1
Hasan tersenyum karena Hana mau mencium tangannya. Ini untuk pertama kalinya ia melakukan hal itu. Hatinya yang tadi sakit berubah gembira lagi.
***
Sopir taxi tampak memperhatikan Hana dari spion tengah sambil tersenyum. Wajahnya yang ayu pasti membuat semua orang yang melihatnya akan terpana.
"Tadi itu beneran suaminya, neng?" tanya si sopir.
Hana yang tengah membalas chat Raja akhirnya menghentikan aktifitasnya dan memilih fokus menjawab pertanyaan si sopir.
"Bukan koq, Pak! Tadi itu temen saya," jawab Hana sambil tersenyum.
"Tapi koq cium tangan! Apa pacarnya ya, Neng?"
"Ah, bapak ini kepo banget," jawab Hana sambil tersenyum.
"Hehehe, maaf neng soalnya kalian tampak serasi sih. Cantik dan juga ganteng," jawab si sopir.
"Terimakasih, Pak!" jawab Hana kemudian turun dari mobil setelah sampai.
Hana segera masuk ke dalam dan menuju lantai dua mencari Raja yang sudah menunggunya di lobi bioskop.
Saat menaiki eskalator, tanpa sengaja yang berdiri di samping Hana ternyata adalah Samuel. Ia mengenakan baju dan jaket berwarna hitam, serta mengenakan topi. Begitu mereka sampai di atas, mereka baru menyadari satu sama lain. Terlebih lagi Hana.
"Samuel!"
"Eh, kamu ... Kamu, Hana kan?" tanya Samuel mencoba menebak.
"Iya, kamu di sini juga?" tanya Hana diiringi senyuman.
"Iya, kebetulan aku mau nonton film. Di rumah terus sumpeg," ucap Samuel.
"Emangnya kamu gak main sama temen-temen kamu?" tanya Hana lagi.
Mereka berdua lalu duduk di bangku sebentar untuk mengobrol.
"Temen yang mana? Aku kan gak punya temen. Mungkin karena aku lupa jadi ya gak tau siapa temen-temen aku semua," jawab Samuel.
"Oh gitu. Em, kamu ikut aku aja. Aku juga mau nonton sama temen. Dia temen kamu juga koq," ucap Hana sambil tersenyum.
"Senyuman kamu manis banget," batin Samuel.
"Temen aku? Siapa?" tanya Samuel tak mengerti.
"Kamu inget cowok yang mau hajar kamu di depan minimarket?"
"He'em," jawab Samuel seraya mengangguk.
"Nah itu. Dia temen SMP kamu. Ayok!" ajak Hana.
Samuel menyetujuinya dengan senang hati. Mereka berdua kemudian segera berjalan menuju bioskop dimana Raja, sudah menunggu dengan tampang kesalnya.
__ADS_1