Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
Kenapa? Dia Istriku


__ADS_3

Sementara Hasan masih mengobrol serius dengan Rido. Rido menceritakan semua tentang perasaan Miki terhadap Hana.


Seperti dugaan Rido, Hasan ternyata sudah mengetahui hubungan Miki dan Hana dulu.


"Jadi, rencana kamu apa? Aku gak mau antara kamu dan Miki, ada kesenjangan. Dan lagi, hubungan kamu dengan Hana. Aku ingin kalian bahagia. Sory yah, Leo! Kalimat aku dulu ternyata menjadi kenyataan. Aku benar-benar minta maaf, Le!" tutur Rido sambil menepuk pundak Hasan.


"Bukan salah kamu koq, Do! Mungkin ini sudah jadi takdir aku, Hana, dan juga Abang. Kamu mau bantuin aku gak?" tanya Hasan sambil menatap Rido.


"Bantuin apa?" tanya Rido penasaran.


"Jangan kasih tau Abang, kalo aku udah tau soal hubungannya dulu dengan Hana. Terus, bantuin aku buat nyomblangin Abang, dengan Cantika,"


"Apa! Nyomblangin Miki, sama Cantika?" tanya Rido kaget.


Hasan mengangguk.


"Iya. Jadi, waktu Abang mampir ke rumah, aku bahas masalah cewek yang disukai Abang. Nah, aku bilang kalo itu adalah Cantika. Aku bersikukuh kalo Cantika, adalah cewek yang ditaksir Abang. Soalnya, Hana dan Abang gak jujur sama aku. Jadi, aku ikutin aja alur mereka kemana. Aku gak mungkin juga ngebiarin Hana, jatuh ke cowok lain sementara dia udah jadi istri sah aku," terang Hasan.


"Le, kamu, kamu udah suka sama, Hana?" tanya Rido menatap Hasan, dengan intens.


Hasan memandang Rido. Namun, ia kembali menatap jauh arah jalanan.


Rido tersenyum melihat ekspresi Hasan.


"Hem, kayaknya udah ada yang diem-diem jatuh cinta nih," ledek Rido.


Hasan menyunggingkan senyum.


"Jadi gimana? Mau bantuin aku nyomblangin Abang, sama Cantika, nggak?" tanya Hasan lagi.


"Em, bukanya gak mau. Cuman, kayaknya agak susah deh, Le! Soalnya, sikap Cantika jauh dengan Hana," tutur Rido.


"Miki sama sekali gak nglirik, Cantika. Dia hanya memandang Hana. Hana dan Hana. Tak ada wanita lain. Tapi, aku bakal berusaha untuk bantuin rencana kamu ini. Kalo ada info lain, aku akan segera kasih tau kamu," ucap Rido lagi sambil menepuk pundak Hasan.


"Makasih ya, Do! Kalo gitu aku pulang dulu. Aku takut, Hana nungguin aku," ujar Hasan seraya memakai helm.


"Oke. Hati-hati ya! Salam juga buat Hana. Kayaknya, dia masih inget juga sama aku," ucap Rido sambil tersenyum.


Hasan merespon dengan mengangkat jempolnya. Motor pun melaju meninggalkan rumah Rido.


Rido melipat tangan di depan dada. Ia menghela nafas panjang. Udara di malam hari cukup membuatnya kedinginan. Ia segera masuk ke dalam dan berbaring di atas ranjangnya yang empuk.


"Cinta yang rumit. Makanya, aku gak mau kenal cinta. Biarin aja aku jomblo sampai mati. Leo, semoga kamu menemukan jalan yang terbaik. Aku selalu mendo'akan agar hubuganmu dengan Miki, maupun Hana, baik-baik saja," gumam Rido sambil memandangi langit-langit kamarnya.

__ADS_1


***


Hasan memasuki gapura perumahannya. Ia cukup kaget ketika melihat sebuah mobil terparkir di depan pagarnya.


"Mobil mamah. Apa jangan-jangan ...."


"Buka pagar," ucap Hasan.


Hasan memasuki halaman rumahnya begitu pagar terbuka. Ia mematikan mesinnya dan mencopot helmnya dengan arogan.


Hasan mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam.


"Aku gak boleh marah. Inget, Leo! Kamu sedang pura-pura gak tau hubungan mereka dulu. Kamu harus bersikap normal," ucap Hasan dalam hatinya.


Belum sempat membuka pintu dapur, dari dalam, Hana sudah membuka pintu terlebih dahulu.


"Hasan!" ucap Hana.


Hasan tersenyum melihat Hana.


"Aku denger suara motor kamu dari tadi. Tapi, kenapa gak langsung masuk ke dalam?" tanya Hana diambang pintu.


"Oh, ini ... Aku heran aja, itu mobil Mamah koq ada di luar pagar! Mamah Praja, ada di sini?" tanya Hasan.


"Oh itu, em, kakak kamu. Abang, ada di sini," jawab Hana.


"Wah, Abang ada di sini? Pantesan, tadi di rumah gak ada," ujar Hasan berbohong.


Hasan kemudian masuk ke dalam dan menghambur ke arah Miki, yang tengah menonton televisi.


"Udah lama, Bang!" tanya Hasan sambil duduk di samping Miki.


"Yah, lumayan. Kamu darimana? Dari rumah?" tanya Miki.


"Iya, tapi kamu gak di rumah. Tau kamu kesini, aku gak bakal ke rumah tadi," ucap Hasan pura-pura.


"Salah sendiri mau main gak bilang-bilang," jawab Miki tanpa melirik Hasan. Matanya fokus melihat acara di televisi.


"Ya aku pikir, Abang selalu di rumah jadi aku langsung aja, gak ngabarin Abang," jawab Hasan sambil meremas sofa.


Hana berjalan melewati mereka.


"Em, aku tidur duluan yah, udah ngantuk banget," tutur Hana sambil menguap.

__ADS_1


"Iya, ntar aku nyusul yah," jawab Hasan.


"Nyusul? Maksudnya?" tanya Hana yang tidak mengerti.


Miki sama tidak mengertinya dengan kalimat Hasan. Ia memandang Hasan.


"Ya, kan Abang nginep di sini. Biarin lah dia tidur di kamar aku. Ntar aku tidur sama kamu aja," ucap Hasan.


Kalimat Hasan membuat Hana dan Miki sama-sama terbelalak.


"Kamu mau tidur satu kamar sama Hana?" tanya Miki tak percaya.


"Iyalah, Bang! Dia kan istri aku," jawab Hasan enteng.


"Aku gak mau! Enak aja. Kamu tidur di sofa aja!" jawab Hana ketus.


"Emangnya kenapa? Kan aku cuman tidur aja, gak ngapa-ngapain kamu," jawab Hasan.


"Kamu gila ya, mau tidur bareng sama Hana. Kamu masih sekolah. Gak boleh macem-macem," sambung Miki.


"Gak papa lah, Hana kan udah jadi istri aku, Bang! Aku mau ngapain aja sama Hana, sah-sah aja," jawab Hasan.


"Gak bisa. Kamu tidur sama aku. Hana, kamu buruan ke kamar. Kunci pintunya," kata Miki sambil memegang tangan Hana dari sofa.


Hasan tak suka melihatnya. Hana mengangguk menyetujui kalimat Miki. Ia kemudian segera pergi menuju kamarnya dan mengunci pintu.


Hasan menyunggingkan senyum.


"Dasar! Kamu pasti gak rela, Bang!" ucap Hasan dalam hatinya.


"Eh, kamu itu gak boleh macem-macem sama Hana. Kalian itu masih pelajar. Jangan minta Hana, untuk menuruti segala kemauan kamu," ucap Miki sambil menatap Hasan.


"Ya ampun, maksud dari tradisi ini kan juga buat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Makanya, aku nikah muda agar aku bisa melampiaskan hasratku sama istriku, Bang!"


Miki menoyor kepala Hasan yang asal menjawab kalimatnya.


"Aduh, koq aku di pukul sih, Bang! Sakit tau!" keluh Hasan sambil mengusap kepalanya.


"Kalo ngomong jangan sembarangan. Aku gak akan maafin kamu kalo tiba-tiba, Hana hamil duluan," ucap Miki sambil beranjak dari tempat duduknya menuju kamar Hasan untuk tidur.


"Salah aku apa? Itu kan hal yang umum, Bang! Aku dan Hana, sudah menikah!" teriak Hasan.


Brak!

__ADS_1


Miki menutup pintu kamar dengan sangat keras. Bahkan Hana sendiri yang masih terjaga dapat mendengarnya.


"Pasti dia marah banget denger aku ngomong kayak gini. Hem, rasain! Panas, panas deh hatimu, Bang! Aku lebih panas dari kamu," gumam Hasan sambil menyunggingkan senyum.


__ADS_2