Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
59. Peringkat Pertama Siapa?


__ADS_3

"Kamu mau mandi nggak sih?" tanya Hasan melotot.


"I-iya ini mau mandi koq," jawab Hana tergagap.


"Ya udah buruan, aku bikin sarapan dulu," ucap Hasan berdiri dan hendak berbalik.


Hana meraih tangan Hasan, sebelum Hasan benar-benar berbalik.


"Kamu jangan bikin sarapan, biar aku aja! Kebetulan nasinya masih ada. Ntar aku gorengin telor yah. Kamu duduk aja sambil belajar. Jangan ngapa-ngapain," ucap Hana dengan wajah khawatir.


"Aku udah sembuh, Han! Gak papa biar aku yang goreng aja," jawab Hasan.


"Pokoknya kamu duduk aja. Jangan kemana-mana. Aku yang akan goreng telor, oke!"


"Kalo kamu mandinya lama, terpaksa aku yang akan goreng!" ucap Hasan dengan nada mengancam.


"Awas aja kalo kamu gak dengerin aku ngomong,"


Hana lalu bergegas untuk mandi. Hasan menghela nafasnya melihat sikap Hana pagi ini.


"Dia benar-benar khawatir sama aku," gumam Hasan.


Hasan kemudian duduk kembali sambil melanjutkan belajar. Sesekali Hasan memandangi jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Baru saja Hasan membuka lembaran baru, Hana keluar dari kamar mandi sambil menggebeg rambutnya yang basah dan wangi.


"Wah, cepet banget! Kamu mandi pake sabun gak tuh!" tanya Hasan sambil tersenyum.


Hana menengok ke arah Hasan yang tengah tersenyum sambil meletakan buku di meja.


"Kamu pasang timer di jam kamu ya?" tanya Hana dengan wajah cemberutnya.


"Hehehe,"


Hana lalu bergegas berganti pakaian dan menunaikan kewajibannya. Setelah selesai, Hana keluar menemui Hasan. Ia segera mengambil telor di kulkas dan memecahnya dalam mangkok.


Hana memanaskan teflon dan mengoleskan mentega.


Bau harum perpaduan antara mentega dan kocokan telur membuat perut terasa keroncongan. Sambil menunggu telur matang, Hana menyeduh dua gelas susu untuk dirinya dan juga Hasan.


Hasan tersenyum memandangi istrinya yang tengah sibuk memasak itu. Ia begitu senang, hingga tanpa Hana sadari, Hasan bolak balik mengambil gambar dirinya.


Hana kemudian menyiapkan dua porsi nasi ke dalam piring, ia meletakan telur dadar di atasnya, lalu menaburi berambang goreng.


"Sarapan sudah siap, waktunya makan," ucap Hana sambil meletakan sarapan Hasan di atas meja.


Hana kembali mengambil sarapannya dan menuju ke meja makan.


"Selamat makan," ucap Hana.


"Hem, wangi banget! Bismillah," ucap Hasan dengan raut bahagianya.


Mereka berdua begitu menikmati sarapannya. Sambil sesekali mencuri pandang.


"Habis sarapan, kita langsung berangkat yah. Takutnya ada yang lebih awal berangkat daripada kita," ucap Hasan sambil mengunyah.


"Oke," jawab Hana sambil tersenyum.


"Khususnya si Raja, Han! Kamu ketemu dia di depan, itu artinya, rumah Raja ada di kompleks sebelah Han. Kita harus hati-hati," ujar Hasan kembali.


"Iya, San!" jawab Hana lembut.


Setelah selesai makan, Hasan mengambil jaket di kamarnya. Sementara Hana merapihkan bekas sarapan mereka.


Hasan hanya membawa hape dalam sakunya yang sudah ia silent, serta satu buah pulpen yang sudah ia selipkan di saku bajunya.


Hana mengambil tas ranselnya, dan keluar menemui Hasan yang sudah terlebih dahulu berada di luar.

__ADS_1


"Loh, San! Tas kamu mana?" tanya Hana sambil membenarkan tali tasnya.


"Gak bawa, udah ayok cabut!" ucap Hasan kemudian menaiki sepeda motornya.


"Pelan-pelan aja ya, San!" tutur Hana kemudian naik di jok belakang sambil berpegang pundak Hasan.


"Iya. Kamu jangan lupa pegangan aku,"


"Kamu takut jatuh?" tanya Hana dengan polosnya.


"Pertanyaan macam apa tuh! Udah nurut aja kenapa sih! Aku yakin, kamu kemaren lebih kenceng meluk si Raja!" ucap Hasan kesal.


"Ouhhh, jadi maksud kamu nyuruh aku buat pegangan karena kamu pengin di peluk juga?" tanya Hana sambil menahan senyum.


Hasan menggaruk kepalanya, ia sebenarnya cemburu, tapi susah untuk diutarakan.


"Bukan gitu juga, kan kamu tau sendiri aku lagi sakit," Hasan berkilah kemudian memakai helmnya.


Hana tersenyum, ia dengan malu-malu memeluk pinggang Hasan. Hasan tersenyum malu dan bahagia, ketika tangan lentik itu mulai melingkar di pinggangnya.


Mereka berdua kemudian meninggalkan rumah yang indah itu, menuju sekolah.


Jalanan yang masih sepi dengan udara yang sejuk, menambah suasana romantis diantara mereka. Mereka berdua sama-sama merasa nyaman dalam pelukan yang menghangatkan itu.


****


Seiring berjalannya waktu, Hasan dan Hana semakin dekat. Hana tidak hanya dekat dengan Hasan, tapi juga dengan Raja.


Waktu pengambilan raport pun dimulai.


Semua orang tua murid datang untuk mengambil raport milik anaknya masing-masing.


Damar, Yusi, Hana, dan Hasan menunggu orang tua mereka di luar dengan harap-harap cemas.


"Amin," jawab Hana.


"Kamu kenapa gak nunggu di rumah aja, Dam?" tanya Hasan sambil berpindah tempat duduk di sebelah Damar.


"Aku gak sabar pengin liat raportnya, San!" jawab Damar.


Mamahnya Damar keluar lebih dulu, kemudian dibelakangnya disusul oleh Mamahnya Yusi.


Damar hendak berdiri sebelum ia dicegah oleh Mamahnya sendiri.


"Gimana hasilnya, Mah?"


"Eh, duduk aja kamu, duduk!" ucap Mamah Damar kemudian berjongkok di depan anaknya.


"Tante, duduk di sini," ucap Hasan mempersilahkan tempat duduknya untuk Mamah Damar.


"Iya, terimakasih, San!" ucap Mamah Damar kemudian duduk di sebelah Damar.


"Punyaku gimana, Mah?" tanya Yusi kepada Mamahnya.


"Hasilnya bagus koq, nih liat," ucap Mamah Yusi sambil menyodorkan raport yang dipegangnya.


Yusi dan Hana sama-sama mengintip nilai raport Yusi.


"Wah, bagus, Yus," ucap Hana.


"Aku gak dapat rangking ya, Mah?" tanya Yusi dengan mata terus mencari peringkat.


"Di situ gak ada predikatnya ya? Oh, pantesan tadi wali kelas kamu bawa daftar gitu. Kamu rangking lima," jawab Mamah Yusi.


"Wah, selamat ya, Yus, kamu ikut lima besar," ucap Hana lagi sambil memeluk Yusi.

__ADS_1


Yusi tidak percaya dengan apa yang dikatakan Mamahnya.


"Selamat, Yus! Ternyata kamu pintar juga ya," ucap Damar sambil tersenyum.


"Wah, emangnya kamu pikir selama ini, Yusi bego, Dam?" tanya Hasan sambil tertawa.


"Gak gitu maksud aku, San!" jawab Damar kesal.


Hasan terkekeh melihat wajah Damar yang tidak enak kepada Yusi dan Mamahnya.


"Kalo, Damar rangking berapa, Tante?" tanya Hasan kepada Mamahnya Damar.


"Dia, rangking enam," jawab Mamah Damar.


"Wah, keren juga kamu, Dam! Bisa ikut sepuluh besar," kata Hasan sambil menepuk pundak Damar.


Damar menghentakkan kerah bajunya berlagak sombong.


"Selamat, Dam! Kamu pintar juga yah," balas Yusi sambil memainkan kedua alisnya.


Damar tersenyum karena Yusi membalas guyonannya.


"Teman-teman aku semuanya pintar-pintar," ucap Hana sambil mengangkat kedua jempolnya dan digoyangkan.


Tak berapa lama, Bu Darma dan Bu Praja keluar dari kelas sambil menenteng raport. Hasan dan Hana merasa deg-degan dengan hasil mereka.


Setelah kurang lebih dua Minggu, akhirnya mereka bisa mendapatkan hasil ulangannya.


Hasan dan Hana saling memandang.


Tangan Hana terasa dingin, karena ia gemetar.


"Wah aku yakin kalo gak Hasan, pasti, Hana yang dapet rangking pertama," tutur Damar sambil tersenyum.


Bu Praja dan Bu Darma saling memandang dan tersenyum. Mereka menyerahkan raport tersebut kepada anaknya.


Hasan dan Hana mulai membukanya dengan perasaan deg-degan. Yusi mengintip nilai Hana. Sedangkan Damar mengintip nilai, Hasan.


"Wah, bagus-bagus banget nilai kalian. Nyaris sempurna, 100! Gila!" ucap Yusi dengan mata melotot.


"Bener, Yus, mereka berdua emang geniusnya kelas kita," terang Damar.


Hana dan Hasan merasa sangat puas dengan nilai yang mereka dapatkan.


"Tante, Hasan dan Hana pinter banget. Hebat mereka berdua," tutur Yusi kembali.


"Terimakasih yah, atas pujian kalian," jawab Bu Darma mewakili.


"Mah, aku dapat rangking berapa?" tanya Hana.


"Kamu, kamu dapet rangking dua, sayang!" ujar Bu Darma sambil mencubit hidung Hana.


"Selamat, Han!" ucap Yusi memeluk Hana dengan erat.


"Wah, yang rangking satu, pasti Hasan, nih! Iya kan, Tante?" tanya Damar pada Bu Praja.


Hasan memandang Mamahnya dengan wajah tegang. Bu Praja tersenyum dan mengangguk.


"Iya, kamu dapat peringkat pertama, San!" jawab Bu Praja.


Senyuman Hasan mengembang ketika mendengar jawaban dari Mamahnya. Hana ikut senang mendengarnya.


"Tuh kan, aku bilang juga apa. Selamat, San! You are the best!" ucap Damar mengangkat kedua jempolnya untuk Hasan.


Hasan hanya tersenyum. Ia tak dapat berkata apa-apa, matanya masih fokus melihat nilainya yang banyak angka 100 nya.

__ADS_1


__ADS_2