
Miki tidak menyangka jika Hasan akan mengatakan hal itu.
Demikian dengan Hana, ia tidak paham maksud obrolan Hasan dan Miki. Mungkinkah, diam-diam, Hasan dan Miki saling bertukar cerita, dan Hasan telah salah menilai, jika wanita yang disukai Miki, adalah Hana, bukan Cantika. Pikiran itu bergelayut di kepala Hana.
"Cantika? Dia teman kamu?" tanya Miki.
"Iya, bahkan dia dulu satu SMP sama Hana, iya kan, Han?" tanya Hasan.
"I-iya, tapi, maksud kamu apa sih? Aku koq gak paham," kata Hana.
"Oh, jadi gini. Abangku, dia itu gak mau ikut tradisi karena nungguin cewek yang dicintainya sejak SMP. Dia pulang kesini juga mau nyari cewek itu. Dan aku tanya ciri-cirinya. Kayaknya, cewek itu sih, Cantika," ucap Hasan dengan wajah polos dibuatnya.
Hana memandang Miki dengan perasaan yang tidak enak. Miki membuang wajahnya dan mengehela nafas. Matanya mulai berkaca-kaca lagi.
"Kakak pasti sedih karena kenyataan tak seperti yang ia harapkan. Maafin aku, Kak! Aku gak bisa menunggumu lebih lama dari itu. Aku tidak mungkin membantah perintah orang tuaku," ucap Hana dalam hatinya.
Diam-diam, Hasan memperhatikan Hana dan Miki secara bergantian. Sudah bisa ditebak bahwa mereka merasakan sakit di hati, dan kesedihan yang mendalam.
"Sudah ku pancing sejauh ini, kalian tetap berpura-pura. Kalian tidak mau menjelaskan sesuatu kepadaku? Oke, aku ikuti saja. Ini akan menguntungkan bagiku. Sory, Bang! Kamu gak akan bisa rebut Hana dariku, dia udah jadi milikku. Aku, tidak tau dengan perasaanku, tapi aku tidak mau, Hana menjadi milikmu, bahkan siapapun," batin Hasan.
"Koq malah pada diem sih, ngobrol dong, eh makan dulu gimana, Bang? Aku delivery yah!" ucap Hasan untuk mencairkan suasana.
"Ah gak usah, aku ada urusan lain, pulang dulu yah,"
Tanpa persetujuan Hasan dan Hana, Miki berjalan dengan langkah cepat meninggalkan rumah Hasan. Dia langsung menuju mobil dan mengendarainya.
"Bang! Bang! Yah, udah pergi aja," ucap Hasan berdiri di ambang pintu.
Hana kemudian bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Hasan menghela nafas panjang. Ia merebahkan tubuhnya di sofa. Hasan memijit keningnya yang terasa pusing.
"Apa kamu masih suka sama Abangku, Han? Kamu masih mencintainya? Kalo kamu pilih Abang, lalu bagaimana dengan diriku yang sekarang menjadi suamimu? Apa kamu akan pergi ninggalin aku?" ucap Hasan dalam hatinya.
Hana menangis di dalam kamarnya. Ia sudah mencoba melupakan Miki selama ini. Tapi, setelah mendengar pernyataan Hasan, tentang kembalinya Miki untuk mencarinya, membuat ia merasa sedih dan bersalah.
Miki mengendarai mobil tanpa arah dan tujuan. Ia menangis dan merasa marah dengan apa yang sudah menimpa dirinya. Miki berteriak di dalam mobil. Ia mengencangkan suara musik agar teriakannya tidak dapat terdengar orang lain. Meskipun sedikit mengganggu, tapi ia tidak peduli.
Hasan kemudian beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Hana di kamarnya. Ingin sekali Hasan, meluapkan seluruh isi hatinya, ingin menanyakan perasaan Hana yang sesungguhnya tapi, Hasan menahannya. Ia ingin, Hana jujur sendiri kepadanya.
Tok tok tok
__ADS_1
"Hana, aku laper, masakin sesuatu buat aku," ucap Hasan dengan suara lemas.
Hana yang masih menangis kemudian duduk di tepi kamarnya. Ia kemudian menghampiri meja riasnya dan berkaca. Hana mengusap air mata dan merapihkan rambutnya yang terlihat berantakan.
Hana mengipas matanya agar tidak lagi merah.
"Iya sebentar, San! Kamu tunggu aja di luar," jawab Hana dari dalam.
"Kamu gak papa kan? Kamu belum makan juga kan?"
"Gak papa, bentar aku mau ganti baju dulu," ucap Hana.
Hasan menyunggingkan senyuman. Ia tau, Hana sedang tidak baik-baik saja setelah bertemu dengan Miki.
Hasan kemudian menuju dapur, ia mengeluarkan sayur bayam yang masih tersisa. Hasan memotongnya dan mulai mencucinya.
Hasan kemudian menyalakan kompor, dan meletakan panci yang sudah berisi air.
Hana berganti pakaian lebih santai, lalu keluar kamar. Begitu melihat Hasan sedang memasak, Hana segera berlari dan menghampiri Hasan yang tengah berdiri membelakanginya.
Hana meraih tangan Hasan dan melihat perbannya.
"Ya ampun, basah kan kena air. Kenapa kamu gak sabar banget sih nunggu aku. Aku kan cuman ganti baju sebentar, San!" ucap Hana khawatir.
"Udah kamu duduk aja. Aku ganti perbannya lagi," ucap Hana sambil mengajak Hasan untuk duduk di kursi meja makan.
Hasan hanya menurut sambil terus mengamati wajah Hana yang nampak khawatir.
Hana mengambil kotak P3K, dan mulai mengganti perban di tangan Hasan.
"Kamu tau, tangan kamu luka. Baru aja di perban, jangan kena air dulu," kata Hana lagi sambil memikirkan perban yang baru.
"Aku udah laper, Han! Bangun tidur belum makan. Pada saat tidur, aku juga belum makan," ucap Hasan.
Hana menghela nafas tanpa melihat wajah Hasan.
"Maafin aku yah ... Nah, sekarang kamu duduk aja di sini, tunggu aku siapin makanan buat kamu," ucap Hana penuh perhatian.
Hasan tidak menjawab, ia terus mengamati Hana dari belakang, yang sekarang tengah sibuk memasak untuk dirinya.
"Tadi kamu pergi kemana, Han?" tanya Hasan memulai percakapan.
__ADS_1
"Oh, aku tadi jenguk neneknya temen aku,"
"Temen kamu yang mana?" tanya Hasan menyelidik.
Hana kembali menghela nafas lagi. Ia merasa takut jika harus jujur. Tapi, Hana juga tidak mau kalo harus membohongi Hasan. Menyembunyikan masa lalunya dengan Miki saja, ia sudah merasa bersalah. Tidak mungkin ia menyembunyikan hal ini juga.
"Kalo aku jujur, kamu jangan marah yah," jawab Hana sambil mengaduk sayur bayamnya.
Hana kemudian mengambil telor dan mendadarnya.
"Aku lebih suka kamu yang jujur, meskipun itu menyakitkan," jawab Hasan masih terus memperhatikan Hana dari belakang.
Hana menjeda aktifitasnya sebentar, lalu memulai masak lagi.
"Aku nengokin neneknya Raja,"
"Apa? Jadi kamu pergi sama, Raja? Sejak kapan kamu mulai pergi-pergi bareng sama dia, Han?"
Kali ini, nada bicara Hasan sedikit tinggi.
Hana berbalik untuk melihat wajah Hasan.
"San, Raja temen aku juga. Aku ...."
"Kamu diem-diem suka pergi sama dia? Kalo kita ketahuan gimana, Han? Rumah dia disekitar sini," ucap Hasan beranjak dari tempat duduknya.
"Aku tau, San! Kamu tenang aja. Kita gak mungkin ketahuan. Raja gak seperti yang kamu bayangin koq. Dia bener-bener baik,"
"Kamu belum lama kenal sama dia, Han!"
"Demikian juga waktu aku ketemu sama kamu, San! Apalagi kita malah langsung nikah. Aku gak tau kamu beneran baik atau nggak. Tapi aku percaya sama kamu. Demikian juga dengan, Raja!"
"Jadi, kamu samain aku sama, Raja?"
Hana terdiam sejenak. Ia menghela nafas dan memijit kepalanya sedikit.
Hana berbalik badan dan mulai mengangkat telor terakhirnya. Hana mematikan kompornya.
Hana mengambil mangkuk dan menaruh sayur bayam yang sudah ia bumbui ke dalam mangkok. Mengambil piring untuk menaruh telur dadanya. Hana menaruhnya di atas meja. Hana mengambil dua buah piring dan sendok, lalu mengambil nasi untuk dia dan Hasan.
"Kita makan dulu, San, sebelum kita merasa kenyang gara-gara debat masalah sepele. Aku gak mau kamu sakit," ucap Hana mulai makan.
__ADS_1
Hasan merasa kesal kepada Hana. Sekarang, Hasan harus lebih hati-hati lagi. Hana bukanlah anak penurut seperti yang ia bayangkan. Diam-diam, Hana mau pergi dengan laki-laki lain.