
"Udah-udah, ini cuman salah paham aja. Leo, maafin Ceri, yah! Ceri, minta maaf sama, Leo. Jangan kamu ulangin lagi kesalahan kamu yah," ucap Bu Darma.
"Iya, Mah! Hasan, aku minta maaf, jangan marah please!" ucap Hana sambil mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya.
Hasan masih menatap Hana dengan garang. Ia melunak ketika melihat kedua mata Hana, yang mulai berkaca-kaca. Hasan mengehela nafas panjang kemudian menganggukan kepalanya.
Hasan mengelus rambut panjang Hana."iya, aku maafin. Lebih baik, kita lanjut makan lagi aja. Mari mah, kita makan lagi,"
Bu Darma tersenyum dan mulai makan kembali. Hasan sudah tidak nafsu untuk makan, demikian juga dengan Hana. Namun, demi menghormati Bu Darma, mereka terpaksa ikut makan.
Setelah sarapan selesai, Bu Darma dan Hasan berbincang bincang di ruang tamu. Sedangkan Hana, ia merapihkan meja makan dan membereskan dapur.
"Jadi Mah, gimana dengan produk baru yang akan Papah, luncurin? Kapan produk itu mulai dipasarkan?" tanya Hasan mengawali percakapan.
"Em, sebenarnya hari ini grand opening, tapi ...."
"Loh, kenapa Mamah malah di sini? Mamah gak nemenin, Papah?" tanya Hasan sengaja memancing.
"Iya, Mamah lagi gak enak badan, jadi ya ... Gak usah lah, biar Papah aja,"
"Loh, kalo gak enak badan koq malah kesini, eh maksud aku, kenapa Mamah, gak ke rumah sakit aja? Mau aku anterin, Mah?" tawar Hasan.
"Ah, gak usah. Mamah udah cukup enakan koq. Sebenarnya, Mamah itu gak setuju kalo papah, bekerja sama dengan perusahaan tanaman herbal itu,"
"Kenapa memangnya, Mah? Bukanya bagus, Papah bisa menemukan bahan alami yang susah dicari itu untuk produk barunya? Bagus itu loh, Mah!"
"Memang bagus, tapi mamah gak suka sama ownernya," jawab Bu Darma keceplosan.
Bu Darma segera menutup mulutnya.
"Aduh, keceplosan lagi!" batin Bu Darma merutuki dirinya.
Hasan mengernyitkan keningnya. "Oh, jadi itu alasannya," batin Hasan.
"Kenapa, Mah? Apa, Mamah kenal sama ownernya? Apa orang itu tidak baik?" tanya Hasan.
Bu Darma kemudian berdiri dan menengok ke arah dapur. Hana masih sibuk di sana dengan pekerjaannya. Ia kemudian duduk kembali. Hasan merasa lucu dengan sikap mertuanya itu. Bu Darma terlihat seperti anak kecil. Persis Bu Praja, Mamah Hasan.
__ADS_1
"Kenapa si, Mah? Koq panik gitu," kata Hasan menyelidik.
"Kamu bisa jaga rahasia gak? Kalo bisa, Mamah mau cerita. Tapi kalo kamu gak bisa mamah ...."
"Tentu, Mah! Leo bakal bantuin Mamah. Mamah jangan sungkan. Cerita aja sama, Leo," bujuk Hasan dengan ekspresi merayunya.
Bu Darma akhirnya luluh. Ia kemudian berpindah posisi duduk disamping menantunya.
"Jangan bilang-bilang, Ceri yah," bisik Bu Darma.
"Mamah tenang aja. Ceri, gak bakal tau," bisik Hasan.
Hasan yang melihat Hana tengah berjalan di samping tembok, segera meminta Hana untuk berbalik lagi dengan isyarat tangannya. Kebetulan, posisi Bu Darma membelakangi Ceri. Jadi, Bu Darma tidak tau jika Ceri datang dari samping.
Ceri yang mengerti kemudian berbalik lagi dan berjalan ke arah dapur, lalu menuju gazebo belakang. Hana memilih untuk merebahkan tubuhnya di sana sambil menghirup udara segar yang wangi dengan taman bunga-bunga di sekelilingnya.
"Jadi, owner itu namanya, Bagaskara. Dia itu, pacar Mamah dulu,"
"Apa? Jadi, mamah dulu juga punya pacar?" tanya Hasan.
"Iya, kamu jangan keras-keras dong, nanti, Ceri dengar!" bisik Bu Darma.
"Kamu gak tau perasaan Mamah, Leo! Dulu, waktu tradisi perjodohan mamah, mamah sebenarnya masih menjalin hubungan dengan Bagas. Mamah menyembunyikan hal ini dari suami mamah, dan kedua orang tua kami. Sampai sekarang, meraka juga tidak tau. Mamah memutuskan Bagas secara sepihak. Bagaskara terus mencari Mamah. Dia gak terima. Mamah pikir setelah bertahun-tahun, Bagaskara akan melupakan Mamah. Tapi, kemaren di kantor, ... Hiiihh, Mamah jijik kalo inget kejadian itu," ucapnya sambil bergidik.
Hasan paham dengan kondisi Bu Darma.
"Kalo itu privasi, gak usah di ceritakan, Mah!" ucap Hasan.
"Iya, Leo. Intinya, Bagaskara sampai sekarang, masih mencintai Mamah. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Mamah juga bingung, sebab, dia ingin, anaknya menikah sama Ceri, gila kan dia,"
"Apa? Kenapa harus Ceri lagi, Mah! Dimana-mana, pasti ada Hana, Hana pasti terlibat di dalamnya," ungkap Hasan dengan kesal.
"Iya, makanya Mamah bingung. Ceri kan udah nikah sama kamu. Gak mungkin juga Mamah, ngejodohin Ceri, sama laki-laki lain. Makanya, Mamah itu gak suka sama Bagaskara. Tapi, papah sudah terlanjur menandatangani kerjasama itu. Mamah pusing!" ucap Bu Darma lalu memijit kepalanya.
Hasan terdiam sesaat. Ia tau betapa rumitnya masalah itu untuk Bu Darma.
"Mamah punya pacar dulu, dan sampai sekarang masih mencintainya. Apakah, Miki akan melakukan hal yang sama terhadap, Hana?" batin Hasan.
__ADS_1
"Lalu, siapa Bagaskara itu? Kenapa dia ingin menjodohkan anaknya dengan, Hana?" batin Hasan lagi.
"Bagaskara itu ... Apa dia orang berpengaruh di kota ini, Mah?" tanya Hasan.
"Yah, tentu saja! Dia keturunan HIDDEN Group. Kamu tau kan? Kalo bisa jangan berurusan sama dia lagi. Eh, malah sekarang kecebur. Mama takut, kalo dia bikin ulah. Perusahaan Papah, bisa bangkrut," ujar Bu Darma.
Hasan menganggukan kepalanya tanda mengerti.
"Dia sebenarnya baik, Leo! Tapi, kalo dia ingin sesuatu, dia ngotot. Gak mau menyerah. Mamah takut karena dia masih cinta sama Mamah, dia bisa menjadikan hal ini untuk ancaman. Semoga saja tidak. Tapi, Mamah beneran takut. Semoga, Bagaskara berubah. Benar dia baik, tapi Mamah gak tau sekarang," ujar Bu Darma.
"Mamah tenang aja. Jangan terlalu dipusingkan. Leo bakal bantu Mamah. Untuk saat ini, Mamah lebih baik gak usah ke kantor, kalo ada Bagaskara. Kalo ada apa-apa, Mamah segera hubungi Leo aja, yah!"
"Makasih ya, Leo! Kamu benar-benar baik. Mamah sayang banget sama kamu. Mamah bersyukur bisa memiliki mantu sebaik kamu. Mamah tidak pernah menyesal telah menjodohkan Ceri, dengan kamu," ucap Bu Darma.
Hasan tersenyum dan mengangguk. Ia merasa senang karena Bu Darma begitu sayang dan percaya kepadanya.
Setelah merasa cukup tenang, Bu Darma berpamitan kepada Hasan untuk pergi. Hasan mencari Hana, tapi ia tak kunjung menemukannya.
"Ya udah deh, mungkin, Ceri keluar ke rumah tetangga. Mamah pulang dulu yah, kalo Ceri nakal lagi, bilang sama mama. Biar Mamah, marahin dia," ucap Bu Darma sudah berada di dalam mobil.
"Iya Mah, hati-hati yah,"
"Eh, jangan lupa, pagarnya kamu benerin. Jangan sampai ada orang lain masuk diam-diam ke rumah kamu,"
"Hehehe, iya, Mah!" jawab Hasan sambil menggaruk kepalanya.
"Oh iya, kamu em, jangan berhubungan badan dulu sama Ceri, yah! Kalian masih sekolah. Ntar aja kalo udah lulus," ujar Bu Darma mengingatkan, melihat kejadian di kamar tadi.
"Oh, iya, Mah!" jawba Hasan dengan wajah merah menahan malu.
Bu Darma menyalakan mobil kemudian pergi dari rumah Hasan. Hasan melambaikan tangan ke arah Bu Darma, yang kini sudah menjauh. Hasan kemudian masuk ke dalam untuk mengambil laptop dan menyalakan kembali sensor otomatis di pagarnya. Setelah selesai, Hasan kembali keluar.
"Tutup pagar!" ucap Hasan.
Pagar tertutup kembali secara otomatis. Hasan kembali masuk dan mulai mencari Hana.
"Hana! Han, kamu dimana? Hana ... Kemana sih tuh anak, di kamar juga gak ada. Apa dia pergi ke rumah, Wawan?"
__ADS_1
Hasan menggaruk kepalanya. Hasan lalu melihat pintu belakang terbuka. Hasan kemudian tersenyum. "Oh, pasti di sana tuh anak,"