Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
Oh ... cemburu


__ADS_3

Ketika rombongan sudah siap untuk pulang, satu per satu menuruni bebatuan terjal yang di bawahnya memang langsung jurang. Formasi barisan paling depan ada Raja. Setelahnya Hana, lalu Hasan, Cantika dan Miki.


Raja sudah berhasil turun lebih dulu, lalu gantian Hana. Karena kurang berhati-hati, Hana tergelincir, hampir saja jatuh ke sisi jurang kalo saja Raja tidak cepat-cepat menarik tangannya. "Hanaaaaa!"


Semua orang berteriak kala itu. Hana berhasil di tolong Raja dengan luka sedikit di bagian tangan dan wajah Hana. Namun, saat berhasil di tarik oleh Raja, Raja terjerembab ke belakang dan ikut menarik tubuh Hana ke dalam dekapannya hingga tanpa mereka sadari, bibir mereka saling menyentuh. Hasan yang bergegas sampai di bawah melihat kejadian itu dan ia langsung naik pitam. Hana ditarik dengan kasar waktu itu juga, lalu menggendongnya ala bridal menuruni gunung Pranji. Beban berat di punggung dan dada, tidak Hasan hiraukan yang penting, Hana tidak bersama laki-laki lain.


"San, turunin aku! Aku bisa jalan sendiri, aku gak papa!" ujar Hana yang masih berada dalam gendongan Hasan.


"Kamu berharap yang gendong kamu, Raja?" jawab Hasan dengan sorot mata tajamnya.


Mendengar kalimat yang terlontar begitu saja dari mulut Hasan, Hana tidak berani melakukan protes. Meskipun Hasan terlihat letih dengan nafas tersengal dan keringat terus mengucur dari dahinya, ia sama sekali tak ada niat untuk menurunkan Hana dari gendongannya. Hana hanya bisa pasrah dengan sikap Hasan yang sudah emosi.


***

__ADS_1


Hasan meremas jemarinya sendiri, lalu bangkit mengambil kunci mobil. Hasan menyalakan mobil dan mengejar Hana yang sudah sampai di depan.


Tin tin tin.


Hana yang hendak naik ke dalam taxi, mengurungkan niatnya ketika mobil Hasan berhenti tepat di belakangnya hampir saja menyentuh kakinya.


Hasan membuka jendela mobil, "aku anterin, masuk ke mobil sekarang!" tutur Hasan dengan ekspresi wajah yang masih marah.


"Maaf pak, saya gak jadi naik," tutur Hana kepada sopir taxi. Taxi kemudian melaju kembali. Sementara Hana dengan ekspresi wajah datarnya, masuk ke dalam mobil.


"Seminggu lagi, kita masuk sekolah. Kalo mau nginap di rumah Mamah selama seminggu juga boleh," ucap Hasan kemudian mengemudikan mobilnya ke jalan raya.


"Kamu juga mau ikut nginap?" tanya Hana sambil memandang Hasan.

__ADS_1


"Nggak, aku pulang!" jawab Hasan datar tanpa memandang Hana.


"Kalo masih marah kenapa harus nganterin aku. Aku kan bisa pergi sendiri,"


"Maksud kamu biar kamu bisa bebas ketemu sama Raja, nanti?"


Hana menghela nafas, "ya ampun! Kamu masih suudzon aja sama aku. Kalaupun aku ketemu sama Raja di jalan, itu juga gak disengaja, San! Udahlah kalo masih mau ribut, lebih baik aku turun di sini aja," ucap Hana dengan kesal.


"Kamu berharap supaya Raja datang terus boncengin kamu pake sepeda motornya?" Hasan semakin emosi ketika Hana menyuruh untuk menurunkannya di pinggir jalan.


"Astaghfirulloh! Kamu ini kenapa sih, San? Aku minta maaf udah, tapi kamu masih aja marah sama aku. Jangan-jangan kamu mau nganterin aku karena kamu mau ngadu sama Mamah, biar aku dimarahin, iya!"


Hasan menyunggingkan senyum. "Harusnya kamu tau, aku bersikap kaya gini karena aku cemburu, CEMBURU HANA!" Hasan berkata dengan nada penuh penekanan.

__ADS_1


Hana terdiam sejenak melirik Hasan dengan wajah merah padamnya. Hana menahan senyum dengan mengapit kedua bibirnya sendiri. "Oh, jadi cemburu! Kenapa gak bilang dari awal. Tapi, aku senang jika kamu cemburu sama aku, San. Artinya, kamu benar-benar sayang sama aku," ucap Hana dalam hatinya.


__ADS_2