
Hasan tersenyum sambil menggaruk kepalanya. Ia sebenarnya ingin ditemani oleh Hana. Tapi ia gengsi ingin mengungkapkan keinginannya.
"Besok aku anterin kamu sekolah yah!"
"Kamu kan belom sembuh,"
"Pasti sembuh koq,"
"Jangan maksain deh. Kamu mau tambah parah sakitnya? Tenang aja, aku gak nebeng Raja lagi koq,"
"Em, ngomongin soal Raja, kamu tadi pulang sekolah dianterin lagi sama dia?"
"Emm, nggak, aku naek angkot koq, San,"
"Serius? Jangan bohong loh. Aku gak mau hubungan yang suci ini kamu nodai dengan kebohongan, Han!" ucap Hasan dengan wajah seriusnya.
Hana teridam sesaat. Ada rasa takut dalam hatinya jika ia harus jujur ataupun bohong kepada Hasan. Tapi, Hana sendiri tak suka dengan kebohongan. Meskipun Hasan nantinya marah lagi, Hana berniat untuk terus terang kepada Hasan.
"Koq kamu diem! Pertanyaan aku bener yah! Jawab aku jujur, Han!"
"Aku gak bohong koq, San! Aku pulangnya beneran naik angkot, cuman ... Raja ngikutin aku sampe rumah," jawab Hana pelan.
"Apa! Ngikutin kamu sampe rumah?" tanya Hasan mendelik.
Hana kemudian meletakan baskom di meja kembali. Ia berjalan dan duduk di tepi ranjang Hasan.
"Kamu jangan marah ya, San!"
"Oh, jadi itu sebabnya kamu dateng bareng sama Mamah Darma?" tanya Hasan menahan rasa kesal. Ia meremas sepray kasurnya.
"Iya, makanya tadi aku naik angkot ping pulang ke rumah Mamah dulu. Tapi, tunggu-tunggu, kamu nanya aku kayak gini, sebab kamu cemburu? Iya?" tanya Hana hati-hati.
"Idih, apaan sih kamu! Aku nanya kayak gini karena aku itu khawatir sama kamu. Kamu kan belum kenal lama sama Raja. Kamu harus hati-hati, Han!" ucap Hasan.
"Iya, makasih ya San, atas perhatiannya. Tapi kamu tenang aja, Raja orangnya baik koq, meskipun nyebelin,"
"Kamu gak bisa nyimpulin orang itu baik kalo kamu belum kenal lama sama dia,"
"Setiap orang punya cara perkenalan yang berbeda-beda, San! Kayak aku ketemu sama kamu dulu, waktu pertama, aku udah bisa nilai kamu baik, demikian juga dengan Ra ...."
"Tapi itu aku, Han. Aku itu beda, jangan dibandingin sama Raja," jawab Hasan manyun dan melipat tangan di dada.
Hana menggelengkan kepalanya. Hasan benar-benar terlihat seperti anak kecil jika sedang ngambek.
__ADS_1
"Tau ah, San! Aku mau belajar, kamu buruan istirahat gih, jangan panggil-panggil aku lagi," ucap Hana.
Hana berdiri dan segera mengambil baskom lalu keluar dengan cepat.
"Nyebelin banget sih tuh anak! Masa aku dibandingin kayak Raja. Yang bener aja dong!" gumam Hasan kesal.
Sementara itu di rumah Raja, ada Cantika yang tengah bermain. Kebetulan, rumahnya hanya beda blok saja. Cantika merupakan anak dari adiknya papahnya Raja.
Cantika sengaja datang ke rumah Raja hanya untuk menanyakan soal Hana.
"Ja, siang tadi aku liat kamu ngikutin cewek sok kecakepan itu. Kamu naksir sama dia ya?" tanya Cantika menyelidik.
Raja tersenyum mendengar ucapan Cantika. Ia mengacak rambutnya yang sudah berantakan supaya tambah berantakan.
"Owh, aku tau sekarang! Jadi, cewek dari SMP yang jadi rival kamu itu, Hana?" tanya Raja sambil masih mengembangkan senyum.
"Iya, dia tuh cewek yang selalu ngambil apa yang aku suka, Ja!"
"Aduh, aku sebenernya males banget ngurusin masalah kamu yang gak jelas. Masalah kamu sebenernya cuman satu, Tik! Kamu itu iri. Kamu gak suka kalo ada yang nyaingin kamu,"
"Ih, kamu dari dulu emang ngeselin yah, gak pernah berubah gak pernah mihak aku, meskipun aku sodara kamu!" seru Cantika dengan wajah cemberut.
"Hahahaha, kamu aneh sih," jawab Raja sambil mengacak rambut Cantika.
"Udah lah Cantika. Kamu itu juga cewek cantik, pasti banyak juga yang suka sama kamu. Tapi saran aku, sifat kamu harus diubah. Oke! Aku masuk kamar dulu yah, mau tidur bye," Raja tersenyum lalu bangkit dari sofa meninggalkan Cantika dengan wajah kesalnya.
Cantika meremas bantal sofa hingga lecek namun bantal itu kembali ke posisi semulanya.
Ke esokan harinya, Hasan bangun lebih awal. Dia sudah merasa lebih baik. Hasan meraih handuk dan mulai berjalan ke dapur untuk memasak air panas. Maklum, ia belum sempat membuat kran otomatis penghangat air. Jadi, Hasan harus memasak secara manual.
Setelah selesai mandi, ia mengenakan seragam dan merapihkan rambutnya. Hasan mengambil buku catatan matematikanya, dan mulai mempelajari kisi-kisi ulangan hari ini. Setelah puas belajar, Hasan melirik jam, dan ternyata sudah jam lima. Hasan bergegas menuju kamar Hana untuk membangunkannya.
Hasan memegang gagang pintu dan mulai menekan ke bawah.
Ceklek.
"Gak dikunci ternyata," gumam Hasan.
Hasan lalu masuk ke dalam dan mendapati Hana yang masih tidur terlentang dengan wajah ditutup menggunakan buku.
Hasan tersenyum sambil melipat kedua tangan di dadanya.
"Kamu belajar sangat keras, Han!" gumam Hasan.
__ADS_1
Hasan kemudian melangkahkan kakinya menuju ranjang Hana. Ia duduk di tepi, dan mulai mengambil buku yang menutupi wajah Hana.
"Hana, bangun, Han ... Udah pagi nih, subuh subuh!" Hasan menggoncang tubuh Hana.
Hana hanya menggeliat lalu memeluk tangan Hasan sambil mengigau.
"Mamaaahh, aku gak mau dijodohin, Mah!" ucap Hana dengan mata terpejam.
"Ih, apa-an sih ini anak! Hey bangun, Hana!" ucap Hasan sambil menepuk pipi Hana yang kenyal.
Saking gemasnya, Hasan memainkan kedua pipi Hana dengan kedua tangannya.
Hana akhirnya tersadar, ia segera bangkit ketika melihat Hasan yang sudah berada di kamarnya.
"Astaghfirulloh! Kamu ngapain di kamar aku, San!" tanya Hana beringsut mundur dan memeluk dirinya sendiri.
"Bangunin kamu lah! Ini udah subuh tau," jawab Hasan datar.
"Masa!" Hana menengok arloji, dan benar sudah jam lima.
"Koq kamu udah bangun duluan, dah pake seragam lagi. Kamu udah baikan emangnya?" tanya Hana sambil menempelkan telapak tangannya di dahi Hasan.
Hasan dengan cepat menepis tangan Hana.
"Aku udah sembuh. Kita berangkat pagi hari ini. Buruan mandi sana, jangan lupa sholat!" perintah Hasan sambil berlalu dari kamar Hana.
"Tapi badan kamu masih anget, San!" teriak Hana.
"Udah buruan mandi," teriak Hasan sambil menutup pintu.
Hana yang masih setengah mengantuk segera menyergap handuk yang digantung di pintu lemari. Ia keluar dari kamar dan mencari keberadaan Hasan.
Hana melihat Hasan yang sedang belajar di meja makan, ia kemudian memilih menghampiri Hasan sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
"Kamu tadi mandi pake air anget apa air dingin?" tanya Hana sambil memperhatikan raut wajah Hasan yang masih fokus belajar.
"Anget lah. Bisa greges aku, mandi pake air dingin," jawab Hasan tanpa beralih dari bukunya.
"Aduh, maafin aku ya, San, kamu masak sendiri airnya," ucap Hana merasa bersalah.
Hasan berhenti belajar dan menutup bukunya. Ia kemudian menatap Hana yang kini tengah menatapnya.
"Gak papa, udah sekarang kamu mandi yah, sayang!" ucap Hasan dengan nada di tekankan dan tersenyum yang dibuat-buat.
__ADS_1
"Eh, sa-sa-sayang?" Hana menjadi kikuk dan salah tingkah.
Hana merasa kalau Hasan tengah kesal pada dirinya. Tetapi, ia juga sedikit canggung karena dipanggil sayang.